REPRESENTASI MARXISME DALAM FILM SEJARAH (KajianSemiotika John Fiske Pertentangan Kelas Sosial Pada Film Guru Bangsa Tjokroaminoto)

  • Catur , Nugroho, S.sos,. M.Ikom Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Universitas Telkom
  • Aisyah Nurul K Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Universitas Telkom

Abstract

Film adalah bahasa audio visual yang merekam realitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, dan kemudian memproyeksikan dan merepresentasikannya ke dalam layar lebar. Representasi yang ada dalam sebuah film tak selamanya dapat dilihat secara langsung oleh penonton. Terdapat pesan dan ideologi pembuat film yang seringkali luput dari mata telanjang publik. Film Guru Bangsa Tjokroaminoto merupakan salah satu film biografi sejarah yang menceritakan tentang perjuangan Tjokroaminoto untuk melawan kebijakan pemerintah Hindia Belanda serta menghapuskan kesenjangan sosial dalam kehidupan masyarakat saat itu. Dalam film ini terselip banyak pesan dan ideologi tentang masalah sosial, politik, ekonomi dan budaya yang terjadi pada masa penjajahan di negeri ini. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, tertarik untuk menganalisis representasi yang tersirat dari film sejarah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana representasi ideologi marxisme khususnya pertentangan kelas sosial ditampilkan melalui unsur kostum serta dialog. Fokus dari penelitian ini yaitu bagaimana representasi pertentangan kelas sosial melalui unsur sinematik film mise en scene berupa kostum dan unsur suara berupa dialog. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pisau analisis semiotika John Fiske, yang didukung dengan teori-teori kritis. Hasil penelitian didapatkan representasi ideologi marxisme dalam film ini, khususnya pertentangan kelas social. Representasi marxisme ini divisualisasikan dengan perbedaan kostum yang dipakai para pemain, serta dialog-dialog yang menekankan adanya pertentangan kelas sosial.Visualisasi perbedaan kostum ini memperlihatkan secara jelas bagaimana pertentangan kelas yang ada dalam film ini. Di dalam film ini ditampilkan bahwa kaum proletar tidak banyak melakukan dialog, kaum proletar sebagai kelas sosial bawah ditampilkan hanya menuruti perintah tuannya dan hampir tidak memiliki hak untuk menyampaikan pendapatnya. Kata kunci: Representasi, Marxisme, Film Sejarah, Semiotika John Fiske, Kelas Sosial

References

Ardianto, E. (2007). Komunikasi Massa: Suatu Pengantar (Edisi Revisi). Bandung:

Simbiosa Rekatama Media.

Baylis, J., & Smith, S. (2001). The Globalization of World Politics. New York: Oxford

University Press.

Fiske, J. (2011). Cultural and Communication Studies: Sebuah Pengantar Paling

Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.

Hall, S. (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices.

Walton Hall: The Open University.

Ibrahim. (2015). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Magnis-Suseno, F. (2001). Pemikiran Karl Marx dari Sosialisme Utopis ke

Perselisihan Revisionisme . Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Pratista, H. (2008). Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka.

Pujileksono, S. (2015). Metode Penelitian Komunikasi Kualitatif. Malang: Intrans

Publishing.

Sobur, A. (2013). Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Suryajaya, M. (2016). Teks-teks Kunci Filsafat Marx. Yogyakarta: Resist Book.

Vera, N. (2015). Semiotika dalam Riset Komunikasi (Cetakan Kedua). Bogor: Ghalia

Indonesia.

Wibowo, I. S. (2013). Semiotika Komunikasi - Aplikasi Praktis Bagi penelitian dan

Skripsi Komunikasi (Edisi Kedua). Jakarta: Mitra Wacana Media.

http://www.bintang.com/celeb/read/2578567/10-film-kemerdekaan-indonesia-yangmembangkitkan-nasionalisme (diakses pada 6 September 2016, pukul 13:00)

http://www.imdb.com/title/tt4713884/ (diakses pada 10 November 2016, pukul 11:52)

https://twitter.com/badanperfilman/status/595462873322631169 (diakses pada 10

November 2016, pukul 12:00)

Published
09-04-2021