https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/issue/feed JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia 2026-02-26T03:09:42+00:00 Andik Matulessy jiwa@untag-sby.ac.id Open Journal Systems <p><strong>JIWA: Indonesian Journal of Psychology</strong>&nbsp;is a peer-reviewed journal published by the Faculty of Psychology, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia journal is published every September, December, Maret, and June. JIWA: Indonesian Journal of Psychology gives readers access to download articles for free. JIWA: Indonesian Journal of Psychology accepts articles in the field of psychology and is not limited to educational, developmental, clinical, industrial, and organizational psychology</p> https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133289 Membangun Benteng Cinta: Dukungan Sosial dan Kecemasan Menghadapi Perselingkuhan pada Ibu Persit 2026-02-26T03:09:42+00:00 Yosy Putri Utari yosyutari1234@gmail.com Devi Puspitasari yosyutari1234@gmail.com Tatik Meiyuntariningsih yosyutari1234@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Persit wives who experience long-distance marriages (LDM) due to their husbands' military assignments often face anxiety, particularly concerning the possibility of infidelity. This condition is exacerbated by limited communication and uncertainty in the deployment environment. This study aims to examine the relationship between social support and anxiety about infidelity among Persit wives at Military Dormitory X, Sidoarjo. A quantitative correlational method was employed, with purposive sampling involving 152 participants. Data were collected using a four-point Likert scale questionnaire distributed online. The product-moment correlation test revealed a significant negative relationship between social support and anxiety, with r = -0.338 and significance = 0.000 (&lt; 0.05). This indicates that higher social support is associated with lower anxiety levels.</em></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> social support, anxiety, infidelity, Persit wives, long-distance marriage</em></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><em>Ibu Persit yang menjalani long distance marriage (LDM) akibat penugasan militer suami sering mengalami kecemasan, khususnya terkait kemungkinan perselingkuhan. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan komunikasi serta juga ketidakpastian lingkungan penugasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan kecemasan menghadapi perselingkuhan pada ibu Persit di Asrama Militer X, Sidoarjo. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan teknik purposive sampling sebanyak 152 partisipan. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner skala Likert empat poin yang disebarkan secara daring. Hasil uji korelasi product moment menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial serta juga kecemasan, dengan nilai r = -0,338 serta juga signifikansi 0,000 (&lt; 0,05). Artinya, semakin tinggi dukungan sosial yang diterima, semakin rendah kecemasan yang dirasakan.</em></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong><em>Kata kunci</em></strong><em>: dukungan sosial, kecemasan, perselingkuhan, ibu Persit, long distance marriage</em></p> 2026-02-26T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133287 Kesepian pada Wanita Dewasa Awal: Ditinjau dari Coping Stress dan Dukungan Sosial 2026-02-26T03:04:47+00:00 Pascal Kresna Arnanta Simanjuntak pascalsimanjuntak51@gmail.com Bawinda Sri Lestari pascalsimanjuntak51@gmail.com Herlan Pratikto pascalsimanjuntak51@gmail.com <p><strong><em>Abstract </em></strong></p> <p><em>Early adulthood is a crucial stage marked by identity formation and social transitions. An increasing number of early adult women are delaying or forgoing marriage, potentially heightening feelings of loneliness. This study investigates the relationship between coping stress, social support, and loneliness in unmarried early adult women. Using a quantitative approach with the Spearman Rho correlation, data were collected from 159 participants. Results revealed a strong positive correlation between coping stress and loneliness (r = 0.755; p &lt; 0.01), and a very strong positive correlation between social support and loneliness (r = 0.804; p &lt; 0.01). These findings indicate that higher levels of coping stress and social support are associated with greater loneliness. This suggests that not just the presence, but the quality of coping strategies and social support may influence loneliness in unmarried early adult women.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong> <em>Coping Stress, Social Support, Loneliness</em></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><em>Dewasa awal merupakan tahap penting yang ditandai dengan pembentukan identitas dan transisi sosial. Semakin banyak wanita dewasa awal yang menunda atau tidak menikah, yang berpotensi meningkatkan perasaan kesepian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara coping stress, dukungan sosial, dan kesepian pada wanita dewasa awal yang belum menikah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasi Spearman Rho, melibatkan 159 partisipan. Hasil menunjukkan adanya korelasi positif yang kuat antara coping stress dan kesepian (r = 0.755; p &lt; 0.01), serta korelasi positif yang sangat kuat antara dukungan sosial dan kesepian (r = 0.804; p &lt; 0.01). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat coping stress dan dukungan sosial yang dirasakan, semakin tinggi pula tingkat kesepian yang dialami. Hal ini mengindikasikan bahwa bukan hanya keberadaan, tetapi juga kualitas strategi coping dan dukungan sosial turut memengaruhi pengalaman kesepian pada wanita dewasa awal yang belum menikah.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong> <em>Coping Stress, Social Support, Loneliness</em></p> 2026-02-26T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133284 Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa ditinjau dari Status Pekerjaaan dan Status Pernikahan 2026-02-25T04:27:54+00:00 Destin Agung Setiawan Putra Kagedestin7@gmail.com Hetti Sari Ramadhani Kagedestin7@gmail.com Adnani Budi Utami Kagedestin7@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>This study employs a quantitative comparative method. The study aims to reveal whether differences in academic procrastination exist among students based on their employment and marital statuses. The 237 respondents were seventh-semester students from the Faculty of Law and Psychology at the University of 17 August 1945 in Surabaya. They were selected using snowball sampling. The study employed a psychological scale measurement tool developed by the researcher based on Ferrari's (1995) indicators of academic procrastination. Data analysis using the Mann-Whitney U test showed no significant difference in the level of academic procrastination based on employment or marital status. The study also revealed that employment and marital status do not serve as reasons to explain students' procrastination behavior.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Academic Procrastination, Employment Status, Marital Status, Mann-Whitney U Test, Comparative Research.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <h1>Abstrak</h1> <p>Penelitian&nbsp; ini&nbsp; menggunakan&nbsp; metode&nbsp; kuantitatif&nbsp; komparatif.&nbsp; Tujuan&nbsp; penelitian&nbsp; ini&nbsp; untuk&nbsp; mengungkap&nbsp; ada&nbsp; atau&nbsp; tidak&nbsp; perbedaan prokrastinasi akademik pada&nbsp; mahasiswa ditinjau&nbsp; dari&nbsp; status pekerjaan dan status pernikahan<em>. </em>Responden&nbsp; pada&nbsp; penelitian&nbsp; ini&nbsp; merupakan&nbsp; mahasiswa semester 7 Fakultas Hukum dan Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya&nbsp; sebanyak 237 partisipan yang dipilih melalui teknik <em>snowball sampling</em>.&nbsp; Penelitian&nbsp; ini&nbsp; menggunakan&nbsp; alat&nbsp; ukur&nbsp; skala&nbsp; psikologi dengan&nbsp; instrumen&nbsp; yang&nbsp; disusun&nbsp; peneliti&nbsp; berdasarkan&nbsp; indikator prokrastinasi akademik dari Ferrari (1995).&nbsp; Hasil&nbsp; penelitian&nbsp; menggunakan analisis data <em>uji Mann-Whitney U</em> menunjukkan adanya tidak adanya perbedaan signifikan dalam tingkat prokrastinasi akademik berdasarkan status pekerjaan dan status pernikahan.&nbsp; Penelitian&nbsp; ini&nbsp; juga&nbsp; mengungkapkan&nbsp; mahasiswa&nbsp; status pekerjaan maupun status pernikahan tidak menjadi alasan untuk mendukung perilaku prokrastinasi mahasiswa.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata&nbsp; Kunci</strong>: <em>Prokrastinasi&nbsp; Akademik,&nbsp; Status&nbsp; Pekerjaan,&nbsp; Status&nbsp; Pernikahan,&nbsp; Uji&nbsp; Mann-Whitney-U,Penelitian Komparatif.</em></p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>This study employs a quantitative comparative method. The study aims to reveal whether differences in academic procrastination exist among students based on their employment and marital statuses. The 237 respondents were seventh-semester students from the Faculty of Law and Psychology at the University of 17 August 1945 in Surabaya. They were selected using snowball sampling. The study employed a psychological scale measurement tool developed by the researcher based on Ferrari's (1995) indicators of academic procrastination. Data analysis using the Mann-Whitney U test showed no significant difference in the level of academic procrastination based on employment or marital status. The study also revealed that employment and marital status do not serve as reasons to explain students' procrastination behavior.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Academic Procrastination, Employment Status, Marital Status, Mann-Whitney U Test, Comparative Research.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <h1>Abstrak</h1> <p>Penelitian&nbsp; ini&nbsp; menggunakan&nbsp; metode&nbsp; kuantitatif&nbsp; komparatif.&nbsp; Tujuan&nbsp; penelitian&nbsp; ini&nbsp; untuk&nbsp; mengungkap&nbsp; ada&nbsp; atau&nbsp; tidak&nbsp; perbedaan prokrastinasi akademik pada&nbsp; mahasiswa ditinjau&nbsp; dari&nbsp; status pekerjaan dan status pernikahan<em>. </em>Responden&nbsp; pada&nbsp; penelitian&nbsp; ini&nbsp; merupakan&nbsp; mahasiswa semester 7 Fakultas Hukum dan Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya&nbsp; sebanyak 237 partisipan yang dipilih melalui teknik <em>snowball sampling</em>.&nbsp; Penelitian&nbsp; ini&nbsp; menggunakan&nbsp; alat&nbsp; ukur&nbsp; skala&nbsp; psikologi dengan&nbsp; instrumen&nbsp; yang&nbsp; disusun&nbsp; peneliti&nbsp; berdasarkan&nbsp; indikator prokrastinasi akademik dari Ferrari (1995).&nbsp; Hasil&nbsp; penelitian&nbsp; menggunakan analisis data <em>uji Mann-Whitney U</em> menunjukkan adanya tidak adanya perbedaan signifikan dalam tingkat prokrastinasi akademik berdasarkan status pekerjaan dan status pernikahan.&nbsp; Penelitian&nbsp; ini&nbsp; juga&nbsp; mengungkapkan&nbsp; mahasiswa&nbsp; status pekerjaan maupun status pernikahan tidak menjadi alasan untuk mendukung perilaku prokrastinasi mahasiswa.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata&nbsp; Kunci</strong>: <em>Prokrastinasi&nbsp; Akademik,&nbsp; Status&nbsp; Pekerjaan,&nbsp; Status&nbsp; Pernikahan,&nbsp; Uji&nbsp; Mann-Whitney-U,Penelitian Komparatif.</em></p> 2026-02-25T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133283 Kemampuan Problem Solving pada Mahasiswa Tingkat Akhir: Bagaimana Peranan Critical Thinking 2026-02-25T04:14:52+00:00 Mohammad Rizki Annabil mrizkiannabil@gmail.com Niken Titi Pratitis mrizkiannabil@gmail.com Isrida Yul Arifiana mrizkiannabil@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Final year students face a variety of challenges ranging from academic challenges, psychological and emotional challenges, and self-management challenges. Problem solving ability is important for final year students to solve all these challenges. In order for problem solving ability to be effective, critical thinking is needed which is an important factor in problem solving. This study aims to determine the relationship between critical thinking and problem solving ability in final year students. This type of research is quantitative correlation. The population of this study were final year students of Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya totaling 2338 consisting of students from generation 2018 to 2022. The research sample was determined through the Krejcie table with a total of 201 students. The sampling method used Snowball sampling with Spearman Rank Correlation data analysis technique. The results show a positive correlation between critical thinking and problem-solving Ability. </em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Critical Thinking; Problem Solving Ability, Final year students. </em></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><em>Mahasiswa tingkat akhir berbagai macam tantangan mulai dari tantangan akademis, tantangan psikologis dan emosional, dan tantangan manajemen diri. Kemampuan problem solving menjadi penting bagi mahasiswa tingkat akhir untuk menyelesakain semua tantangan tersebut. Agar kemampuan problem solving menjadi efektif diperlukan critical thinking yang faktor penting dalam penyelesaian masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara critical thinking dengan kemampuan problem solving pada mahasiswa tingkat akhir. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif korelasional. Populasi dalam penelitian ini&nbsp; adalah mahasiswa tingkat akhir Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya berjumlah 2338 terdiri dari mahasiswa Angkatan 2018 hingga 2022. Sampel penelitian ditentukan melalui tabel krejcie dengan berjumlah 201 mahasiswa. Metode pengambilan sampel menggunakan Snowball sampling dengan teknik analisis data Spearman Rank Correlation. Hasil terdapat hubungan positif antara critical thinking dan kemampuan problem solving.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em> Critical Thinking; Kemampuan Problem solving; Mahasiswa Tingkat Akhir. </em></p> 2026-02-25T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133282 Dukungan Sosial terhadap Psychological Well-Being Mahasiswa dari Keluarga Bercerai 2026-02-25T04:07:04+00:00 Sri Setyoningsih srisetyoningsihnenengg@gmail.com Hetti Sari Ramadhani srisetyoningsihnenengg@gmail.com Adnani Budi Utami srisetyoningsihnenengg@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Students from divorced families are a vulnerable group prone to a decline in psychological well-being due to emotional and social instability within the family. This study aims to investigate the relationship between social support and psychological well-being among students from divorced families. A quantitative approach using a correlational method was chosen for this study. The sample consisted of 335 students from the University of 17 August 1945 Surabaya aged 18–25 years, selected using purposive sampling. The instrument used was a questionnaire that had undergone a series of validity and reliability checks. Data were analyzed using Pearson's correlation test. The results showed a positive and significant relationship between social support and psychological well-being (r = 0.870; p &lt; 0.05). The findings indicate that the higher the level of social support received by students, the higher their psychological well-being. This study emphasizes the importance of social support as a protective factor in maintaining the psychological balance of students from divorced families, and serves as a basis for developing contextual interventions in higher education settings.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Social Support; Psychological Well-Being</em></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><em>Mahasiswa dari keluarga bercerai merupakan kelompok rentan terhadap penurunan psychological well-being akibat ketidakstabilan emosional dan sosial dalam keluarga. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan dukungan sosial dengan psychological well-being pada mahasiswa yang berasal dari keluarga bercerai. Pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional dipilih pada penelitian ini. Sampel sejumlah 335 mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya berusia 18–25 tahun, yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang dipakai adalah kuesioner yang telah melalui serangkaian alur validitas serta reliabilitas dengan baik. Data dianalisis dengan uji korelasi Pearson. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara dukungan sosial dan psychological well-being (r = 0,870; p &lt; 0,05). Temuan menunjukkan semakin tinggi dukungan sosial yang diterima mahasiswa, semakin tinggi pula tingkat psychological well-being yang dimiliki. Penelitian ini menekankan pentingnya dukungan sosial sebagai faktor pelindung dalam menjaga keseimbangan psikologis mahasiswa dari keluarga bercerai, serta menjadi dasar pengembangan intervensi yang kontekstual di lingkungan pendidikan tinggi.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em> Dukungan Sosial; Psychological Well-Being</em></p> 2026-02-25T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133281 Peran Konformitas Teman Sebaya dan Task Aversiveness dalam Prokrastinasi Akademik Siswa SMA 2026-02-25T03:26:38+00:00 Emillia Wulan Novita emilliawulan02@gmail.com Andik Matulessy emilliawulan02@gmail.com Suhadianto emilliawulan02@gmail.com <p><strong><em>Abstract </em></strong></p> <p><em>This study aims to analyze the role of peer conformity and task aversiveness on academic procrastination in high school students. Academic procrastination is the tendency to postpone schoolwork, which impacts academic achievement. This study used a quantitative correlational method with a non-probability sampling technique on 260 students in grades X and XI. Data analysis was conducted using multiple linear regression. The results showed that peer conformity (t = 5.025; p &lt; 0.001) and task aversiveness (t = 3.707; p &lt; 0.001) had a significant influence on academic procrastination, both simultaneously and partially. The coefficient of determination (R² = 0.205) indicates that both variables contributed 20.5% to academic procrastination. This finding indicates that the higher the conformity and task aversiveness, the greater the tendency of students to engage in academic procrastination.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Peer Conformity, Task Aversiveness, Prokratinasi Akademik</em></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong><em>Abstrak </em></strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran konformitas teman sebaya dan task aversiveness terhadap prokrastinasi akademik pada siswa SMA. Prokrastinasi akademik merupakan kecenderungan untuk menunda tugas-tugas sekolah yang berdampak pada pencapaian akademik. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan teknik non-probability sampling pada 260 siswa kelas X dan XI. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konformitas teman sebaya (t = 5,025; p &lt; 0,001) dan task aversiveness (t = 3,707; p &lt; 0,001) memiliki pengaruh signifikan terhadap prokrastinasi akademik, baik secara simultan maupun parsial. Nilai koefisien determinasi (R² = 0,205) menunjukkan bahwa kedua variabel menyumbang 20,5% terhadap prokrastinasi akademik. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi konformitas dan task aversiveness maka semakin besar kecenderungan siswa melakukan prokrastinasi akademik.</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em> Konformitas Teman Sebaya, Ketidaksukaan pada tugas, Prokrastinasi Akademik</em></p> 2026-02-25T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133280 Kecerdasan Emosional dalam Melihat Perilaku Prososial Remaja di Surabaya 2026-02-25T03:16:01+00:00 Wisnu Prima Atmaja wisnuprima27@gmail.com Suroso wisnuprima27@gmail.com Isrida Yul Arifiana wisnuprima27@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Adolescence is an important stage of development in the formation of the ability to manage emotions and build positive social relationships. This study aims to determine the relationship between emotional intelligence and prosocial behavior in adolescents in Surabaya. This study uses a quantitative research method with a correlational approach. The subjects of the study were grade VIII students at SMP Negeri 27 Surabaya who were selected using the Cluster Random Sampling technique. Data collection was carried out using the emotional intelligence scale and prosocial behavior scale that had been tested for validity and reliability. Data analysis was carried out using the Product Moment correlation technique. The results showed that there was a positive and significant relationship between emotional intelligence and prosocial behavior. This finding indicates that the higher the emotional intelligence possessed by adolescents, the higher their tendency to behave prosocially. This study is expected to be an input for schools, teachers, and parents to pay more attention to the development of emotional intelligence as an effort to foster prosocial behavior in adolescents.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Adolescent; Emotional Intelligence; Prosocial Behavior</em></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><em>Masa remaja merupakan tahap perkembangan yang penting dalam pembentukan kemampuan mengelola emosi dan membangun hubungan sosial yang positif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dan perilaku prososial pada remaja di Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII di SMP Negeri 27 Surabaya yang dipilih dengan teknik Cluster Random Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala kecerdasan emosional dan skala perilaku prososial yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan dengan teknik korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara kecerdasan emosional dan perilaku prososial. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kecerdasan emosional yang dimiliki remaja, maka semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk berperilaku prososial. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak sekolah, guru, dan orang tua untuk lebih memperhatikan pengembangan kecerdasan emosional sebagai salah satu upaya untuk menumbuhkan perilaku prososial pada remaja.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em> Kecerdasan Emosional; Perilaku Prososial; Remaja</em></p> 2026-02-25T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133279 Hubungan Fanatisme dan Konformitas terhadap Perilaku Konsumtif pada Penggemar JKT48 di Surabaya 2026-02-25T03:10:45+00:00 Maulana Akbar Aditya Juniorakbar22@gmail.com Amanda Pasca Rini Juniorakbar22@gmail.com Nindia Pratitis Juniorakbar22@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>This study was conducted to determine the relationship of fanaticism and conformity to consumptive behavior in jkt48 fans in Surabaya. This study uses quantitative methods using correlational methods. Sampe in this study were 270 participants with the criteria of men and women aged 12-30 years and fans of JKT48. The sampling technique used purposive sampling. Measurement of consumptive behavior data using a scale proposed by Lina &amp; Rosyid (1997). Measurement of conformity scale data using a scale from aspects of Baron &amp; Bryne (2005). Measurement of fanaticism scale data Ismail (2008). The results of multiple regression analysis show that there is a relationship between fanaticism and conformity to consumptive behavior (f value = 3.604 with a significance of 0.000) which means that there is a significant positive relationship, meaning that the three hypotheses of this study are accepted. Based on the results of the study, the authors hope that the research subjects will be able to minimize consumptive behavior by being able to distinguish between needs and desires, and prioritize more important needs so as not to be tempted to buy unnecessary items.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Fanaticism, Conformity, Consumptive Behavior</em></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan fanatisme dan konformitas terhadap perilaku konsumtif pada penggemar jkt48 di Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan metode korelasional. Sampe pada penelitian ini sebanyak 270 partisipan dengan kriteria Pria dan wanita yang berusia 12-30 tahun serta menggemari JKT48. Teknik pengambilan sampe menggunakan purposive sampling. Pengukuran data perilaku konsumtif menggunakan skala yang dikemukakan oleh Lina &amp; Rosyid (1997). Pengukuran data skala konformitas menggunakan skala dari aspek Baron &amp; Bryne (2005). Pengukuran data skala fanatisme Ismail (2008). Hasil analisis regresi bergamda menunjukkan terdapat hubungan antara fanatisme dan konformitas terhadap perilaku konsumtif (nilai f=3.604 dengan signifikasi 0,000) yang berarti terdapat hubungan positif yang signifikan, artinya ketiga hipotesis penelitian ini diterima. Berdasarkan hasil penelitian, penulis berharap subjek penelitian mampu meminimalisir perilaku konsumtif dengan mammpu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta memprioritaskan kebutuhan yang lebih penting agar tidak tergoda membeli barang yang tidak perlu.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em> Fanatisme, Konformitas, Perilaku Konsumtif</em></p> 2026-02-25T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133278 Prokrastinasi Akademik pada Siswa SMA: Peran Efikasi Diri dan Konformitas Teman Sebaya 2026-02-25T01:04:25+00:00 Uswidatul Laili uswidatullaili1334@gmail.com Suhadianto uswidatullaili1334@gmail.com Herlan Pratikto uswidatullaili1334@gmail.com <p><strong><em>Abstract </em></strong></p> <p><em>The purpose of this study is to test the relationship between academic self-efficacy and peer conformity with academic procrastination among high school students. A quantitative approach with a correlational design was used. The participants were 305 students from a senior high school in Krian selected through stratified random sampling. The instruments applied concist of the academic self-efficacy scale, peer conformity scale, and academic procrastination scale. Multiple linear regression</em><em> applied as data analysis</em><em>. The results revealed a significant relationship between academic self-efficacy and peer conformity with academic procrastination. Academic self-efficacy showed a positive influence on procrastination, indicating that students with higher academic self-efficacy tend to delay academic tasks more frequently. Similarly, peer conformity also had a positive impact on academic procrastination. In conclusion, both variables contribute to procrastination behavior, highlighting the importance of increasing students' self-awareness and ability to manage social influence from their peers.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> academic self-efficacy, peer conformity, academic procrastination, high school students, multiple linear regression</em></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong><em>Abstrak </em></strong></p> <p><em>Tujuan penelitian ini adalah untuk mengujii hubungan antara efikasi diri akademik dan konformitas teman sebaya dengan prokrastinasi akademik Siswa SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian adalah 305 siswa SMA di Krian yang dipilih melalui teknik stratified random sampling. Instrumen yang diterapkan terdiri dari skala efikasi diri akademik, skala konformitas teman sebaya, dan skala prokrastinasi akademik. Regresi linier berganda</em><em> diterapkan sebagai analisis data</em><em>. temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara efikasi diri akademik dan konformitas teman sebaya dengan prokrastinasi akademik. Efikasi diri akademik berpengaruh positif terhadap prokrastinasi akademik, yang berarti semakin tinggi efikasi diri akademik siswa, maka semakin tinggi pula kecenderungan untuk menunda tugas akademik. Selain itu, konformitas teman sebaya juga berpengaruh positif terhadap prokrastinasi akademik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kedua faktor tersebut berkontribusi terhadap perilaku menunda tugas, sehingga perlu adanya upaya untuk meningkatkan kesadaran diri siswa dan kemampuan memilah pengaruh sosial dari lingkungan sekitarnya.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em> efikasi diri akademik, konformitas teman sebaya, prokrastinasi akademik, siswa SMA, regresi linear berganda</em></p> 2026-02-25T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133277 Membangun Komitmen Guru: Peran Iklim Organisasi dan Kepuasan Kerja di Lingkungan Sekolah Menengah 2026-02-25T00:54:57+00:00 Berlian Ica Herawati icaberlian402@gmail.com Adnani Budi Utami icaberlian402@gmail.com Sayidah Aulia Ul Haque icaberlian402@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Teacher commitment is a critical factor in the success of educational outcomes. However, a significant number of teachers continue to exhibit low levels of commitment, as reflected in limited involvement in student mentoring, inadequate preparation for teaching and learning activities, poor adherence to school regulations, and a tendency to seek alternative employment outside the teaching profession. This lack of commitment is believed to be influenced by various factors, including the organizational climate and job satisfaction. This study aims to investigate the relationship between organizational climate and job satisfaction with teacher commitment. A quantitative correlational approach was employed, using total sampling of 125 high school teachers in Menganti District, Gresik. Data were analyzed using Spearman’s Rho test with the assistance of SPSS 26 for Windows. The findings reveal that both organizational climate and job satisfaction are positively and significantly correlated with teacher commitment. These results highlight the importance of cultivating a supportive organizational climate and enhancing job satisfaction as strategies to reinforce teachers’ commitment to their schools.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong> <em>Teacher, Teacher Commitment, Organizational Climate, Job Satisfaction</em></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong><em>Abstrak </em></strong></p> <p><em>Komitmen guru berperan penting dalam keberhasilan pendidikan, namun masih banyak guru yang menunjukkan rendahnya komitmen, seperti minimnya keterlibatan dalam membimbing siswa, kurangnya kesiapan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran, kurangnya kepatuhan terhadap aturan sekolah dan guru yang justru mencari peluang kerja lain di luar profesi guru. Komitmen ini diduga dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya iklim organisasi dan kepuasan kerja. </em><em>Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menguji </em><em>apakah termuat hubungan antara iklim organisasi dan kepuasan kerja dengan komitmen guru. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan teknik total sampling terhadap 125 guru SMA di Kecamatan Menganti, Gresik. Analisis data dilakukan dengan uji Spearman Rho </em><em>dengan bantuan SPSS 26 for windows</em><em>. Hasil menunjukkan bahwa baik iklim organisasi dan kepuasan kerja memiliki hubungan positif dan signifikan dengan komitmen guru. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun iklim kerja yang positif dan meningkatkan kepuasan kerja guna memperkuat komitmen guru terhadap sekolah.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em> Guru, Komitmen Guru, Iklim Organisasi, Kepuasan Kerja</em></p> 2026-02-25T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133276 Phubbing di Kalangan Mahasiswa: Peran Kontrol Diri sebagai Faktor Internal 2026-02-24T12:48:26+00:00 Moh Ivan Fadil mivanfadil@gmail.com Hetti Sari Ramadhani mivanfadil@gmail.com Adnani Budi Utami mivanfadil@gmail.com <p>Abstract<br>This study aims to determine the relationship between self-control and phubbing behavior among university students. The issue of phubbing is increasingly prevalent alongside the growing use of smartphones among students, which can disrupt the quality of social interactions. This research employed a quantitative approach with a correlational design. The participants consisted of 265 active students from the Faculty of Psychology at the University of 17 August 1945 Surabaya, selected using purposive sampling. The instruments used were a self-control scale and a phubbing behavior scale. Data were analyzed using the Pearson Product Moment correlation technique. The results showed a significant negative relationship between self-control and phubbing behavior. Individuals with higher levels of self-control tend to exhibit lower tendencies to engage in phubbing. These findings indicate that self-control plays an important role in preventing phubbing behavior and in supporting healthy social interactions among students.<br>Keywords: Self-control, Phubbing, Students, Smartphone.<br>Abstrak<br>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri dengan perilaku phubbing pada mahasiswa. Fenomena phubbing semakin marak seiring dengan meningkatnya penggunaan smartphone di kalangan mahasiswa, yang dapat mengganggu kualitas interaksi sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 265 mahasiswa aktif dari Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kontrol diri dan skala perilaku phubbing. Teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kontrol diri dan perilaku phubbing. Individu dengan tingkat kontrol diri yang lebih tinggi cenderung memiliki kecenderungan phubbing yang lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa kontrol diri memiliki peran penting dalam mencegah perilaku phubbing serta mendukung interaksi sosial yang sehat di kalangan mahasiswa.<br>Kata kunci: Kontrol Diri, Phubbing, Mahasiswa, Smartphone.</p> 2026-02-24T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12843 Peran Kecemasan Sosial terhadap Kecanduan Sosial Media pada Remaja Awal 2025-01-24T10:24:34+00:00 Danu Dwi Prasetyo danuprasetyo814@gmail.com Sahat Saragih sahat@untag-sby.ac.id Eko April Ariyanto eko_ariyanto@untag-sby.ac.id <p>Abstract <br />Social anxiety factors are usually experienced in life because of addiction to playing social <br />media. The use of social media continues to increase among early adolescents along with the <br />development of technology, The research design used in this study uses a quantitative method <br />that goes through a cross-sectional approach. This study uses a simple regression analysis <br />with the help of SPSS version 22. This study uses a correlational approach to test the <br />relationship of the variables proposed to the hypothesis. Based on the results of the research <br />that has been carried out, it can be concluded that there is a significant positive relationship <br />between social anxiety and social media addiction in early adolescence with a <br />correlation/relationship value (R) of 0.711 and a coefficient of determination (R Square) of <br />0.505 which means that the social anxiety variable can reduce the social media addiction <br />variable in early adolescence by 50.5%. <br />Keywords: Social Media Addiction; Social Anxiety <br />Abstrak <br />Factor kecemasan sosial biasanya yang sering dialami dikehidupan karena kecanduan <br />bermain sosial media. Penggunaan sosial media terus meningkat di kalangan remaja awal <br />seiring perkembangan teknologi, Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini <br />menggunakan metode kuantitatif yang melalui pendekatan cross-sectional. Penelitian ini <br />memakai analisis regresi sederhana dengan bantuan SPSS versi 22. Penelitian ini memakai <br />pendekatan korelasional untuk menguji hubungan variabel yang diajukan pada hipotesis. <br />Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan yaitu terdapat hubungan <br />positif yang signifikasi antara kecemasan sosial dengan kecanduan sosial media pada remaja <br />awal dengan nilai korelasi/hubungan (R) sebesar 0,711 dan koefisien determinasi (R Square) <br />adalah 0,505 yang berarti bahwa variabel kecemasan sosial dapat menurunkan variabel <br />kecanduan sosial media pada remaja awal sebesar 50,5%. <br />Kata kunci: Kecanduan Sosial media; Kecemaan Sosial</p> 2025-12-12T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12850 Peran Penerimaan Diri dalam Meningkatkan Kebahagiaan Remaja Jalanan 2025-01-25T00:35:23+00:00 Eurika Agustina Maharani eurikagustinamaharani@gmail.com Tatik Meiyuntariningsih tatikmeiyun@untag-sby.ac.id Akta Ririn Aristawati eurikagustinamaharani@gmail.com <p>Abstract<br />This study aims to analyze the relationship between self-acceptance and happiness in street adolescents. The approach used in this study is a quantitative approach. The study sample consisted of adolescents between the ages of 12 and 18 years. Data collection was carried out using the Likert scale which includes a scale of self-acceptance and happiness. To analyze the data, the Product Moment correlation method is used. The results of the analysis showed a correlation coefficient (r) of 0.995 with a significance value of p = 0.001 which was smaller than 0.005. These findings indicate a significant positive relationship between self-acceptance and happiness in street adolescents. Thus, the hypothesis proposed in this study is acceptable.<br />Keywords: Happiness, self-acceptance, street youth<br />Abstrak<br />Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara penerimaan diri dan kebahagiaan pada remaja jalanan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian terdiri dari remaja berusia antara 12 hingga 18 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala Likert yang meliputi skala penerimaan diri dan kebahagiaan. Untuk menganalisis data, digunakan metode korelasi Product Moment. Hasil analisis menunjukkan koefisien korelasi (r) sebesar 0,995 dengan nilai signifikansi p = 0,001 yang lebih kecil dari 0,005. Temuan ini mengindikasikan adanya hubungan positif yang signifikan antara penerimaan diri dan kebahagiaan pada remaja jalanan. Dengan demikian, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat diterima.<br />Kata kunci: Kebahagiaan,penerimaan diri, remaja jalanan</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12852 Kesejahteraan Psikologis dan Perilaku Pengidolaan Pada Gen Z Penggemar K-Wave 2025-01-25T11:21:41+00:00 Meldini Syah Rian Nisti meldinisyah.rn@gmail.com Suroso meldinisyah.rn@gmail.com Isrida Yul Arifiana meldinisyah.rn@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>K-wave, or Hallyu, is a cultural phenomenon from South Korea that encompasses music, film, drama, language, cosmetics, and fashion, which has spread globally. Most of its fans are females aged 15-25, who make K-wave a part of </em><em>fan’s</em><em> personal identity. This phenomenon often involves </em><em>celebrity worship</em><em> , which can have positive effects, such as enhancing self-care, stress management, and life satisfaction, all of which are related to </em><em>psychological well-being</em><em>. This quantitative study involves 358 K-wave fans in Indonesia, with 192 respondents meeting the sample criteria. Data were collected through questionnaires on </em><em>psychological well-being</em><em> and </em><em>celebrity worship</em><em> . The analysis results show a significant positive relationship between the two variables (rxy = 0.341; p &lt; 0.01), where fans who engage in healthy </em><em>celebrity worship</em><em> tend to feel more connected to the culture and celebrities </em><em>fan’s</em><em> admire, thereby strengthening various dimensions of </em><em>psychological well-being</em><em> .</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong> <em>Celebrity Worship; </em><em>Generation Z</em><em>; </em><em>K-wave; </em><em>Pscyhological Well-being .</em></p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><em>K-wave, atau Hallyu, adalah fenomena budaya Korea Selatan yang mencakup musik, film, drama, bahasa, kosmetik, dan fashion, yang telah mendunia. Sebagian besar penggemarnya adalah perempuan berusia 15-25 tahun yang menjadikan K-wave bagian dari identitas diri. Fenomena ini sering melibatkan pengidolaan terhadap selebriti , yang dapat memberikan dampak positif, seperti meningkatkan self-care, manajemen stres, dan kepuasan hidup, yang berhubungan dengan kesejahteraan psikologis . Penelitian kuantitatif ini melibatkan 358 penggemar K-wave di Indonesia, dengan 192 responden yang memenuhi kriteria sampel. Data dikumpulkan melalui kuesioner mengenai kesejahteraan psikologis dan pengidolaan terhadap selebriti . Hasil analisis menunjukkan hubungan positif signifikan antara kedua variabel (rxy = 0,341; p &lt; 0,01), di mana penggemar pengidolaan terhadap selebriti yang sehat cenderung merasa lebih terhubung dengan budaya dan selebriti yang </em><em>individu</em><em> kagumi, serta memperkuat dimensi kesejahteraan psikologis .</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em> Pengidolaan terhadap selebriti ; Generasi Z; K-wave; Kesejahteraan psikologis .</em></p> 2025-12-12T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12856 Hubungan Konsep Diri dan Dukungan Sosial dengan Psychological Well-Being pada Mahasiswa Semester Akhir 2025-01-26T15:11:10+00:00 Satya Ananda Ratmo ratmotya@gmail.com Sahat Saragih sahat@untag-sby.ac.id Yanto Prasetyo ratmotya@gmail.com <p>Abstract<br />Final semester students transitioning from education to the workforce face various challenging aspects of life, leading to high levels of stress that negatively impact their psychological well-being. Psychological well-being is understood as a condition in which individuals are free from psychological pressure. The aim of this research is to examine whether there is a relationship between self-concept and social support with psychological well-being among final semester students, both partially and simultaneously. The study population consists of final semester students from the psychology faculty at Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, with a total of 312 respondents. The approach used is a correlational quantitative approach employing three measurement tools: Ryff’s Psychological Well-Being Scale, Self Concept Scale, and The Multidimensional Scale of Perceived Social Support. The results of the study indicate a significant relationship between self-concept and social support with psychological well-being among final semester students. Specifically, the self-concept variable shows a significant positive relationship with psychological well-being, while the social support variable also exhibits a significant positive relationship with psychological well-being.<br />Keywords: social support, self-adjustment, psychological well-being, final semester students.<br />Abstrak<br />Mahasiswa semester akhir yang mengalami transisi dari dunia pendidikan ke dunia pekerjaan melalui berbagai aspek kehidupan yang menantang mengalami tingkat stres tinggi yang berdampak negatif pada psychological well-beingnya. Psychological well-being dimaknai sebagai kondisi dimana individu terbebas dari tekanan psikologis. Tujuan penelitian ini untuk menguji apakah ada hubungan antara konsep diri dan dukungan sosial dengan psychological well- being pada mahasiswa semester akhir, baik secara parsial maupun secara simultan. Populasi penelitian adalah mahasiswa semester akhir fakultas psikologi di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, dengan jumlah responden penelitian sebanyak 312 mahasiswa. Pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan kuantitatif korelasional dengan menggunakan 3 (tiga) alat ukur, yaitu Ryff’s Psychological Well-Being Scale, Self Concept Scale, dan The Multidimensional Scale of Perceived Social Support Scale. Hasil penelitian secara simultan menunjukkan adanya hubungan yang signifikan variabel konsep diri dan dukungan sosial dengan psychological well-being pada mahasiswa akhir. Secara parsial variabel konsep diri dengan psychological well-being menunjukkan hasil yang signifikan dengan arah yang positif dan variabel dukungan sosial dengan psychological well-being menunjukkan hasil yang signifikan dengan arah yang positif.<br />Kata kunci: dukungan social, Konsep diri, psychological well-being, mahasiswa baru.</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12859 Perilaku Self-Injury pada Remaja: Dampak Religiusitas dan Dukungan Sosial dalam Proses Coping 2025-01-27T06:56:03+00:00 Shessa Alzuhra Putri Wibowo shessaa06@gmail.com Amanda Pasca Rini shessaa06@gmail.com Nindia Pratitis shessaa06@gmail.com <p><em> </em></p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>This study aims to examine the relationship between religiosity and social support on self-injury behavior among adolescents. It involved 176 adolescents aged 12–24 years who have engaged in or are currently engaging in self-injury behaviors. Data were collected through questionnaires assessing levels of religiosity, social support, and self-injury behavior. Partial correlation tests revealed that religiosity and social support have a significant negative influence on self-injury behavior, with t-scores of -5.059 and -6.831, respectively (p &lt; 0.05). This indicates that the lower the level of religiosity and social support received by adolescents, the higher their tendency to engage in self-injury. Multiple regression analysis revealed an R-square value of 0.445, indicating that religiosity and social support collectively explain 44.5% of the variation in self-injury behavior. The F-test yielded a value of F = 4.749 with a significance of 0.010 (p &lt; 0.05), confirming that these two variables are predictors of self-injury behavior. Additionally, the study found that religiosity contributes 18.26% and social support contributes 24.70% to the variation in self-injury behavior, with a total contribution of 42.96% (R Square). These findings highlight the significant role of both variables in influencing self-injury behavior.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Self-Injury, Religiosity, Social Support, Adolecents, Correlations</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><em>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara religiositas dan dukungan sosial terhadap perilaku melukai diri pada remaja. Penelitian ini melibatkan 176 remaja berusia 12–24 tahun yang telah atau sedang melakukan perilaku melukai diri. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang menilai tingkat religiositas, dukungan sosial, dan perilaku melukai diri. Uji korelasi parsial menunjukkan bahwa religiositas dan dukungan sosial memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap perilaku melukai diri, dengan t-score masing-masing -5.059 dan -6.831 (p &lt; 0.05). Ini menunjukkan bahwa semakin rendah tingkat religiositas dan dukungan sosial yang diterima oleh remaja, semakin tinggi kecenderungan mereka untuk melakukan perilaku melukai diri. Analisis regresi berganda menunjukkan nilai R-square sebesar 0.445, yang berarti religiositas dan dukungan sosial secara kolektif menjelaskan 44.5% variasi dalam perilaku melukai diri. Uji F menghasilkan nilai F = 4.749 dengan signifikansi 0.010 (p &lt; 0.05), mengonfirmasi bahwa kedua variabel ini adalah prediktor perilaku melukai diri. Selain itu, penelitian menemukan bahwa religiositas menyumbang 18.26% dan dukungan sosial menyumbang 24.70% terhadap variasi perilaku melukai diri, dengan total kontribusi sebesar 42.96% (R Square). Temuan ini menyoroti peran signifikan kedua variabel dalam mempengaruhi perilaku self-injury.</em></p> <p><em> </em></p> 2025-12-12T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12855 Peran Kepribadian Hardiness dan Dukungan Sosial dalam Mengatasi Academic Burnout pada Pelajar 2025-01-26T13:14:37+00:00 Annisa Fitriana Wulandari annisawulandari354@gmail.com Amanda Pasca Rini amanda@untag-sby.ac.id Nindia Pratitis nindia@untag-sby.ac.id <p>Abstract<br />The purpose of this study was to determine the relationship between academic burnout with hardiness personality and social support in Surabaya students. This study used a quantitative correlational strategy. The total respondents were 180 people and the research participants were Surabaya students aged between 13 and 18 years. The method used was the quota sampling approach. The tools used in this study were the tough personality scale, the social support scale, and the academic burnout scale. The data analysis method used in this study was multiple linear regression. The initial hypothesis was rejected because the results of the multiple regression analysis showed no correlation between academic burnout and social support or hardiness personality. The second hypothesis was rejected based on the results of the partial test which showed no substantial negative correlation between academic burnout and hardiness personality. Based on the results of the partial test, academic burnout and social support have a substantial negative relationship, thus supporting the third hypothesis.<br />Keywords: Academic Burnout; Personality Hardiness; Social Support; Students.<br />Abstrak<br />Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara academic burnout dengan kepribadian hardiness dan dukungan sosial pada mahasiswa Surabaya. Penelitian ini menggunakan strategi korelasional kuantitatif. Total responden sebanyak 180 orang dan partisipan penelitian adalah mahasiswa Surabaya yang berusia antara 13 sampai 18 tahun. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuota sampling. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kepribadian tangguh, skala dukungan sosial, dan skala academic burnout. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda. Hipotesis awal ditolak karena hasil analisis regresi berganda menunjukkan tidak ada korelasi antara academic burnout dengan dukungan sosial atau kepribadian hardiness. Hipotesis kedua ditolak berdasarkan hasil uji parsial yang menunjukkan tidak ada korelasi negatif yang substansial antara academic burnout dengan kepribadian hardiness. Berdasarkan hasil uji parsial, academic burnout dan dukungan sosial memiliki hubungan negatif yang substansial, sehingga mendukung hipotesis ketiga.<br />Kata kunci: Academic Burnout, Kepribadian Hardiness, Dukungan Sosial, Pelajar</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12862 Work Engagement pada Guru: Bagaimana Peranan Stress Kerja dan Resiliensi? 2025-01-27T11:47:01+00:00 Assyifa Rizqiyah Mufti assyifarizqiyahmufti09@gmail.com Diah Sofiah assyifarizqiyahmufti09@gmail.com Yanto Prasetyo assyifarizqiyahmufti09@gmail.com <p>Abstract<br />This study aims to determine the relationship between job stress and resilience with work engagement in teachers at the Attarbiyah Surabaya College Foundation. This research is a type of quantitative research using multiple regression analysis research. The subjects in this study were 123 teachers at the Attarbiyah Surabaya College Foundation. The data collection method was carried out through distributing questionnaires using a Likert scale. The results obtained simultaneously show a coefficient of 18,313 with a significance of 0.000 &lt;0.01, which means that there is a positive relationship between job stress and resilience with work engagement. The results obtained in partial regression of work stress with work engagement show a coefficient of -2.178 with a significance of 0.031 &lt;0.05 which means that the lower the work stress, the higher the work engagement, in partial regression between resilience and work engagement shows a coefficient of 4.757 with a significance of 0.000 &lt;0.05 which means<br />that the higher the resilience, the higher the work engagement.<br />Keywords: Work stress, Resilience, Work Engagement, Attarbiyah College Foundation<br />Abstrak<br />Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stress kerja dan resiliensi dengan work engagement pada guru di Yayasan perguruan Attarbiyah Surabaya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan penelitian analisis regresi berganda . Subjek dalam penelitian ini sebanyak 123 Guru di Yayasan perguruan Attarbiyah Surabaya. Metode pengumpulan data yang dilakukan melalui penyebaran kuesioner meggunakan skala likert. Adapun hasil yang diperoleh secara simultan menunjukkan koefiesien 18.313 dengan signifikansi 0.000 &lt;0.01 yang artinya terdapat hubungan positif antara stres kerja dan resiliensi dengan work engagement. Adapun hasil yang diperoleh secara regresi parsial stress kerja dengan work engagement menunjukkan koefisien -2.178 dengan signifikansi 0.031 &lt; 0.05 yang artinya rendah stress kerja maka semakin tinggi work engagement, secara regresi parsial antara resiliensi dengan work engagement menunjukkan koefisien 4.757 dengan signifikansi 0.000 &lt; 0.05 yang artinya semakin tinggi resiliensi maka semakin tinggi juga work engagement.<br />Kata kunci: Stres kerja, Resiliensi, Work Engagement, Yayasan Perguruan Attarbiyah</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12969 Kecenderungan Kecanduan Media Sosial pada Remaja: Bagaimana Peran Self Control dan Fear of Missing Out? 2025-02-12T13:10:38+00:00 Agniestia Maharani agniestiamaharani@gmail.com Yanto Prasetyo agniestiamaharani@gmail.com Hikmah Husniyah Farhanindya agniestiamaharani@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Social media addiction is a condition where individuals are unable to control intensive and excessive use of social media, which can trigger psychological and social disorders (Kootesh et al., 2016). Social media addiction can be influenced by several factors, one of which is self-control (Muna &amp; Astuti, 2014). Fear of missing out is another factor that influences social media addiction (Fathadika &amp; Afriani, 2018). This research design uses a quantitative approach with multiple linear regression. The sample consisted of 92 students from the Faculty of Psychology, University of 17 August 1945 Surabaya. The regression results show that the hypothesis is accepted, namely that there is a relationship between self-control and fear of missing out with the tendency to become addicted to social media in adolescents.</em></p> <p><em> </em></p> <p><em>Keywords: Tendencies, Addiction, Self-Control, Fear of Missing Out, Social Media.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kecanduan media sosial merupakan kondisi di mana individu tidak mampu mengendalikan penggunaan media sosial secara intensif dan berlebihan, yang dapat memicu gangguan psikologis dan sosial (Kootesh et al., 2016). Kecanduan media sosial dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah <em>self control</em> (Muna &amp; Astuti, 2014). <em>Fear of missing out </em>merupakan faktor lain yang mempengaruhi kecanduan media sosial (Fathadika &amp; Afriani, 2018). Desain penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan regresi linier berganda. Sampel berjumlah 92 Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Hasil regresi menunjukkan hipotesis diterima, yakni adanya hubungan antara <em>self contro</em>l dan <em>fear of missing out</em> dengan kecenderungan kecanduan media sosial pada remaja.</p> <p> </p> <p>Kata Kunci: Kecenderungan, Kecanduan, Self Control, Fear Of Missing Out, Sosial Media</p> 2025-12-12T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12968 Psychological Well-Being pada Masa Quarter Life Crisis, Bagaimana Peran Resiliensi? 2025-02-12T13:05:34+00:00 Anastasia Puji Pratiwi anastasiapujipratiwi@gmail.com Tatik Meiyuntariningsih anastasiapujipratiwi@gmail.com Hetti Sari Ramadhani anastasiapujipratiwi@gmail.com <p>Abstract <br>Everyone undergoes the cycle of life and passes through various stages of development throughout their journey, including the early adulthood period (20-30 years), which is vulnerable to feelings of confusion, uncertainty, and pressure in determining life direction, referred as quarter life crisis. This study aims to identify the positive correlation between resilience and psychological well-being in individuals experiencing a quarter-life crisis. The population consists of 147 individuals, analyzed using Pearson Product Moment (r = 0.842), indicating a positive correlation between resilience and psychological well-being. Resilience accounts for 70.9% of psychological well-being.</p> <p>Keywords: Resilience, Psychological Well-being, Quarter Life Crisis</p> <p>&nbsp;</p> <p><br>Abstrak <br>Setiap orang akan menjalani siklus kehidupan dan melintasi berbagai tahap perkembangan sepanjang perjalanan hidupnya, termasuk menghadapi periode dewasa awal (20-30 tahun) yang rentan merasa kebingungan, ketidakpastian, dan tekanan dalam menentukan arah hidup, dikenal sebagai quarter life crisis. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi korelasi positif antara resiliensi dengan psychological well-being pada individu yang mengalami quarter life crisis. Populasinya ialah 147, dan dianalis melalui Pearson Product Moment (r= 0,842), sehingga resiliensi dengan psychological well-being berkorelasi secara positif, Sumbangan efektif resiliensi sebesar 70,9% kepada psychological well-being.<br>Kata kunci: Resiliensi, Psychological Well-being, Quarter Life Crisis</p> 2025-12-12T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12932 Kontribusi Kepemimpinan Transformasional dan Resiliensi dengan Burnout pada Karyawan 2025-02-04T08:14:34+00:00 Bomantara Haryono bomantara2299@gmail.com Diah Sofiah diahsofiah@untag-sby.ac.id Yanto Prasetyo yanto_prasetyo@untag-sby.ac.id <p>Abstract<br />This research aims to analyze the relationship between relationship transformasional leadership, resilience, and burnout. Burnout is often a problem for workers. Through a quantitative approach, data was collected from workers who work. The research results show that there is a significant relationship between transformational leadership and resilience and Burnout. Workers with high levels of transformational leadership tend to have high resilience, thereby reducing the tendency to burnout. Data analysis was carried out using multiple linear regression to test the relationship between variables. The research results show that transformational leadership and resilience have a significant negative relationship with Burnout workers (R = 0.945, p &lt; 0.05). These findings are expected to provide insight for the development of intervention programs aimed at increasing transformational leadership and resilience and reducing burnout in workers.<br />Keywords: Burnout, Resilience, Transformational Leadership<br />Abstrak<br />Perusahaan saat ini menghadapi tantangan dalam kinerja organisasi melalui perilaku yang lebih proaktif dari karyawan, seperti kepemimpinan transformasional, tetapi juga juga kontribusi tambahan yang bermanfaat bagi perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa adanya hubungan antara kepemimpinan transformasional, resiliensi, dan burnout pada pekerja MyRepublic Surabaya. Burnout sering kali menjadi masalah bagi pekerja. Setelah melakukan hasil uji mean empirik dan mean hipotetik, terbukti bahwa banyak pekerja MyRepublic yang mengalami burnout. Melalui pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan dari pekerja . Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kepemimpinan transformasional dan resiliensi dengan burnout. Pekerja dengan kepemimpinan transformasional yang tinggi cenderung memiliki resiliensi yang tinggi, sehingga mengurangi kecenderungan burnout. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda untuk menguji hubungan antara variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional dan resiliensi memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan Burnout pada pekerja (R = 0,945 p &lt; 0,05). Temuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi pengembangan program intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan kepemimpinan transformasional dan resiliensi serta mengurangi burnout pada pekerja.<br />Kata kunci: Burnout, Resiliensi, Kepemimpinan Transformasional</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12929 Kontribusi Modal Psikologis dan Kebersyukuran dalam Mengurangi Stres Kerja Guru Sekolah Dasar 2025-02-04T05:26:58+00:00 Fernanda Marnitio Pratanu f.marnitio@gmail.com Dyan Evita Santi f.marnitio@gmail.com Rahma Kusumandari f.marnitio@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>The teaching profession has become increasingly demanding and complex in recent times. This study aims to examine the relationship between psychological capital and gratitude with job stress among elementary school teachers. This research is a quantitative study using multiple linear regression correlation techniques. The participants in this study consisted of 193 elementary school teachers in the Surabaya area. Data collection was conducted by distributing questionnaires both online and offline using a Likert scale. The instruments used included the STJSS scale with 39 items, the PCQ scale with 30 items, and the GRAT scale with 42 items. Data analysis was carried out using correlation tests, and the findings of this study indicate a significant negative relationship between psychological capital and gratitude with job stress among teachers. Psychological capital showed a significant negative correlation with job stress. Meanwhile, gratitude showed a positive but non-significant relationship with job stress. It can be concluded that elementary school teachers can manage job stress effectively if they possess strong psychological capital, whereas gratitude is not a suitable predictor for reducing job stress among teachers.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Psychological Capital, Gratitude, Job Stress Among Teachers</em></p> <p><strong><em>&nbsp;</em></strong></p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p>Profesi guru semakin dewasa ini semakin berat dan kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara modal psikologis dan kebersyukuran dengan stres kerja guru sekolah dasar. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan teknik korelasi regresi linier berganda. Partisipan penelitian ini sebanyak 193 guru sekolah dasar di wilayah Kota Surabaya. Metode pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuisioner secara online maupun offline dengan menggunakan skala likert. Instrumen yang digunakan terdiri dari skala STJSS sejumlah 39 aitem, skala PCQ sejumlah 30 aitem, dan skala GRAT sejumlah 42 aitem. Teknik analisis data dilakukan dengan uji korelasi yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara modal psikologis dan kebersyukuran dengan stres kerja guru. Modal psikologis dengan stres kerja guru menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara modal psikologis dengan stres kerja guru. Kebersyukuran dengan stres kerja guru menunjukkan adanya hubungan positif yang tidak signifikan antara kebersyukuran dengan stres kerja guru. Dapat disimpulkan bahwa guru sekolah dasar dapat mengelola tekanan stres kerja apabila memiliki modal psikologis yang baik, sedangkan kebersyukuran tidak dapat sebagai prediktor yang tepat untuk menurunkan tekanan stres kerja guru.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em> Modal Psikologis, Kebersyukuran, Stres Kerja Guru</em></p> 2025-12-12T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12920 Peran Family Function dan Resiliensi dalam Menekan Kecemasan Korban Revenge Porn 2025-02-03T03:18:40+00:00 Salwa Aretha Putri Arianti ssalwaaretha@gmail.com IGAA Noviekayati ssalwaaretha@gmail.com Amherstia Pasca Rina ssalwaaretha@gmail.com <p>Abstract<br />Revenge porn is a form of Gender – Based Online Violence (GBOV) that has a significant impact on the psychological well – being of victims, one of which is anxiety, which can disrupt their social and emotional lives. This study aims to analyze the role of family function and resilience in reducing anxiety among revenge porn victims. This research employs a quantitative approach, involving 90 respondents aged 16 – 29 years who have experienced revenge porn and reside in East Java. The sampling technique was conducted using purposive sampling and snowball sampling, while data collection utilized a Likert scale, including the anxiety scale (Nevid, 2005), family function scale (Epstein, 1978), and resilience scale (Connor &amp; Davidson, 2003). The findings indicate that, simultaneously, family function and resilience have a negative relationship with anxiety. Partially, both family function and resilience also show a significant negative correlation with anxiety. These results emphasize that good family function and high levels of resilience can help revenge porn victims manage their anxiety effectively.<br />Keywords: Anxiety; Family Function; Resilience; Revenge Porn<br />Abstrak<br />Revenge porn merupakan salah satu bentuk Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang memiliki dampak signifikan terhadap kesejahteraan psikologis korban, salah satunya adalah kecemasan yang dapat mengganggu kehidupan sosial dan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran family function dan resiliensi dalam mengurangi kecemasan pada korban revenge porn. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 90 responden berusia 16 – 29 tahun yang pernah mengalami revenge porn dan berdomisili di Jawa Timur. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dan snowball sampling, serta pengumpulan data menggunakan skala Likert yang meliputi skala kecemasan (Nevid, 2005), skala family function (Epstein, 1978), dan skala resiliensi (Connor &amp; Davidson, 2003). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, family function dan resiliensi memiliki hubungan negatif dengan kecemasan. Secara parsial, family function dan resiliensi juga memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan kecemasan. Temuan ini menegaskan bahwa family function yang baik serta tingkat resiliensi yang tinggi dapat membantu korban revenge porn dalam mengelola kecemasan mereka.<br />Kata kunci: Family Function; Kecemasan; Resiliensi; Revenge Porn</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12910 Konflik Peran Ganda dan Keterikatan Kerja Karyawan Perempuan dalam Setting Industri 2025-01-31T16:54:08+00:00 Nadziro Kamalia nadzirokamalia@gmail.com Niken Titi Pratitis nadzirokamalia@gmail.com Isrida Yul Arifiana nadzirokamalia@gmail.com <p>Abstract<br />This research aims to determine the relationship between work family conflict and work engagement among female employees in the industrial sector. Role conflict refers to the condition where individuals experience pressure due to conflicting demands between work and family. Meanwhile, work engagement is a positive state in which individuals possess energy, dedication, and full focus in carrying out their work. This study employs a quantitative method with a correlational design. The sampling technique was conducted through purposive sampling, involving 122 female employees who work in the industrial sector and have dual roles. The research instruments use a role conflict scale based on the theory of Greenhaus and Beutell (1985) and a work engagement scale based on the theory of Bakker and Schaufeli (2004). The data obtained were analyzed using Pearson Product Moment correlation tests. The results indicate a significant positive relationship between work family conflict and work engagement among female employees in the industrial sector. This indicates that the higher the role conflict experienced, the higher the work engagement of female employees. Time-based, pressure-based, and behavior-based role conflicts are the main factors influencing work engagement, which consists of the aspects of vigor, dedication, and absorption<br />Keywords: Work Family Conflict;Work Engagement;Female Employees in the Industry<br />Abstrak<br />Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konflik peran ganda dan keterikatan kerja pada karyawan perempuan di sektor industri. Konflik peran ganda merupakan kondisi di mana individu mengalami tekanan akibat tuntutan peran yang bertentangan antara pekerjaan dan keluarga. Sementara itu, keterikatan kerja adalah kondisi positif di mana individu memiliki energi, dedikasi, dan fokus penuh dalam melaksanakan pekerjaan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah partisipan sebanyak 122 karyawan perempuan yang bekerja di sektor industri dan memiliki peran ganda. Instrumen penelitian ini menggunakan skala konflik peran ganda yang disusun berdasarkan teori Greenhaus dan Beutell (1985) serta skala keterikatan kerja berdasarkan teori Bakker dan Schaufeli (2004). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara konflik peran ganda dan keterikatan kerja pada karyawan perempuan di sektor industri. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi konflik peran ganda yang dialami, maka semakin tinggi juga keterikatan kerja karyawan perempuan. Konflik peran berbasis waktu, tekanan, dan perilaku menjadi faktor utama yang memengaruhi keterikatan kerja yang terdiri dari aspek vigor, dedication, dan absorption.<br />Kata kunci: Konflik Peran Ganda; Keterikatan Kerja; Karyawan Perempuan di Sektor Industri</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12905 Hubungan Work Life Balance dan Self Efficacy dengan Organizational Citizenship Behavior pada Karyawan 2025-01-31T09:27:05+00:00 Marsella Margaretha marsellamargaretha2003@gmail.com Diah Sofiah diahsofiah@untag-sby.ac.id Yanto Prasetyo yanto_prasetyo@untag-sby.ac.id <p>Abstract<br />Companies currently are facing the challenge of improving organizational performance through more proactive employee behaviors, such as Organizational Citizenship Behavior, which not only depends on the achievement of primary tasks but also on additional contributions that benefit the organization. Several factors are believed to influence Organizational Citizenship Behavior, such as Work Life Balance and Self Efficacy. However, the relationship between these three factors has not been extensively explored, particularly within the context of organizations in Indonesia. Organizational Citizenship Behavior is one form of voluntary behavior that is highly beneficial to companies. Using a quantitative approach, data was collected from employees as respondents. The results of the study indicate a significant relationship between Work Life Balance and Self Efficacy with Organizational Citizenship Behavior. Employees with a high level of Work Life Balance tend to have higher Self Efficacy, which in turn increases the likelihood of exhibiting Organizational Citizenship Behavior. Data analysis was conducted using multiple linear regression to examine the relationships between variables. The results show that both Work Life Balance and Self Efficacy have a strong positive relationship with Organizational Citizenship Behavior (R = 0.694, p &lt; 0.05). Overall, this study suggests that companies should maintain a positive work environment to ensure that levels of Work Life Balance, Self Efficacy, and Organizational Citizenship Behavior among employees remain high.<br />Keywords: Organizational Citizenship Behavior, Self Efficacy, Work Life Balance<br />Abstrak<br />Perusahaan saat ini menghadapi tantangan dalam meningkatkan kinerja organisasi melalui perilaku yang lebih proaktif dari karyawan, seperti Organizational Citizenship Behavior, yang tidak hanya bergantung pada pencapaian tugas utama, tetapi juga kontribusi tambahan yang bermanfaat bagi organisasi. Beberapa faktor yang diduga mempengaruhi Organizational Citizenship Behavior adalah Work Life Balance serta Self Efficacy. Namun, hubungan antara ketiga faktor ini belum banyak dieksplorasi secara mendalam, khususnya dalam konteks organisasi di Indonesia. Organizational Citizenship Behavior merupakan salah satu bentuk perilaku sukarela yang sangat menguntungkan bagi perusahaan. Melalui pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan dari responden yang merupakan karyawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara Work Life Balance dan Self Efficacy dengan Organizational Citizenship Behavior. Karyawan dengan Work Life Balance yang tinggi cenderung memiliki Self Efficacy yang lebih tinggi pula, sehingga meningkatkan kecenderungan munculnya perilaku Organizational Citizenship Behavior. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda untuk menguji hubungan antara variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Work Life Balance dan Self Efficacy memiliki hubungan positif yang sangat signifikan dengan Organizational Citizenship Behavior (R = 0,694, p &lt; 0,05). Secara keseluruhan, penelitian ini menyarankan agar perusahaan dapat mempertahankan lingkungan kerja yang positif agar tingkat Work Life Balance, Self Efficacy, dan Organizational Citizenship Behavior pada kalangan pekerja tetap tinggi.<br />Kata kunci: Organizational Citizenship Behavior, Self Efficacy, Work Life Balance</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12887 Peran Kecerdasan Emosi dalam Mengurangi Stres Kerja pada Karyawan 2025-01-30T11:44:46+00:00 Adam Alamsyah adamalmsyh31@gmail.com Mamang Efendy adamalmsyh31@gmail.com Herlan Pratikto adamalmsyh31@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>This study aims to determine the relationship between emotional intelligence and job stress. This research employs a quantitative approach with a correlational quantitative method. The sampling technique used in this study was the Krejcie technique, with a total of 181 respondents. Data analysis was conducted using Spearman's Rho technique with the assistance of SPSS version 16 for Windows. The statistical analysis results on the relationship between the emotional is indicating a significant negative relationship between emotional intelligence and job stress. This means that the higher the level of emotional intelligence in employees, the lower the level of job stress. Conversely, the lower the level of emotional intelligence in employees, the higher the level of job stress experienced by employees.</em></p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><strong><em>Keyword: </em></strong><em>Emotional Intelligence; Job Stress</em></p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara kecerdasan emosi dengan stres kerja. Penelitian ini menggunakan jenis kuantitatif dengan metode kuantitatif dengan metode kuantitatif korelasional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik <em>Krejcie </em>dengan total partisipan 181 responden. Teknik analisi data menggunakan teknik <em>Spearman’s Rho </em>dengan bantuan program <em>SPSS versi 16 for Windows</em>. Hasil uji analisis statistik hubungan variabel kecerdasan emosi dengan variabel stres kerja yaitu terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kecerdasan emosi dengan stres kerja. Artinya, semakin tinggi tingkat kecerdasan emosi pada karyawan maka akan semakin rendah tingkat stres kerja. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah tingkat kecerdasan emosi pada karyawan maka semakin tinggi tingkat stres kerja pada karyawan.</p> <p> </p> <p><strong><em>Kata kunci: </em></strong><em>Kecerdasan Emosi: Stres Kerja</em></p> 2025-12-12T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12871 OCB pada Karyawan yang Sudah Menikah, Bagaimana Peran Work-Life Balance dan Perceived Organizational Support? 2025-01-28T08:19:58+00:00 Sofiatul Azizah sofiatulazzh82@gmail.com Yanto Prasetyo sofiatulazzh82@gmail.com Hikmah Husniyah Farhanindya sofiatulazzh82@gmail.com <p>Abstract<br />This study aims to determine whether there is a relationship between organizational citizenship behavior with work-life balance and perceived organizational support in married employees at Apartment. X. This analysis independent variable work-life balance and perceived organizational support with dependent variable organizational citizenship behavior. This research is a type of quantitative research using the correlational method. The sampling technique in this study used a random sampling method where the subjects were taken from the entire population of 86 respondents of Apartment employees. X employees who are married. The results of this study indicate that the first hypothesis is accepted, work-life balance and perceived organizational support have a positive relationship with organizational citizenship behavior. The second hypothesis is also accepted which shows that there is a positive relationship between work-life balance and organizational citizenship behavior. Meanwhile, the third hypothesis is not accepted, which means that there is no relationship between perceived organizational support and organizational citizenship behavior.<br />Keywords: Work-Life Balance, Perceived Organizational Support, Employee, Organizational Citizenship Behavior<br />Abstrak<br />Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara organizational citizenship behavior dengan work-life balance dan perceived organizational support pada karyawan yang sudah menikah di Apartemen. X. Analisis ini variabel independen work-life balance dan perceived organizational support dengan variabel dependen organizational citizenship behavior. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode korelasional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode random sampling yang dimana subjek diambil dari keseluruhan populasi sebanyak 86 responden karyawan Apartemen. X yang sudah menikah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hipotesis pertama diterima, work-life balance dan perceived organizational support memiliki hubungan positif dengan organizational citizenship behavior. Hipotesis kedua juga diterima yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara work-life balance dengan organizational citizenship behavior. Sedangkan, untuk hipotesis ketiga tidak diterima yang berarti tidak ada hubungan antara perceived organizational support dengan organizational citizenship behavior.<br />Kata kunci: Work-Life Balance, Perceived Organizational Support, Karyawan, Organizational Citizenship Behavior</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12806 Fanatisme dan Impulsive Buying Pembelian Merchandise pada Penggemar K-Pop NCT 2025-01-20T11:26:56+00:00 Dian Listiyana Sari dianlsty.29@gmail.com Herlan Pratikto dianlsty.29@gmail.com Suhadianto dianlsty.29@gmail.com <p><strong><em>Abstract </em></strong></p> <p><em>Fanaticism towards brands, characters or products often drives impulsive buying, where purchasing decisions are driven more by emotions and social existence rather than rational needs. This behavior often aims to show loyalty, increase self-pride, or strengthen social identity, but risks causing financial problems and regret if uncontrolled. This research aims to determine the relationship between fanaticism and impulsive purchases of merchandise among NCT K-Pop fans (NCTzen). From 3,111 Instagram followers, 250 participants aged 18-30 years were taken using Issac's table. With a quantitative approach and product moment analysis using SPSS 16. The results of this research show a significant positive relationship between fanaticism and impulsive buying. As a result, the higher the level of fanaticism, the greater the likelihood of impulsive merchandise purchases.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> I</em><em>mpulsive buying, fanaticism, K-Pop, NCT, merchandise</em></p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><strong><em>Abstrak </em></strong></p> <p>Fanatisme terhadap merek, tokoh, atau produk sering mendorong impulsive buying, di mana keputusan pembelian lebih didorong emosi dan keberadaan sosial daripada kebutuhan rasional. Perilaku ini sering bertujuan menunjukkan loyalitas, meningkatkan kebanggaan diri, atau memperkuat identitas sosial, namun berisiko menimbulkan masalah finansial dan penyesalan jika tidak terkendali. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara fanatisme dengan pembelian impulsif merchandise pada penggemar K-Pop NCT (NCTzen). Dari 3.111 pengikut Instagram, diambil 250 partisipan berusia 18-30 tahun menggunakan tabel Issac. Dengan pendekatan kuantitatif dan analisis product moment menggunakan SPSS 16. Hasil penelitian ini menunjukkan hubungan positif signifikan antara fanatisme dan pembelian impulsif. Hasilnya, semakin tinggi tingkat fanatisme, semakin besar kemungkinan pembelian merchandise secara impulsif.</p> <p> </p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong> <em>Impulsive buying</em>, fanatisme, K-Pop, NCT, merchandise</p> <p><em> </em></p> 2025-12-12T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12861 Perilaku Konsumtif Pengguna E-Commerce Shopee: Bagaimana Peran Gaya Hidup Hedonis dan Kontrol Diri? 2025-01-27T11:46:56+00:00 Talitha Adriyanti Zabrina adriyantizabrina@gmail.com Diah Sofiah adriyantizabrina@gmail.com Hikmah Husniyah Farhanindya adriyantizabrina@gmail.com <p>Abstract<br />Consumptive behavior can result in waste, anxiety and feelings of insecurity in individuals. Consumer behavior in individuals can be influenced by various factors, including hedonic lifestyle and self-control. This research aims to analyze the relationship between hedonic lifestyle and self-control and consumer behavior among Shopee e-commerce users. The type of research used is quantitative correlational with multiple regression analysis techniques. There were 282 participants in this research. The research results show that hedonic lifestyle and self-control have a very significant relationship with consumer behavior, shown by obtaining a significance value of 0.000 (p&lt;0.01). Partially, hedonic lifestyle shows a t value of 11.296 with a significance of 0.000 (p&lt;0.01). This means that there is a very significant positive relationship between hedonic lifestyle and consumer behavior. Meanwhile, self-control shows a t value of -3.114 with a significance of 0.002 (p&lt;0.01). This means that there is a very significant negative relationship between self-control and consumer behavior.<br />Keywords: Consumptive Behavior; Hedonistic Lifestyle; Self-Control; Shopee users<br />Abstrak<br />Perilaku konsumtif dapat mengakibatkan timbulnya pemborosan, kecemasan, hingga perasaan tidak aman pada individu. Perilaku konsumtif pada individu dipengaruhi oleh berbagai macam faktor diantaranya yaitu gaya hidup hedonis dan kontrol diri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara gaya hidup hedonis dan kontrol diri dengan perilaku konsumtif pada pengguna e-commerce Shopee. Jenis penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif korelasional dengan teknik analisis regresi ganda. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 282 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup hedonis dan kontrol diri memiliki hubungan sangat signifikan dengan perilaku konsumtif, ditunjukkan melalui perolehan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p&lt;0,01). Secara parsial, gaya hidup hedonis menunjukkan nilai t sebesar 11,296 dengan signifikansi 0,000 (p&lt;0,01). Artinya ada hubungan positif yang sangat signifikan antara gaya hidup hedonis dengan perilaku konsumtif. Sementara kontrol diri menunjukkan nilai t sebesar -3,114 dengan signifikansi 0,002 (p&lt;0,01). Artinya ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara kontrol diri dengan perilaku konsumtif.<br />Kata kunci: Perilaku Konsumtif; Gaya Hidup Hedonis; Kontrol Diri; Pengguna Shopee</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12860 Loneliness dengan Regulasi Emosi dan Perilaku Agresi pada Emerging Adulthood yang Fatherless 2025-01-27T10:50:25+00:00 Dieva Putri Sefira dievaputrii02@gmail.com I Gusti Ayu Agung Noviekayati dievaputrii02@gmail.com Amherstia Pasca Rina dievaputrii02@gmail.com <p>Abstract<br />This study aims to analyze the relationship between Loneliness and emotion regulation on<br />aggressive behavior in fatherless emerging adults. Using a quantitative correlational<br />approach, the research involved 111 participants selected through purposive sampling. Data<br />were collected using the Aggression Questionnaire, the UCLA Loneliness Scale, a nd an<br />emotion regulation scale based on Gross s (1998) theory. The results indicate a significant<br />positive relationship between Loneliness and aggressive behavior, as well as a significant<br />negative relationship between emotion regulation and aggressive beh avior. These findings<br />highlight that individuals experiencing Loneliness are more prone to aggressive behavior,<br />particularly if they have low emotional regulation. This research contributes to the development<br />of psychological interventions to reduce aggres sive tendencies in fatherless adolescents.<br />Keywords:<br />Loneliness, Emotion Regulation, Aggressive Behavior, Emerging Adulthood,<br />Fatherless<br />Abstrak<br />Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara<br />Loneliness dan regulasi emosi<br />terhadap perilaku ag resi pada individu emerging adulthood yang mengalami kondisi<br />fatherless. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional, penelitian ini<br />melibatkan 111 partisipan yang dipilih melalui teknik purposive sampling . Data dikumpulkan<br />menggunakan skala Agg ression Questionnaire, UCLA Loneliness Scale, dan skala regulasi<br />emosi berdasarkan teori Gross (1998). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif<br />signifikan antara Loneliness dan perilaku agresi, serta hubungan negatif signifikan antara<br />regulasi emosi dan perilaku agresi. Temuan ini menegaskan bahwa individu yang mengalami<br />Loneliness lebih rentan terhadap perilaku agresi, terutama jika mereka memiliki regulasi<br />emosi yang rendah. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan intervensi<br />ps ikologis untuk mengurangi perilaku agresif pada remaja fatherless.<br />Kata Kunci:<br />Loneliness , Regulasi Emosi, Perilaku Agresi, Emerging Adulthood, Fatherless</p> 2025-09-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia