KERANCUAN YURIDIS KEWENANGAN PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PERSPEKTIF OTONOMI DAERAH
DOI:
https://doi.org/10.30996/dih.v9i17.247Abstract
Terbitnya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, merupakan konsekuensi konstitusional dari amandemen UUD 1945, khususnya pasal 18 ayat (5) yang menetapkan: “Pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusatâ€. Amanat UUD 1945 diatas, ditindaklanjuti dengan menuangkannya dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, khususnya pasal 10, 13, dan pasal 14. Ketentuan Pasal 10 ayat (3) menetapkan rincian urusan pemerintahan yang menjadi wilayah kewenangan pemerintah pusat, sementara ketentuan pasal 13 dan 14 menetapkan rincian urusan pemerintahan yang menjadi hak, kewajiban dan tanggung jawab pemerintah daerah propinsi, kabupaten dan kota, yang salah satunya adalah tentang pengendalian lingkungan hidup. Berpedoman pada ketentuan di atas, maka tanggung jawab pengendalian lingkungan hidup menjadi salah satu urusan wajib pemerintah daerah. Sedangkan menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, tanggung jawab pengelolaan dan pengendalian lingkungan hidup, sepenuhnya menjadi wewenang Pemerintah Pusat.
Key word : pengelolaan lingkungan hidup, otonomi daerahDownloads
References
Blaxter, L., Hughes, C and Tight, M. 1996. How to Research. Throwbridge: Reedwood Books.
Burgers, P. S. 1946. Voorlopige Manggaraische Spraak Kunst. Netherlandsch: Unit de Bijdragen Tot Detaal Land-Envolkenkunde.
Crystal, D. 1987. The Cambridge Encyclopedia of Language. Cambridge: CUP.
Dinneen, F.P. 1967. An Introduction to General Linguistics. Cambridge; CUP.
Erb, M. 1999. The Manggaraians: A Guide to Traditional Lifestyles. Subang: Times Edition.
Francis, W. N. 1958. The Structure of American English. New York: Ronald Press.
Fromkin, V. 1983. An Introduction to Language. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Giegerich, H.J. 1992. English Phonology: An Introduction. Cambridge: CUP.
Gleason, H.A. 1961. An Introduction to Descriptive Linguistics. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Harris, J. 1994. English Sound Structure. Cambridge: CUP.
Hemo, D. 1990. Ungkapan Bahasa Manggarai. Ende: Percetakan Arnoldus.
Holmes, J. 1992. An Introduction to Sociolinguistics. New York: Longman.
Jacobson, R., Fant, C.G.M., and Halle, M. 1963. Preliminaries to Speech Analysis: The Distinctive Features. Cambridge: MIT Press.
Jones, D. 1972. An Outline of English Phonetics. Cambridge: CUP.
Konfrida, F. 2001. A Study of Sikkanese Consonant Phonemes. S1 Thesis. University of 17 Agustus 1945 Surabaya.
Malmkjaer. K. 1991. The Linguistics Encyclopedia. London: Routledge.
Marsono. 1999. Fonetik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Mustika, I.W. 2002. Fonologiu Bahasa Manggarai Dialek Manggarai Tengah: Sebuah Kajian Transformasi Generatif. Denpasar: University of Udayana.
O’Connor, J.D. 1973. Phonetics. London: Penguin Books.
Verheijen, A.J. 1970. Kamus Manggarai. Netherlandsch Koninklijk Instituut Voortal Land-Envolkenkunde.
Undang-undang Nomor 5 Tahun l986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara
Downloads
Published
Issue
Section
License
Authors who publish with DiH: Jurnal Ilmu Hukum agree to the following terms:
- Authors transfer the copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a CC BY-SA 4.0 that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access)




