https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/issue/feed JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia 2025-12-12T03:43:38+00:00 Andik Matulessy jiwa@untag-sby.ac.id Open Journal Systems <p><strong>JIWA: Indonesian Journal of Psychology</strong>&nbsp;is a peer-reviewed journal published by the Faculty of Psychology, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia journal is published every September, December, Maret, and June. JIWA: Indonesian Journal of Psychology gives readers access to download articles for free. JIWA: Indonesian Journal of Psychology accepts articles in the field of psychology and is not limited to educational, developmental, clinical, industrial, and organizational psychology</p> https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12843 Peran Kecemasan Sosial terhadap Kecanduan Sosial Media pada Remaja Awal 2025-01-24T10:24:34+00:00 Danu Dwi Prasetyo danuprasetyo814@gmail.com Sahat Saragih sahat@untag-sby.ac.id Eko April Ariyanto eko_ariyanto@untag-sby.ac.id <p>Abstract <br />Social anxiety factors are usually experienced in life because of addiction to playing social <br />media. The use of social media continues to increase among early adolescents along with the <br />development of technology, The research design used in this study uses a quantitative method <br />that goes through a cross-sectional approach. This study uses a simple regression analysis <br />with the help of SPSS version 22. This study uses a correlational approach to test the <br />relationship of the variables proposed to the hypothesis. Based on the results of the research <br />that has been carried out, it can be concluded that there is a significant positive relationship <br />between social anxiety and social media addiction in early adolescence with a <br />correlation/relationship value (R) of 0.711 and a coefficient of determination (R Square) of <br />0.505 which means that the social anxiety variable can reduce the social media addiction <br />variable in early adolescence by 50.5%. <br />Keywords: Social Media Addiction; Social Anxiety <br />Abstrak <br />Factor kecemasan sosial biasanya yang sering dialami dikehidupan karena kecanduan <br />bermain sosial media. Penggunaan sosial media terus meningkat di kalangan remaja awal <br />seiring perkembangan teknologi, Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini <br />menggunakan metode kuantitatif yang melalui pendekatan cross-sectional. Penelitian ini <br />memakai analisis regresi sederhana dengan bantuan SPSS versi 22. Penelitian ini memakai <br />pendekatan korelasional untuk menguji hubungan variabel yang diajukan pada hipotesis. <br />Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan yaitu terdapat hubungan <br />positif yang signifikasi antara kecemasan sosial dengan kecanduan sosial media pada remaja <br />awal dengan nilai korelasi/hubungan (R) sebesar 0,711 dan koefisien determinasi (R Square) <br />adalah 0,505 yang berarti bahwa variabel kecemasan sosial dapat menurunkan variabel <br />kecanduan sosial media pada remaja awal sebesar 50,5%. <br />Kata kunci: Kecanduan Sosial media; Kecemaan Sosial</p> 2025-12-12T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12850 Peran Penerimaan Diri dalam Meningkatkan Kebahagiaan Remaja Jalanan 2025-01-25T00:35:23+00:00 Eurika Agustina Maharani eurikagustinamaharani@gmail.com Tatik Meiyuntariningsih tatikmeiyun@untag-sby.ac.id Akta Ririn Aristawati eurikagustinamaharani@gmail.com <p>Abstract<br />This study aims to analyze the relationship between self-acceptance and happiness in street adolescents. The approach used in this study is a quantitative approach. The study sample consisted of adolescents between the ages of 12 and 18 years. Data collection was carried out using the Likert scale which includes a scale of self-acceptance and happiness. To analyze the data, the Product Moment correlation method is used. The results of the analysis showed a correlation coefficient (r) of 0.995 with a significance value of p = 0.001 which was smaller than 0.005. These findings indicate a significant positive relationship between self-acceptance and happiness in street adolescents. Thus, the hypothesis proposed in this study is acceptable.<br />Keywords: Happiness, self-acceptance, street youth<br />Abstrak<br />Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara penerimaan diri dan kebahagiaan pada remaja jalanan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian terdiri dari remaja berusia antara 12 hingga 18 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala Likert yang meliputi skala penerimaan diri dan kebahagiaan. Untuk menganalisis data, digunakan metode korelasi Product Moment. Hasil analisis menunjukkan koefisien korelasi (r) sebesar 0,995 dengan nilai signifikansi p = 0,001 yang lebih kecil dari 0,005. Temuan ini mengindikasikan adanya hubungan positif yang signifikan antara penerimaan diri dan kebahagiaan pada remaja jalanan. Dengan demikian, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat diterima.<br />Kata kunci: Kebahagiaan,penerimaan diri, remaja jalanan</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12852 Kesejahteraan Psikologis dan Perilaku Pengidolaan Pada Gen Z Penggemar K-Wave 2025-01-25T11:21:41+00:00 Meldini Syah Rian Nisti meldinisyah.rn@gmail.com Suroso meldinisyah.rn@gmail.com Isrida Yul Arifiana meldinisyah.rn@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>K-wave, or Hallyu, is a cultural phenomenon from South Korea that encompasses music, film, drama, language, cosmetics, and fashion, which has spread globally. Most of its fans are females aged 15-25, who make K-wave a part of </em><em>fan’s</em><em> personal identity. This phenomenon often involves </em><em>celebrity worship</em><em> , which can have positive effects, such as enhancing self-care, stress management, and life satisfaction, all of which are related to </em><em>psychological well-being</em><em>. This quantitative study involves 358 K-wave fans in Indonesia, with 192 respondents meeting the sample criteria. Data were collected through questionnaires on </em><em>psychological well-being</em><em> and </em><em>celebrity worship</em><em> . The analysis results show a significant positive relationship between the two variables (rxy = 0.341; p &lt; 0.01), where fans who engage in healthy </em><em>celebrity worship</em><em> tend to feel more connected to the culture and celebrities </em><em>fan’s</em><em> admire, thereby strengthening various dimensions of </em><em>psychological well-being</em><em> .</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong> <em>Celebrity Worship; </em><em>Generation Z</em><em>; </em><em>K-wave; </em><em>Pscyhological Well-being .</em></p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><em>K-wave, atau Hallyu, adalah fenomena budaya Korea Selatan yang mencakup musik, film, drama, bahasa, kosmetik, dan fashion, yang telah mendunia. Sebagian besar penggemarnya adalah perempuan berusia 15-25 tahun yang menjadikan K-wave bagian dari identitas diri. Fenomena ini sering melibatkan pengidolaan terhadap selebriti , yang dapat memberikan dampak positif, seperti meningkatkan self-care, manajemen stres, dan kepuasan hidup, yang berhubungan dengan kesejahteraan psikologis . Penelitian kuantitatif ini melibatkan 358 penggemar K-wave di Indonesia, dengan 192 responden yang memenuhi kriteria sampel. Data dikumpulkan melalui kuesioner mengenai kesejahteraan psikologis dan pengidolaan terhadap selebriti . Hasil analisis menunjukkan hubungan positif signifikan antara kedua variabel (rxy = 0,341; p &lt; 0,01), di mana penggemar pengidolaan terhadap selebriti yang sehat cenderung merasa lebih terhubung dengan budaya dan selebriti yang </em><em>individu</em><em> kagumi, serta memperkuat dimensi kesejahteraan psikologis .</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em> Pengidolaan terhadap selebriti ; Generasi Z; K-wave; Kesejahteraan psikologis .</em></p> 2025-12-12T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12856 Hubungan Konsep Diri dan Dukungan Sosial dengan Psychological Well-Being pada Mahasiswa Semester Akhir 2025-01-26T15:11:10+00:00 Satya Ananda Ratmo ratmotya@gmail.com Sahat Saragih sahat@untag-sby.ac.id Yanto Prasetyo ratmotya@gmail.com <p>Abstract<br />Final semester students transitioning from education to the workforce face various challenging aspects of life, leading to high levels of stress that negatively impact their psychological well-being. Psychological well-being is understood as a condition in which individuals are free from psychological pressure. The aim of this research is to examine whether there is a relationship between self-concept and social support with psychological well-being among final semester students, both partially and simultaneously. The study population consists of final semester students from the psychology faculty at Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, with a total of 312 respondents. The approach used is a correlational quantitative approach employing three measurement tools: Ryff’s Psychological Well-Being Scale, Self Concept Scale, and The Multidimensional Scale of Perceived Social Support. The results of the study indicate a significant relationship between self-concept and social support with psychological well-being among final semester students. Specifically, the self-concept variable shows a significant positive relationship with psychological well-being, while the social support variable also exhibits a significant positive relationship with psychological well-being.<br />Keywords: social support, self-adjustment, psychological well-being, final semester students.<br />Abstrak<br />Mahasiswa semester akhir yang mengalami transisi dari dunia pendidikan ke dunia pekerjaan melalui berbagai aspek kehidupan yang menantang mengalami tingkat stres tinggi yang berdampak negatif pada psychological well-beingnya. Psychological well-being dimaknai sebagai kondisi dimana individu terbebas dari tekanan psikologis. Tujuan penelitian ini untuk menguji apakah ada hubungan antara konsep diri dan dukungan sosial dengan psychological well- being pada mahasiswa semester akhir, baik secara parsial maupun secara simultan. Populasi penelitian adalah mahasiswa semester akhir fakultas psikologi di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, dengan jumlah responden penelitian sebanyak 312 mahasiswa. Pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan kuantitatif korelasional dengan menggunakan 3 (tiga) alat ukur, yaitu Ryff’s Psychological Well-Being Scale, Self Concept Scale, dan The Multidimensional Scale of Perceived Social Support Scale. Hasil penelitian secara simultan menunjukkan adanya hubungan yang signifikan variabel konsep diri dan dukungan sosial dengan psychological well-being pada mahasiswa akhir. Secara parsial variabel konsep diri dengan psychological well-being menunjukkan hasil yang signifikan dengan arah yang positif dan variabel dukungan sosial dengan psychological well-being menunjukkan hasil yang signifikan dengan arah yang positif.<br />Kata kunci: dukungan social, Konsep diri, psychological well-being, mahasiswa baru.</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12859 Perilaku Self-Injury pada Remaja: Dampak Religiusitas dan Dukungan Sosial dalam Proses Coping 2025-01-27T06:56:03+00:00 Shessa Alzuhra Putri Wibowo shessaa06@gmail.com Amanda Pasca Rini shessaa06@gmail.com Nindia Pratitis shessaa06@gmail.com <p><em> </em></p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>This study aims to examine the relationship between religiosity and social support on self-injury behavior among adolescents. It involved 176 adolescents aged 12–24 years who have engaged in or are currently engaging in self-injury behaviors. Data were collected through questionnaires assessing levels of religiosity, social support, and self-injury behavior. Partial correlation tests revealed that religiosity and social support have a significant negative influence on self-injury behavior, with t-scores of -5.059 and -6.831, respectively (p &lt; 0.05). This indicates that the lower the level of religiosity and social support received by adolescents, the higher their tendency to engage in self-injury. Multiple regression analysis revealed an R-square value of 0.445, indicating that religiosity and social support collectively explain 44.5% of the variation in self-injury behavior. The F-test yielded a value of F = 4.749 with a significance of 0.010 (p &lt; 0.05), confirming that these two variables are predictors of self-injury behavior. Additionally, the study found that religiosity contributes 18.26% and social support contributes 24.70% to the variation in self-injury behavior, with a total contribution of 42.96% (R Square). These findings highlight the significant role of both variables in influencing self-injury behavior.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Self-Injury, Religiosity, Social Support, Adolecents, Correlations</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><em>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara religiositas dan dukungan sosial terhadap perilaku melukai diri pada remaja. Penelitian ini melibatkan 176 remaja berusia 12–24 tahun yang telah atau sedang melakukan perilaku melukai diri. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang menilai tingkat religiositas, dukungan sosial, dan perilaku melukai diri. Uji korelasi parsial menunjukkan bahwa religiositas dan dukungan sosial memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap perilaku melukai diri, dengan t-score masing-masing -5.059 dan -6.831 (p &lt; 0.05). Ini menunjukkan bahwa semakin rendah tingkat religiositas dan dukungan sosial yang diterima oleh remaja, semakin tinggi kecenderungan mereka untuk melakukan perilaku melukai diri. Analisis regresi berganda menunjukkan nilai R-square sebesar 0.445, yang berarti religiositas dan dukungan sosial secara kolektif menjelaskan 44.5% variasi dalam perilaku melukai diri. Uji F menghasilkan nilai F = 4.749 dengan signifikansi 0.010 (p &lt; 0.05), mengonfirmasi bahwa kedua variabel ini adalah prediktor perilaku melukai diri. Selain itu, penelitian menemukan bahwa religiositas menyumbang 18.26% dan dukungan sosial menyumbang 24.70% terhadap variasi perilaku melukai diri, dengan total kontribusi sebesar 42.96% (R Square). Temuan ini menyoroti peran signifikan kedua variabel dalam mempengaruhi perilaku self-injury.</em></p> <p><em> </em></p> 2025-12-12T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12855 Peran Kepribadian Hardiness dan Dukungan Sosial dalam Mengatasi Academic Burnout pada Pelajar 2025-01-26T13:14:37+00:00 Annisa Fitriana Wulandari annisawulandari354@gmail.com Amanda Pasca Rini amanda@untag-sby.ac.id Nindia Pratitis nindia@untag-sby.ac.id <p>Abstract<br />The purpose of this study was to determine the relationship between academic burnout with hardiness personality and social support in Surabaya students. This study used a quantitative correlational strategy. The total respondents were 180 people and the research participants were Surabaya students aged between 13 and 18 years. The method used was the quota sampling approach. The tools used in this study were the tough personality scale, the social support scale, and the academic burnout scale. The data analysis method used in this study was multiple linear regression. The initial hypothesis was rejected because the results of the multiple regression analysis showed no correlation between academic burnout and social support or hardiness personality. The second hypothesis was rejected based on the results of the partial test which showed no substantial negative correlation between academic burnout and hardiness personality. Based on the results of the partial test, academic burnout and social support have a substantial negative relationship, thus supporting the third hypothesis.<br />Keywords: Academic Burnout; Personality Hardiness; Social Support; Students.<br />Abstrak<br />Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara academic burnout dengan kepribadian hardiness dan dukungan sosial pada mahasiswa Surabaya. Penelitian ini menggunakan strategi korelasional kuantitatif. Total responden sebanyak 180 orang dan partisipan penelitian adalah mahasiswa Surabaya yang berusia antara 13 sampai 18 tahun. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuota sampling. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kepribadian tangguh, skala dukungan sosial, dan skala academic burnout. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda. Hipotesis awal ditolak karena hasil analisis regresi berganda menunjukkan tidak ada korelasi antara academic burnout dengan dukungan sosial atau kepribadian hardiness. Hipotesis kedua ditolak berdasarkan hasil uji parsial yang menunjukkan tidak ada korelasi negatif yang substansial antara academic burnout dengan kepribadian hardiness. Berdasarkan hasil uji parsial, academic burnout dan dukungan sosial memiliki hubungan negatif yang substansial, sehingga mendukung hipotesis ketiga.<br />Kata kunci: Academic Burnout, Kepribadian Hardiness, Dukungan Sosial, Pelajar</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12862 Work Engagement pada Guru: Bagaimana Peranan Stress Kerja dan Resiliensi? 2025-01-27T11:47:01+00:00 Assyifa Rizqiyah Mufti assyifarizqiyahmufti09@gmail.com Diah Sofiah assyifarizqiyahmufti09@gmail.com Yanto Prasetyo assyifarizqiyahmufti09@gmail.com <p>Abstract<br />This study aims to determine the relationship between job stress and resilience with work engagement in teachers at the Attarbiyah Surabaya College Foundation. This research is a type of quantitative research using multiple regression analysis research. The subjects in this study were 123 teachers at the Attarbiyah Surabaya College Foundation. The data collection method was carried out through distributing questionnaires using a Likert scale. The results obtained simultaneously show a coefficient of 18,313 with a significance of 0.000 &lt;0.01, which means that there is a positive relationship between job stress and resilience with work engagement. The results obtained in partial regression of work stress with work engagement show a coefficient of -2.178 with a significance of 0.031 &lt;0.05 which means that the lower the work stress, the higher the work engagement, in partial regression between resilience and work engagement shows a coefficient of 4.757 with a significance of 0.000 &lt;0.05 which means<br />that the higher the resilience, the higher the work engagement.<br />Keywords: Work stress, Resilience, Work Engagement, Attarbiyah College Foundation<br />Abstrak<br />Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stress kerja dan resiliensi dengan work engagement pada guru di Yayasan perguruan Attarbiyah Surabaya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan penelitian analisis regresi berganda . Subjek dalam penelitian ini sebanyak 123 Guru di Yayasan perguruan Attarbiyah Surabaya. Metode pengumpulan data yang dilakukan melalui penyebaran kuesioner meggunakan skala likert. Adapun hasil yang diperoleh secara simultan menunjukkan koefiesien 18.313 dengan signifikansi 0.000 &lt;0.01 yang artinya terdapat hubungan positif antara stres kerja dan resiliensi dengan work engagement. Adapun hasil yang diperoleh secara regresi parsial stress kerja dengan work engagement menunjukkan koefisien -2.178 dengan signifikansi 0.031 &lt; 0.05 yang artinya rendah stress kerja maka semakin tinggi work engagement, secara regresi parsial antara resiliensi dengan work engagement menunjukkan koefisien 4.757 dengan signifikansi 0.000 &lt; 0.05 yang artinya semakin tinggi resiliensi maka semakin tinggi juga work engagement.<br />Kata kunci: Stres kerja, Resiliensi, Work Engagement, Yayasan Perguruan Attarbiyah</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12969 Kecenderungan Kecanduan Media Sosial pada Remaja: Bagaimana Peran Self Control dan Fear of Missing Out? 2025-02-12T13:10:38+00:00 Agniestia Maharani agniestiamaharani@gmail.com Yanto Prasetyo agniestiamaharani@gmail.com Hikmah Husniyah Farhanindya agniestiamaharani@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Social media addiction is a condition where individuals are unable to control intensive and excessive use of social media, which can trigger psychological and social disorders (Kootesh et al., 2016). Social media addiction can be influenced by several factors, one of which is self-control (Muna &amp; Astuti, 2014). Fear of missing out is another factor that influences social media addiction (Fathadika &amp; Afriani, 2018). This research design uses a quantitative approach with multiple linear regression. The sample consisted of 92 students from the Faculty of Psychology, University of 17 August 1945 Surabaya. The regression results show that the hypothesis is accepted, namely that there is a relationship between self-control and fear of missing out with the tendency to become addicted to social media in adolescents.</em></p> <p><em> </em></p> <p><em>Keywords: Tendencies, Addiction, Self-Control, Fear of Missing Out, Social Media.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kecanduan media sosial merupakan kondisi di mana individu tidak mampu mengendalikan penggunaan media sosial secara intensif dan berlebihan, yang dapat memicu gangguan psikologis dan sosial (Kootesh et al., 2016). Kecanduan media sosial dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah <em>self control</em> (Muna &amp; Astuti, 2014). <em>Fear of missing out </em>merupakan faktor lain yang mempengaruhi kecanduan media sosial (Fathadika &amp; Afriani, 2018). Desain penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan regresi linier berganda. Sampel berjumlah 92 Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Hasil regresi menunjukkan hipotesis diterima, yakni adanya hubungan antara <em>self contro</em>l dan <em>fear of missing out</em> dengan kecenderungan kecanduan media sosial pada remaja.</p> <p> </p> <p>Kata Kunci: Kecenderungan, Kecanduan, Self Control, Fear Of Missing Out, Sosial Media</p> 2025-12-12T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12968 Psychological Well-Being pada Masa Quarter Life Crisis, Bagaimana Peran Resiliensi? 2025-02-12T13:05:34+00:00 Anastasia Puji Pratiwi anastasiapujipratiwi@gmail.com Tatik Meiyuntariningsih anastasiapujipratiwi@gmail.com Hetti Sari Ramadhani anastasiapujipratiwi@gmail.com <p>Abstract <br>Everyone undergoes the cycle of life and passes through various stages of development throughout their journey, including the early adulthood period (20-30 years), which is vulnerable to feelings of confusion, uncertainty, and pressure in determining life direction, referred as quarter life crisis. This study aims to identify the positive correlation between resilience and psychological well-being in individuals experiencing a quarter-life crisis. The population consists of 147 individuals, analyzed using Pearson Product Moment (r = 0.842), indicating a positive correlation between resilience and psychological well-being. Resilience accounts for 70.9% of psychological well-being.</p> <p>Keywords: Resilience, Psychological Well-being, Quarter Life Crisis</p> <p>&nbsp;</p> <p><br>Abstrak <br>Setiap orang akan menjalani siklus kehidupan dan melintasi berbagai tahap perkembangan sepanjang perjalanan hidupnya, termasuk menghadapi periode dewasa awal (20-30 tahun) yang rentan merasa kebingungan, ketidakpastian, dan tekanan dalam menentukan arah hidup, dikenal sebagai quarter life crisis. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi korelasi positif antara resiliensi dengan psychological well-being pada individu yang mengalami quarter life crisis. Populasinya ialah 147, dan dianalis melalui Pearson Product Moment (r= 0,842), sehingga resiliensi dengan psychological well-being berkorelasi secara positif, Sumbangan efektif resiliensi sebesar 70,9% kepada psychological well-being.<br>Kata kunci: Resiliensi, Psychological Well-being, Quarter Life Crisis</p> 2025-12-12T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12932 Kontribusi Kepemimpinan Transformasional dan Resiliensi dengan Burnout pada Karyawan 2025-02-04T08:14:34+00:00 Bomantara Haryono bomantara2299@gmail.com Diah Sofiah diahsofiah@untag-sby.ac.id Yanto Prasetyo yanto_prasetyo@untag-sby.ac.id <p>Abstract<br />This research aims to analyze the relationship between relationship transformasional leadership, resilience, and burnout. Burnout is often a problem for workers. Through a quantitative approach, data was collected from workers who work. The research results show that there is a significant relationship between transformational leadership and resilience and Burnout. Workers with high levels of transformational leadership tend to have high resilience, thereby reducing the tendency to burnout. Data analysis was carried out using multiple linear regression to test the relationship between variables. The research results show that transformational leadership and resilience have a significant negative relationship with Burnout workers (R = 0.945, p &lt; 0.05). These findings are expected to provide insight for the development of intervention programs aimed at increasing transformational leadership and resilience and reducing burnout in workers.<br />Keywords: Burnout, Resilience, Transformational Leadership<br />Abstrak<br />Perusahaan saat ini menghadapi tantangan dalam kinerja organisasi melalui perilaku yang lebih proaktif dari karyawan, seperti kepemimpinan transformasional, tetapi juga juga kontribusi tambahan yang bermanfaat bagi perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa adanya hubungan antara kepemimpinan transformasional, resiliensi, dan burnout pada pekerja MyRepublic Surabaya. Burnout sering kali menjadi masalah bagi pekerja. Setelah melakukan hasil uji mean empirik dan mean hipotetik, terbukti bahwa banyak pekerja MyRepublic yang mengalami burnout. Melalui pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan dari pekerja . Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kepemimpinan transformasional dan resiliensi dengan burnout. Pekerja dengan kepemimpinan transformasional yang tinggi cenderung memiliki resiliensi yang tinggi, sehingga mengurangi kecenderungan burnout. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda untuk menguji hubungan antara variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional dan resiliensi memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan Burnout pada pekerja (R = 0,945 p &lt; 0,05). Temuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi pengembangan program intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan kepemimpinan transformasional dan resiliensi serta mengurangi burnout pada pekerja.<br />Kata kunci: Burnout, Resiliensi, Kepemimpinan Transformasional</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12929 Kontribusi Modal Psikologis dan Kebersyukuran dalam Mengurangi Stres Kerja Guru Sekolah Dasar 2025-02-04T05:26:58+00:00 Fernanda Marnitio Pratanu f.marnitio@gmail.com Dyan Evita Santi f.marnitio@gmail.com Rahma Kusumandari f.marnitio@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>The teaching profession has become increasingly demanding and complex in recent times. This study aims to examine the relationship between psychological capital and gratitude with job stress among elementary school teachers. This research is a quantitative study using multiple linear regression correlation techniques. The participants in this study consisted of 193 elementary school teachers in the Surabaya area. Data collection was conducted by distributing questionnaires both online and offline using a Likert scale. The instruments used included the STJSS scale with 39 items, the PCQ scale with 30 items, and the GRAT scale with 42 items. Data analysis was carried out using correlation tests, and the findings of this study indicate a significant negative relationship between psychological capital and gratitude with job stress among teachers. Psychological capital showed a significant negative correlation with job stress. Meanwhile, gratitude showed a positive but non-significant relationship with job stress. It can be concluded that elementary school teachers can manage job stress effectively if they possess strong psychological capital, whereas gratitude is not a suitable predictor for reducing job stress among teachers.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Psychological Capital, Gratitude, Job Stress Among Teachers</em></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p>Profesi guru semakin dewasa ini semakin berat dan kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara modal psikologis dan kebersyukuran dengan stres kerja guru sekolah dasar. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan teknik korelasi regresi linier berganda. Partisipan penelitian ini sebanyak 193 guru sekolah dasar di wilayah Kota Surabaya. Metode pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuisioner secara online maupun offline dengan menggunakan skala likert. Instrumen yang digunakan terdiri dari skala STJSS sejumlah 39 aitem, skala PCQ sejumlah 30 aitem, dan skala GRAT sejumlah 42 aitem. Teknik analisis data dilakukan dengan uji korelasi yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara modal psikologis dan kebersyukuran dengan stres kerja guru. Modal psikologis dengan stres kerja guru menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara modal psikologis dengan stres kerja guru. Kebersyukuran dengan stres kerja guru menunjukkan adanya hubungan positif yang tidak signifikan antara kebersyukuran dengan stres kerja guru. Dapat disimpulkan bahwa guru sekolah dasar dapat mengelola tekanan stres kerja apabila memiliki modal psikologis yang baik, sedangkan kebersyukuran tidak dapat sebagai prediktor yang tepat untuk menurunkan tekanan stres kerja guru.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em> Modal Psikologis, Kebersyukuran, Stres Kerja Guru</em></p> 2025-12-12T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12920 Peran Family Function dan Resiliensi dalam Menekan Kecemasan Korban Revenge Porn 2025-02-03T03:18:40+00:00 Salwa Aretha Putri Arianti ssalwaaretha@gmail.com IGAA Noviekayati ssalwaaretha@gmail.com Amherstia Pasca Rina ssalwaaretha@gmail.com <p>Abstract<br />Revenge porn is a form of Gender – Based Online Violence (GBOV) that has a significant impact on the psychological well – being of victims, one of which is anxiety, which can disrupt their social and emotional lives. This study aims to analyze the role of family function and resilience in reducing anxiety among revenge porn victims. This research employs a quantitative approach, involving 90 respondents aged 16 – 29 years who have experienced revenge porn and reside in East Java. The sampling technique was conducted using purposive sampling and snowball sampling, while data collection utilized a Likert scale, including the anxiety scale (Nevid, 2005), family function scale (Epstein, 1978), and resilience scale (Connor &amp; Davidson, 2003). The findings indicate that, simultaneously, family function and resilience have a negative relationship with anxiety. Partially, both family function and resilience also show a significant negative correlation with anxiety. These results emphasize that good family function and high levels of resilience can help revenge porn victims manage their anxiety effectively.<br />Keywords: Anxiety; Family Function; Resilience; Revenge Porn<br />Abstrak<br />Revenge porn merupakan salah satu bentuk Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang memiliki dampak signifikan terhadap kesejahteraan psikologis korban, salah satunya adalah kecemasan yang dapat mengganggu kehidupan sosial dan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran family function dan resiliensi dalam mengurangi kecemasan pada korban revenge porn. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 90 responden berusia 16 – 29 tahun yang pernah mengalami revenge porn dan berdomisili di Jawa Timur. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dan snowball sampling, serta pengumpulan data menggunakan skala Likert yang meliputi skala kecemasan (Nevid, 2005), skala family function (Epstein, 1978), dan skala resiliensi (Connor &amp; Davidson, 2003). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, family function dan resiliensi memiliki hubungan negatif dengan kecemasan. Secara parsial, family function dan resiliensi juga memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan kecemasan. Temuan ini menegaskan bahwa family function yang baik serta tingkat resiliensi yang tinggi dapat membantu korban revenge porn dalam mengelola kecemasan mereka.<br />Kata kunci: Family Function; Kecemasan; Resiliensi; Revenge Porn</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12910 Konflik Peran Ganda dan Keterikatan Kerja Karyawan Perempuan dalam Setting Industri 2025-01-31T16:54:08+00:00 Nadziro Kamalia nadzirokamalia@gmail.com Niken Titi Pratitis nadzirokamalia@gmail.com Isrida Yul Arifiana nadzirokamalia@gmail.com <p>Abstract<br />This research aims to determine the relationship between work family conflict and work engagement among female employees in the industrial sector. Role conflict refers to the condition where individuals experience pressure due to conflicting demands between work and family. Meanwhile, work engagement is a positive state in which individuals possess energy, dedication, and full focus in carrying out their work. This study employs a quantitative method with a correlational design. The sampling technique was conducted through purposive sampling, involving 122 female employees who work in the industrial sector and have dual roles. The research instruments use a role conflict scale based on the theory of Greenhaus and Beutell (1985) and a work engagement scale based on the theory of Bakker and Schaufeli (2004). The data obtained were analyzed using Pearson Product Moment correlation tests. The results indicate a significant positive relationship between work family conflict and work engagement among female employees in the industrial sector. This indicates that the higher the role conflict experienced, the higher the work engagement of female employees. Time-based, pressure-based, and behavior-based role conflicts are the main factors influencing work engagement, which consists of the aspects of vigor, dedication, and absorption<br />Keywords: Work Family Conflict;Work Engagement;Female Employees in the Industry<br />Abstrak<br />Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konflik peran ganda dan keterikatan kerja pada karyawan perempuan di sektor industri. Konflik peran ganda merupakan kondisi di mana individu mengalami tekanan akibat tuntutan peran yang bertentangan antara pekerjaan dan keluarga. Sementara itu, keterikatan kerja adalah kondisi positif di mana individu memiliki energi, dedikasi, dan fokus penuh dalam melaksanakan pekerjaan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah partisipan sebanyak 122 karyawan perempuan yang bekerja di sektor industri dan memiliki peran ganda. Instrumen penelitian ini menggunakan skala konflik peran ganda yang disusun berdasarkan teori Greenhaus dan Beutell (1985) serta skala keterikatan kerja berdasarkan teori Bakker dan Schaufeli (2004). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara konflik peran ganda dan keterikatan kerja pada karyawan perempuan di sektor industri. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi konflik peran ganda yang dialami, maka semakin tinggi juga keterikatan kerja karyawan perempuan. Konflik peran berbasis waktu, tekanan, dan perilaku menjadi faktor utama yang memengaruhi keterikatan kerja yang terdiri dari aspek vigor, dedication, dan absorption.<br />Kata kunci: Konflik Peran Ganda; Keterikatan Kerja; Karyawan Perempuan di Sektor Industri</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12905 Hubungan Work Life Balance dan Self Efficacy dengan Organizational Citizenship Behavior pada Karyawan 2025-01-31T09:27:05+00:00 Marsella Margaretha marsellamargaretha2003@gmail.com Diah Sofiah diahsofiah@untag-sby.ac.id Yanto Prasetyo yanto_prasetyo@untag-sby.ac.id <p>Abstract<br />Companies currently are facing the challenge of improving organizational performance through more proactive employee behaviors, such as Organizational Citizenship Behavior, which not only depends on the achievement of primary tasks but also on additional contributions that benefit the organization. Several factors are believed to influence Organizational Citizenship Behavior, such as Work Life Balance and Self Efficacy. However, the relationship between these three factors has not been extensively explored, particularly within the context of organizations in Indonesia. Organizational Citizenship Behavior is one form of voluntary behavior that is highly beneficial to companies. Using a quantitative approach, data was collected from employees as respondents. The results of the study indicate a significant relationship between Work Life Balance and Self Efficacy with Organizational Citizenship Behavior. Employees with a high level of Work Life Balance tend to have higher Self Efficacy, which in turn increases the likelihood of exhibiting Organizational Citizenship Behavior. Data analysis was conducted using multiple linear regression to examine the relationships between variables. The results show that both Work Life Balance and Self Efficacy have a strong positive relationship with Organizational Citizenship Behavior (R = 0.694, p &lt; 0.05). Overall, this study suggests that companies should maintain a positive work environment to ensure that levels of Work Life Balance, Self Efficacy, and Organizational Citizenship Behavior among employees remain high.<br />Keywords: Organizational Citizenship Behavior, Self Efficacy, Work Life Balance<br />Abstrak<br />Perusahaan saat ini menghadapi tantangan dalam meningkatkan kinerja organisasi melalui perilaku yang lebih proaktif dari karyawan, seperti Organizational Citizenship Behavior, yang tidak hanya bergantung pada pencapaian tugas utama, tetapi juga kontribusi tambahan yang bermanfaat bagi organisasi. Beberapa faktor yang diduga mempengaruhi Organizational Citizenship Behavior adalah Work Life Balance serta Self Efficacy. Namun, hubungan antara ketiga faktor ini belum banyak dieksplorasi secara mendalam, khususnya dalam konteks organisasi di Indonesia. Organizational Citizenship Behavior merupakan salah satu bentuk perilaku sukarela yang sangat menguntungkan bagi perusahaan. Melalui pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan dari responden yang merupakan karyawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara Work Life Balance dan Self Efficacy dengan Organizational Citizenship Behavior. Karyawan dengan Work Life Balance yang tinggi cenderung memiliki Self Efficacy yang lebih tinggi pula, sehingga meningkatkan kecenderungan munculnya perilaku Organizational Citizenship Behavior. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda untuk menguji hubungan antara variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Work Life Balance dan Self Efficacy memiliki hubungan positif yang sangat signifikan dengan Organizational Citizenship Behavior (R = 0,694, p &lt; 0,05). Secara keseluruhan, penelitian ini menyarankan agar perusahaan dapat mempertahankan lingkungan kerja yang positif agar tingkat Work Life Balance, Self Efficacy, dan Organizational Citizenship Behavior pada kalangan pekerja tetap tinggi.<br />Kata kunci: Organizational Citizenship Behavior, Self Efficacy, Work Life Balance</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12887 Peran Kecerdasan Emosi dalam Mengurangi Stres Kerja pada Karyawan 2025-01-30T11:44:46+00:00 Adam Alamsyah adamalmsyh31@gmail.com Mamang Efendy adamalmsyh31@gmail.com Herlan Pratikto adamalmsyh31@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>This study aims to determine the relationship between emotional intelligence and job stress. This research employs a quantitative approach with a correlational quantitative method. The sampling technique used in this study was the Krejcie technique, with a total of 181 respondents. Data analysis was conducted using Spearman's Rho technique with the assistance of SPSS version 16 for Windows. The statistical analysis results on the relationship between the emotional is indicating a significant negative relationship between emotional intelligence and job stress. This means that the higher the level of emotional intelligence in employees, the lower the level of job stress. Conversely, the lower the level of emotional intelligence in employees, the higher the level of job stress experienced by employees.</em></p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><strong><em>Keyword: </em></strong><em>Emotional Intelligence; Job Stress</em></p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara kecerdasan emosi dengan stres kerja. Penelitian ini menggunakan jenis kuantitatif dengan metode kuantitatif dengan metode kuantitatif korelasional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik <em>Krejcie </em>dengan total partisipan 181 responden. Teknik analisi data menggunakan teknik <em>Spearman’s Rho </em>dengan bantuan program <em>SPSS versi 16 for Windows</em>. Hasil uji analisis statistik hubungan variabel kecerdasan emosi dengan variabel stres kerja yaitu terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kecerdasan emosi dengan stres kerja. Artinya, semakin tinggi tingkat kecerdasan emosi pada karyawan maka akan semakin rendah tingkat stres kerja. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah tingkat kecerdasan emosi pada karyawan maka semakin tinggi tingkat stres kerja pada karyawan.</p> <p> </p> <p><strong><em>Kata kunci: </em></strong><em>Kecerdasan Emosi: Stres Kerja</em></p> 2025-12-12T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12871 OCB pada Karyawan yang Sudah Menikah, Bagaimana Peran Work-Life Balance dan Perceived Organizational Support? 2025-01-28T08:19:58+00:00 Sofiatul Azizah sofiatulazzh82@gmail.com Yanto Prasetyo sofiatulazzh82@gmail.com Hikmah Husniyah Farhanindya sofiatulazzh82@gmail.com <p>Abstract<br />This study aims to determine whether there is a relationship between organizational citizenship behavior with work-life balance and perceived organizational support in married employees at Apartment. X. This analysis independent variable work-life balance and perceived organizational support with dependent variable organizational citizenship behavior. This research is a type of quantitative research using the correlational method. The sampling technique in this study used a random sampling method where the subjects were taken from the entire population of 86 respondents of Apartment employees. X employees who are married. The results of this study indicate that the first hypothesis is accepted, work-life balance and perceived organizational support have a positive relationship with organizational citizenship behavior. The second hypothesis is also accepted which shows that there is a positive relationship between work-life balance and organizational citizenship behavior. Meanwhile, the third hypothesis is not accepted, which means that there is no relationship between perceived organizational support and organizational citizenship behavior.<br />Keywords: Work-Life Balance, Perceived Organizational Support, Employee, Organizational Citizenship Behavior<br />Abstrak<br />Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara organizational citizenship behavior dengan work-life balance dan perceived organizational support pada karyawan yang sudah menikah di Apartemen. X. Analisis ini variabel independen work-life balance dan perceived organizational support dengan variabel dependen organizational citizenship behavior. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode korelasional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode random sampling yang dimana subjek diambil dari keseluruhan populasi sebanyak 86 responden karyawan Apartemen. X yang sudah menikah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hipotesis pertama diterima, work-life balance dan perceived organizational support memiliki hubungan positif dengan organizational citizenship behavior. Hipotesis kedua juga diterima yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara work-life balance dengan organizational citizenship behavior. Sedangkan, untuk hipotesis ketiga tidak diterima yang berarti tidak ada hubungan antara perceived organizational support dengan organizational citizenship behavior.<br />Kata kunci: Work-Life Balance, Perceived Organizational Support, Karyawan, Organizational Citizenship Behavior</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12806 Fanatisme dan Impulsive Buying Pembelian Merchandise pada Penggemar K-Pop NCT 2025-01-20T11:26:56+00:00 Dian Listiyana Sari dianlsty.29@gmail.com Herlan Pratikto dianlsty.29@gmail.com Suhadianto dianlsty.29@gmail.com <p><strong><em>Abstract </em></strong></p> <p><em>Fanaticism towards brands, characters or products often drives impulsive buying, where purchasing decisions are driven more by emotions and social existence rather than rational needs. This behavior often aims to show loyalty, increase self-pride, or strengthen social identity, but risks causing financial problems and regret if uncontrolled. This research aims to determine the relationship between fanaticism and impulsive purchases of merchandise among NCT K-Pop fans (NCTzen). From 3,111 Instagram followers, 250 participants aged 18-30 years were taken using Issac's table. With a quantitative approach and product moment analysis using SPSS 16. The results of this research show a significant positive relationship between fanaticism and impulsive buying. As a result, the higher the level of fanaticism, the greater the likelihood of impulsive merchandise purchases.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> I</em><em>mpulsive buying, fanaticism, K-Pop, NCT, merchandise</em></p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><strong><em>Abstrak </em></strong></p> <p>Fanatisme terhadap merek, tokoh, atau produk sering mendorong impulsive buying, di mana keputusan pembelian lebih didorong emosi dan keberadaan sosial daripada kebutuhan rasional. Perilaku ini sering bertujuan menunjukkan loyalitas, meningkatkan kebanggaan diri, atau memperkuat identitas sosial, namun berisiko menimbulkan masalah finansial dan penyesalan jika tidak terkendali. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara fanatisme dengan pembelian impulsif merchandise pada penggemar K-Pop NCT (NCTzen). Dari 3.111 pengikut Instagram, diambil 250 partisipan berusia 18-30 tahun menggunakan tabel Issac. Dengan pendekatan kuantitatif dan analisis product moment menggunakan SPSS 16. Hasil penelitian ini menunjukkan hubungan positif signifikan antara fanatisme dan pembelian impulsif. Hasilnya, semakin tinggi tingkat fanatisme, semakin besar kemungkinan pembelian merchandise secara impulsif.</p> <p> </p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong> <em>Impulsive buying</em>, fanatisme, K-Pop, NCT, merchandise</p> <p><em> </em></p> 2025-12-12T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12861 Perilaku Konsumtif Pengguna E-Commerce Shopee: Bagaimana Peran Gaya Hidup Hedonis dan Kontrol Diri? 2025-01-27T11:46:56+00:00 Talitha Adriyanti Zabrina adriyantizabrina@gmail.com Diah Sofiah adriyantizabrina@gmail.com Hikmah Husniyah Farhanindya adriyantizabrina@gmail.com <p>Abstract<br />Consumptive behavior can result in waste, anxiety and feelings of insecurity in individuals. Consumer behavior in individuals can be influenced by various factors, including hedonic lifestyle and self-control. This research aims to analyze the relationship between hedonic lifestyle and self-control and consumer behavior among Shopee e-commerce users. The type of research used is quantitative correlational with multiple regression analysis techniques. There were 282 participants in this research. The research results show that hedonic lifestyle and self-control have a very significant relationship with consumer behavior, shown by obtaining a significance value of 0.000 (p&lt;0.01). Partially, hedonic lifestyle shows a t value of 11.296 with a significance of 0.000 (p&lt;0.01). This means that there is a very significant positive relationship between hedonic lifestyle and consumer behavior. Meanwhile, self-control shows a t value of -3.114 with a significance of 0.002 (p&lt;0.01). This means that there is a very significant negative relationship between self-control and consumer behavior.<br />Keywords: Consumptive Behavior; Hedonistic Lifestyle; Self-Control; Shopee users<br />Abstrak<br />Perilaku konsumtif dapat mengakibatkan timbulnya pemborosan, kecemasan, hingga perasaan tidak aman pada individu. Perilaku konsumtif pada individu dipengaruhi oleh berbagai macam faktor diantaranya yaitu gaya hidup hedonis dan kontrol diri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara gaya hidup hedonis dan kontrol diri dengan perilaku konsumtif pada pengguna e-commerce Shopee. Jenis penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif korelasional dengan teknik analisis regresi ganda. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 282 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup hedonis dan kontrol diri memiliki hubungan sangat signifikan dengan perilaku konsumtif, ditunjukkan melalui perolehan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p&lt;0,01). Secara parsial, gaya hidup hedonis menunjukkan nilai t sebesar 11,296 dengan signifikansi 0,000 (p&lt;0,01). Artinya ada hubungan positif yang sangat signifikan antara gaya hidup hedonis dengan perilaku konsumtif. Sementara kontrol diri menunjukkan nilai t sebesar -3,114 dengan signifikansi 0,002 (p&lt;0,01). Artinya ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara kontrol diri dengan perilaku konsumtif.<br />Kata kunci: Perilaku Konsumtif; Gaya Hidup Hedonis; Kontrol Diri; Pengguna Shopee</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12860 Loneliness dengan Regulasi Emosi dan Perilaku Agresi pada Emerging Adulthood yang Fatherless 2025-01-27T10:50:25+00:00 Dieva Putri Sefira dievaputrii02@gmail.com I Gusti Ayu Agung Noviekayati dievaputrii02@gmail.com Amherstia Pasca Rina dievaputrii02@gmail.com <p>Abstract<br />This study aims to analyze the relationship between Loneliness and emotion regulation on<br />aggressive behavior in fatherless emerging adults. Using a quantitative correlational<br />approach, the research involved 111 participants selected through purposive sampling. Data<br />were collected using the Aggression Questionnaire, the UCLA Loneliness Scale, a nd an<br />emotion regulation scale based on Gross s (1998) theory. The results indicate a significant<br />positive relationship between Loneliness and aggressive behavior, as well as a significant<br />negative relationship between emotion regulation and aggressive beh avior. These findings<br />highlight that individuals experiencing Loneliness are more prone to aggressive behavior,<br />particularly if they have low emotional regulation. This research contributes to the development<br />of psychological interventions to reduce aggres sive tendencies in fatherless adolescents.<br />Keywords:<br />Loneliness, Emotion Regulation, Aggressive Behavior, Emerging Adulthood,<br />Fatherless<br />Abstrak<br />Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara<br />Loneliness dan regulasi emosi<br />terhadap perilaku ag resi pada individu emerging adulthood yang mengalami kondisi<br />fatherless. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional, penelitian ini<br />melibatkan 111 partisipan yang dipilih melalui teknik purposive sampling . Data dikumpulkan<br />menggunakan skala Agg ression Questionnaire, UCLA Loneliness Scale, dan skala regulasi<br />emosi berdasarkan teori Gross (1998). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif<br />signifikan antara Loneliness dan perilaku agresi, serta hubungan negatif signifikan antara<br />regulasi emosi dan perilaku agresi. Temuan ini menegaskan bahwa individu yang mengalami<br />Loneliness lebih rentan terhadap perilaku agresi, terutama jika mereka memiliki regulasi<br />emosi yang rendah. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan intervensi<br />ps ikologis untuk mengurangi perilaku agresif pada remaja fatherless.<br />Kata Kunci:<br />Loneliness , Regulasi Emosi, Perilaku Agresi, Emerging Adulthood, Fatherless</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia