Redefinisi Frasa Kepentingan Umum Atas Pengelolaan Tanah Masyarakat Adat Berdasar-kan Pendekatan Konsep Welfare State

Authors

  • Jerry Watumlawar Universitas Surabaya
  • Heru Saputra Lumban Gaol Universitas Surabaya

DOI:

https://doi.org/10.30996/dih.v19i1.6629

Abstract

Indonesia as a developing country requires maximum infrastructure development for the public interest or in other words for the realization of people's welfare. Indigenous peoples' land which is used as the object of infrastructure development without prior approval can result in violation of the rights of indigenous peoples. By using a normative juridical method, this research focuses on reviewing the approval of indigenous peoples whose land is the object of infrastructure development in the public interest. This then becomes important because to what extent is the definition of public interest formulated in the phrase the interests of the State and common interests often lead to prolonged conflicts. The redefinition of public interest by using the concept of the welfare state approach is then deemed relevant for the creation of a responsive land law politics.

Keywords: culture; development infrastructure; public interest

Abstrak

Indonesia sebagai negara berkembang memerlukan pembangunan infrastruktur yang maksimal demi kepentingan umum atau dengan kata lain demi mewujudkan kesejaheraan rakyat. Tanah masyarakat adat yang dijadikan objek pembangunan infrastruktur tanpa adanya persetujuan terlebih dahulu dapat menimbulkan pencideraan hak masyarakat adat. Dengan menggunakan metode yuridis normatif, peneltian ini fokus mengkaji terkait persetujuan dari masyarakat hukum adat yang tanahnya dijadikan objek dalam pembangunan infrastruktur demi kepentingan umum. Hal ini kemudian menjadi penting karena sejauh apa definisi kepentingan umum yang dirumuskan dalam frasa kepentingan Negara dan kepentingan bersama itu sering kali meimbulkan konflik berkepanjangan. Redefinisi kepentingan umum dengan menggunakan pendekatan konsep welfare state kemudian dianggap relevan untuk tercipata politik hukum pertanahan yang responsif.

Kata kunci: kepentingan umum; masyarakat adat; pembangunan infrastruktur

Downloads

Download data is not yet available.

References

Barros, A. S. (2017). Subjective Well-Being (Sb) And Burnout Syndrome (Bns): Correlational Analysis Teleworkers Education Sector . Procedia - Social And Behavioral Sciences, 1012- 1018.

Carver, C. (1997). You Want To Measure Coping But Your Protocol's Too Long: Consider The Brief Cope. International Journal Of Behavioral Medicine, 92-100.

Carver, C. S., Scheier, N. F., & Weintraub, J. K. (1989). Assessing Coping Strategies. Journal Of Personality And Social Psychology, 267-283.

Gaol, N. T. L. (2016). Teori stres: stimulus, respons, dan transaksional. Buletin psikologi, 24(1), 1-11.

Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, Appraisals, And Coping. Springer Publishing Company.

RR. Meiti Asmorowati, “Konsep Kepentingan Umum Dalam Pengadaan Tanah Dihubungkan Dengan Kepastian Hukum”, 2020.

V. Hadiyono, “Indonesia dalam Menjawab Konsep Negara Welfare State dan Tantangannya”, Semarang: Universitas Katolik Soegijapranata, Jurnal Hukum Politik dan Kekuasaan, Volume 1 Nomor 1, 2020.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria.

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.

Herman, “KPA Catat 207 Konflik Agraria Sepanjang 2021”, https://www.beritasatu.com/ekonomi/875603/kpa-catat-207-konflik-agraria-sepanjang-2021 (sabtu, 19/02/2022, pukul 14:00 WIB)

CNN (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200427200605-20-497847/konflik-agraria-klhk-memihak-warga-jika-ada-bukti-tanah-adat) diakses pada tanggal 26 Mei 2022

Downloads

Published

2023-02-27

Issue

Section

Articles