https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/issue/feed JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia 2026-04-19T08:08:44+00:00 Andik Matulessy jiwa@untag-sby.ac.id Open Journal Systems <p><strong>JIWA: Indonesian Journal of Psychology</strong>&nbsp;is a peer-reviewed journal published by the Faculty of Psychology, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia journal is published every September, December, Maret, and June. JIWA: Indonesian Journal of Psychology gives readers access to download articles for free. JIWA: Indonesian Journal of Psychology accepts articles in the field of psychology and is not limited to educational, developmental, clinical, industrial, and organizational psychology</p> https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133410 Peran Dukungan Orang Tua dan School Well-Being dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa 2026-04-19T05:56:34+00:00 Vanny Dwi Hermawati vannyhyppo@gmail.com Bawinda Sri Lestari vannyhyppo@gmail.com Herlan Pratikto vannyhyppo@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">This study aims to examine the relationship between parental support and school well-being with students' learning motivation. The subjects of this research were students of SMP Negeri 17 Surabaya, with a total population of 883 students. A sample of 125 students was selected using purposive sampling technique. The data were initially analyzed using multiple linear regression, which was later adjusted to the Spearman Rho method. The findings revealed that both parental support and school well-being simultaneously have a significant relationship with students' learning motivation. Furthermore, each independent variable also demonstrated a significant partial correlation with the dependent variable. The implications of this research highlight the essential role of emotional support and a positive school environment in fostering students' academic development.</span></em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Learning Motivation, Parental Support, School Well-Being</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Kajian memiliki tujuan guna mencari tahu hubungan antara dukungan orang tua dan </span><em><span style="font-weight: 400;">school well-being</span></em><span style="font-weight: 400;"> dengan motivasi belajar siswa. Subjek pada kajian ini adalah siswa SMP Negeri 17 Surabaya dengan jumlah populasi 883 siswa dan sampel sebanyak 125 siswa yang dipilih mengenakan </span><em><span style="font-weight: 400;">teknik purposive sampling</span></em><span style="font-weight: 400;">. Teknik analisis yang dikenakan yaitu regresi linear berganda, kemudian beralih menjadi Spearman Rho. Luaran kajian membuktikan bahwa dukungan orang tua dan </span><em><span style="font-weight: 400;">school well-being</span></em><span style="font-weight: 400;"> secara simultan memiliki hubungan yang signifikan dengan motivasi belajar, dan secara parsial tiap-tiap variabel bebas juga menunjukkan hasil signifikan. Implikasi dari kajian ini menekankan pentingnya dukungan emosional dan lingkungan dalam perkembangan akademik siswa.</span></p> <p><strong>Kata Kunci:</strong><span style="font-weight: 400;"> Dukungan Orang Tua, Motivasi Belajar, </span><em><span style="font-weight: 400;">School Well-Being</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133425 Self Concept dan Subjective Wellbeing dalam Online Disinhibition Effect Mahasiswa Pengguna Instagram 2026-04-19T08:08:44+00:00 Devinita Budiman devinitaa28@gmail.com Hetti Sari Ramadhani devinitaa28@gmail.com Adnani Budi Utami devinitaa28@gmail.com <p><strong>Devinita Budiman&nbsp;</strong></p> <p><strong>Hetti Sari Ramadhani</strong></p> <p><strong>Adnani Budi Utami&nbsp;</strong></p> <p><a href="mailto:devinitaa28@gmail.com"><span style="font-weight: 400;">devinitaa28@gmail.com</span></a></p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">The Relationship Between Self-Concept and Subjective Well-Being with Online Disinhibition Effect Among Instagram Users. The purpose of this study is to analyze the relationship between self-concept and subjective well-being with online disinhibition effect among students who have Instagram accounts. This study employs a quantitative correlational approach, utilizing purposive sampling for sample selection and the Lameshow formula to determine the sample size in this population. Data were collected through an online questionnaire distributed across several social media platforms. A negative relationship was found between self-concept and the online disinhibition effect. The second hypothesis was accepted, indicating a significant negative relationship between subjective well-being and the online disinhibition effect. The results of this study showed a significant relationship between self-concept and subjective well-being with the online disinhibition effect among college students with Instagram accounts, with an F value of 93.48 and significance of 0.000 (p&lt;0.05). This study concludes that self-concept and subjective well-being act as predictors of the online disinhibition effect among Instagram-using students. It is important for students to better understand themselves and enhance their awareness in maintaining appropriate behavior on social media, especially for those with multiple accounts, to avoid inappropriate behavior.</span></em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Online Disinhibition Effect, Self Concept, Subjective Wellbeing, Instagram</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Hubungan Konsep Diri dan Kesejahteraan Subjektif dengan Efek Disinhibisi Online pada Mahasiswa Pengguna Instagram. Tujuan penelitian ini yakni guna menganalisis hubungan antara self concept dan subjective wellbeing dengan online disinhibition effect pada mahasiswa yang memiliki akun Instagram. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan menerapkan teknik purposive sampling untuk pengambilan sampel serta penggunaan rumus Lameshow untuk menentukan jumlah sampel pada populasi di penelitian ini. Data dikumpulkan berdasarkan kuesioner yang disebarkan secara online dibeberapa platform media sosial. hubungan negatif antara self concept dan online disinhibition effect. Hipotesis kedua diterima, yaitu terdapat hubungan negatif yang signifikan antara subjective wellbeing dan online disinhibition effect. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara self concept dan subjective wellbeing dengan online disinhibition effect pada mahasiswa yang memiliki Instagram dengan nilai F sebesar 93,48 dengan signifikansi 0,000 (p&lt;0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa self concept dan subjective wellbeing berperan sebagai prediktor online disinhibition effect pada mahasiswa pengguna Instagram. Penting bagi mahasiswa untuk lebih mengenali diri dan meningkatkan kesadaran dalam menjaga perilaku di media sosial, terutama bagi mahasiswa yang memiliki akun ganda, guna menghindari perilaku yang tidak sesuai.</span></em></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Online Disinhibition Effect, Self Concept, Subjective Wellbeing, Instagram</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133424 Peran Moral Engagement Memediasi Antara Attitude Dan Intention to Corruption pada Mahasiswa 2026-04-19T07:22:30+00:00 Zeverina Nur Alifah Zahra zeverinaz@gmail.com Etik Darul Muslikah zeverinaz@gmail.com Eben Ezer Nainggolan zeverinaz@gmail.com <p><strong><em>Abstract&nbsp;</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Corruption is a serious problem that not only undermines governance but has also spread to various sectors, including higher education. Students, as agents of change, even show a permissive attitude toward corrupt behavior from their college days. This study aims to examine the relationship between attitude and intention to engage in corruption, as well as the role of moral engagement as a mediator among students. This study employs a quantitative approach with a correlational design. The subjects of this research are active students in Surabaya, with a population of 300,031 and a sample of 358 students selected using convenience sampling. Data were analyzed using mediation regression with the assistance of SPSS software and the PROCESS Macro Model 4. The results of the study indicate that attitudes toward corruption have a positive and significant relationship with the intention to engage in corruption. Additionally, moral engagement was found to partially mediate this relationship</span></em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Attitude, Intention to Corruption, Moral Engagement&nbsp;</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak&nbsp;</strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Korupsi merupakan permasalahan yang serius tidak hanya merusak tata kelola pemerintahan, tetapi juga telah merambah di berbagai sektor, termasuk perguruan tinggi. Mahasiswa sebagai agen perubahan bahkan menunjukkan kecenderungan permisif terhadap perilaku koruptif sejak di bangku kuliah. Kajian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara </span><em><span style="font-weight: 400;">attitude </span></em><span style="font-weight: 400;">dan </span><em><span style="font-weight: 400;">intention to corruption</span></em><span style="font-weight: 400;">, serta peran </span><em><span style="font-weight: 400;">moral engagement </span></em><span style="font-weight: 400;">&nbsp;sebagai mediator pada mahasiswa. Kajian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif di Surabaya dengan jumlah populasi 300.031 dan sampel sebanyak 358 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik </span><em><span style="font-weight: 400;">convience sampling.</span></em><span style="font-weight: 400;"> Data dianalisis menggunakan regresi mediasi melalui bantuan perangkat lunak SPSS dan PROCESS Macro Model 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap terhadap korupsi memiliki hubungan positif dan signifikan dengan niat untuk melakukan korupsi. Selain itu, moral engagement terbukti memediasi secara parsial hubungan tersebut.</span></p> <p><strong>Kata kunci:</strong> <em><span style="font-weight: 400;">Attitude, Intention to Corruption, Moral Engagement</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133423 Peran Grit dan Dukungan Orang Tua dalam PengambiIan Keputusan Karir pada Mahasiswa Akhir 2026-04-19T07:13:07+00:00 Ninik Fidayani Eva Novita Sari ninikfidayani878@gmail.com Yanto Prasetyo ninikfidayani878@gmail.com Yanto Prasetyo ninikfidayani878@gmail.com Hikmah Husniyah Farhanindya ninikfidayani878@gmail.com <p><strong><em>Abstract&nbsp;</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Final-year students who are about to choose a career are not only required to make decisions, but also to consider them carefully so as not to have a negative impact on their future. This study aims to determine the reIationship between grit and parental support on career decision-making among finaI-year students. This study uses a quantitative approach with a correlational method. The subjects in this study consisted of 130 final-year students selected using purposive sampIing. The instruments used were the Grit Scale, the Parental Support Scale, and the Carer Decision-Making Scale. The data analysis technique employed was multipIe regression anaIysis. The resuIts of the study indicate a significant positive reIationship between grit and parentaI support in career decision making. Partially, only parental support had a significant influence, while grit did not show a significant influence.</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Grit, Parental Support, Career Decision Making, FinaI Year Students</span></em></p> <p><br><br></p> <p><strong><em>Abstrak&nbsp;</em></strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Mahasiswa tingkat akhir yang akan memilih karir tidak hanya dituntut untuk mengambil keputusan, tetapi juga mempertimbangkan secara matang agar tidak berdampak negatif terhadap masa depannya. Temuan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara </span><em><span style="font-weight: 400;">grit</span></em><span style="font-weight: 400;"> dan dukungan orang tua terhadap pengambilan keputusan karir pada mahasiswa tingkat akhir. temuan ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasionaI. Sebanyak 130 mahasiswa tingkat akhir dijadikan subjek daIam temuan ini melaIui teknik purposive sampIing. AIat ukur yang digunakan meIiputi SkaIa Grit, SkaIa Dukungan Orang Tua, dan SkaIa pengambiian keputusan karir. Analisis data dilakukan menggunakan regresi berganda. Hasil temuan menunjukan adanya hubungan positif yang signifikan antara grit dan </span><em><span style="font-weight: 400;">support</span></em><span style="font-weight: 400;"> orang tua dengan pengambiIan keputusan karir. Namun secara parsial, hanya dukungan orang tua yang memiIiki pengaruh yang signifikan, sedangkan </span><em><span style="font-weight: 400;">grit </span></em><span style="font-weight: 400;">tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan.</span></p> <p><span style="font-weight: 400;"><br></span><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Grit, Dukungan Orang Tua, PengambiIan Keputusan Karir, Mahasiswa Akhir</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133422 Stres Akademik sebagai Pemicu Cyberloafing: Peran Status Mahasiswa Pekerja 2026-04-19T07:06:19+00:00 Khinanta Azzahra Al Jannah khinanazzahra@gmail.com Andik Matulessy khinanazzahra@gmail.com Nindia Pratitis khinanazzahra@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">The combination of studying and working places extra responsibilities on individuals, which can heighten stress within the educational setting. This situation may result in unproductive actions like engaging in online distractions during study time. This research intends to investigate how academic stress correlates with cyberloafing among students who also have jobs. A sample of 160 active students from the University of 17 Agustus 1945 in Surabaya was chosen using purposive sampling methods. The instruments utilized for this research comprise the Academic Stress Scale, grounded in Gadzella's theory, and the Cyberloafing Scale, derived from Akbulut's theory. Both measures have undergone tests for validity and reliability. The analysis through simple regression reveals a noteworthy positive correlation between academic stress and cyberloafing behavior. The results suggest that as academic stress rises, the likelihood of engaging in cyberloafing also increases. It is anticipated that these findings will be valuable for managing academic stress and provide useful insights for educators to help minimize ineffective online activities during learning sessions.&nbsp;</span></em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Academic stress; cyberloafing; dual role; working students.</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Peran ganda sebagai mahasiswa dan pekerja menciptakan tuntutan tambahan yang dapat meningkatkan stres di lingkungan akademis. Kondisi ini bisa menimbulkan perilaku negatif seperti cyberloafing selama proses belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara stres akademik dan cyberloafing di kalangan mahasiswa yang juga bekerja. Sebanyak 160 mahasiswa aktif dari Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya, dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling. Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Skala Stres Akademik yang berdasarkan teori Gadzella dan Skala Cyberloafing yang diadaptasi dari teori Akbulut. Keduanya telah diuji untuk validitas dan reliabilitasnya. Menurut analisis regresi sederhana, ada korelasi positif yang signifikan antara stres akademik dan cyberloafing. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat stres akademik terkait dengan kemungkinan cyberloafing. Diharapkan hasil ini dapat memberikan kontribusi dalam pengelolaan stres akademik dan memberikan panduan praktis bagi para pendidik untuk mengurangi perilaku online yang tidak produktif selama kegiatan belajar.&nbsp;</span></em></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Stres akademik; cyberloafing; peran ganda; mahasiswa yang bekerja.</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133421 Mengelola Kesepian: Self-Compassion dan Dukungan Sosial dalam Kehidupan Mahasiswa Rantau 2026-04-19T06:57:20+00:00 Emilia Nur Aini Putri emiliaputry8@gmail.com IGAA Noviekayati emiliaputry8@gmail.com Aliffia Ananta emiliaputry8@gmail.com <p><strong><em>Abstract&nbsp;</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Overseas students in their late teens are prone to loneliness because they have to adapt to a new environment without direct support from their families. This study aims to determine the role of self-compassion and social support in reducing loneliness levels among overseas students. This study uses a correlational quantitative approach with 183 overseas students aged 18–21 years as participants selected using incidental sampling techniques. The instruments used include scales measuring loneliness, self-compassion, and social support. Data analysis was conducted using correlation and regression tests. The results indicate that both self-compassion and social support are significantly negatively correlated with loneliness. This means that the higher the levels of self-compassion and social support, the lower the levels of loneliness experienced by students. These findings highlight the importance of psychological interventions that foster self-compassion and build strong social networks.&nbsp;</span></em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Social Support, Lonelines, Students Away from Home Late Adolescents, Self-Compassion.</span></em></p> <p><strong><em>Abstrak&nbsp;</em></strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Mahasiswa rantau pada tahap remaja akhir rentan mengalami kesepian karena harus beradaptasi dengan lingkungan baru tanpa dukungan langsung dari keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran </span><em><span style="font-weight: 400;">self-compassion</span></em><span style="font-weight: 400;"> dan dukungan sosial dalam mengurangi tingkat </span><em><span style="font-weight: 400;">loneliness</span></em><span style="font-weight: 400;"> pada mahasiswa rantau. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan 183 mahasiswa rantau berusia 18–21 tahun sebagai partisipan yang dipilih menggunakan teknik insidental sampling. Instrumen yang digunakan meliputi skala </span><em><span style="font-weight: 400;">loneliness</span></em><span style="font-weight: 400;">, </span><em><span style="font-weight: 400;">self-compassion</span></em><span style="font-weight: 400;">, dan dukungan sosial. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi dan regresi. Hasil menunjukkan bahwa baik </span><em><span style="font-weight: 400;">self-compassion</span></em><span style="font-weight: 400;"> maupun dukungan sosial berhubungan negatif signifikan dengan </span><em><span style="font-weight: 400;">loneliness</span></em><span style="font-weight: 400;">. Artinya, semakin tinggi tingkat </span><em><span style="font-weight: 400;">self-compassion</span></em><span style="font-weight: 400;"> dan dukungan sosial, semakin rendah tingkat kesepian yang dirasakan mahasiswa. Temuan ini menunjukkan pentingnya intervensi psikologis yang menumbuhkan welas asih pada diri dan membangun jejaring sosial yang kuat.</span></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong> <span style="font-weight: 400;">Dukungan Sosial, </span><em><span style="font-weight: 400;">Loneliness, </span></em><span style="font-weight: 400;">Mahasiswa Rantau, Remaja Akhir, </span><em><span style="font-weight: 400;">Self-Compassion.</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133420 Peran Dukungan Sosial dan Resiliensi dalam Meningkatkan Psychological Well-Being pada Dewasa Awal 2026-04-19T06:46:13+00:00 Mutiara Setya Putri Basuki mutiarasetya03@gmail.com Bawinda Sri Lestari mutiarasetya03@gmail.com Herlan Pratikto mutiarasetya03@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">The early stages of adulthood are marked by changes characterised by demands and challenges, which have the potential to affect an individual's psychological well-being. This present study was conducted to examine the relationship between social support and resilience and psychological well-being in individuals in the early adulthood age range. This study employed a quantitative approach using a correlational design. A total of 306 young adults residing in Surabaya were selected using purposive sampling. Data were collected through the distribution of a Likert-scale questionnaire to measure social support, resilience, and psychological well-being. This study analysed the data using Spearman's correlation. The findings revealed a significant positive relationship between social support and resilience with psychological well-being. This present study offers a contribution to enriching the understanding of the role of internal and external factors in shaping psychological well-being, particularly during the early adulthood phase.</span></em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Early Adulthood; Psychological Well-Being; Resilience; Social Support</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak&nbsp;</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Tahap awal kedewasaan ditandai oleh perubahan yang diwarnai oleh tuntutan hingga tantangan, yang berpotensi memengaruhi kesejahteraan psikologis individu. Penelitian ini dilakukan guna mengkaji adanya hubungan antara dukungan sosial dan resiliensi dengan psychological well-being pada individu rentang usia dewasa awal. Pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional digunakan dalam studi ini. Sebanyak 306 partisipan dewasa awal yang berdomisili di Surabaya dengan teknik purposive sampling. Perolehan data dilaksanakan dengan menyebarkan kuesioner berbasis skala Likert untuk mengukur dukungan sosial, resiliensi, serta psychological well-being. Penelitian ini menganalisis data menggunakan korelasi Spearman. Temuan menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dan resiliensi dengan psychological well-being. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperkaya pemahaman mengenai peran faktor internal dan eksternal dalam membangun psychological well-being, khususnya bagi fase dewasa awal.</span></em></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Dewasa awal; Dukungan Sosial: Psychological Well-Being; Resiliensi&nbsp;</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133419 Peran Kepuasan Kerja dalam Perilaku Quiet Quitting pada Karyawan Generasi Z 2026-04-19T06:34:23+00:00 Mohamad Rizky al Fazri rizkyalfazri4@gmail.com Diah Sofiah rizkyalfazri4@gmail.com Yanto Prasetyo rizkyalfazri4@gmail.com <p><strong><em>Abstract&nbsp;</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Quiet quitting is a workplace phenomenon that describes employees who work only according to their formal job descriptions without emotional involvement or additional contributions. This phenomenon frequently occurs among Generation Z, who have high expectations for job satisfaction. Job satisfaction is believed to play a role in reducing the tendency toward quiet quitting. This study aims to examine the relationship between job satisfaction and quiet quitting among Generation Z employees. The research used a quantitative correlational method involving 113 Generation Z employees aged 18–28 years, selected through purposive sampling. The instruments used include a job satisfaction scale and a quiet quitting scale. The results show a significant negative correlation between job satisfaction and quiet quitting (r = -0.482, p &lt; 0.01). This indicates that the higher the job satisfaction, the lower the tendency for quiet quitting among Generation Z employees.</span></em></p> <p><strong><em>Keywords </em></strong><em><span style="font-weight: 400;">: Generation z, Job Satisfaction, Quiet Quitting behavior</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak&nbsp;</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Quiet quitting</span></em><span style="font-weight: 400;"> adalah fenomena kerja yang menggambarkan perilaku karyawan hanya bekerja sesuai tugas formal tanpa keterlibatan atau kontribusi lebih. Fenomena ini kerap terjadi pada Generasi Z yang memiliki ekspektasi tinggi terhadap kepuasan kerja. Kepuasan kerja diyakini berperan dalam mencegah kecenderungan </span><em><span style="font-weight: 400;">quiet quitting</span></em><span style="font-weight: 400;">. Penelitian ini tujuannya guna memahami hubungan diantara kepuasan kerja dan </span><em><span style="font-weight: 400;">quiet quitting </span></em><span style="font-weight: 400;">atas karyawan Generasi Z. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan melibatkan 113 responden karyawan Generasi Z dengan rentang umur 18-28 tahun. Pengambilan sampel secara </span><em><span style="font-weight: 400;">purposive sampling</span></em><span style="font-weight: 400;">. Alat ukur yang dipakai meliputi skala kepuasan kerja dan skala </span><em><span style="font-weight: 400;">quiet quitting</span></em><span style="font-weight: 400;">. Hasil analisis menunjukkan ada korelasi negatif yang signifikan antara kepuasan kerja dan quiet quitting </span><em><span style="font-weight: 400;">(r = -0,482, p&lt;0,01)</span></em><span style="font-weight: 400;">. Artinya, semakin tinggi kepuasan kerja, maka semakin rendah kecenderungan quiet quitting pada karyawan Generasi Z.</span></p> <p><strong>Kata Kunci : </strong><span style="font-weight: 400;">Generasi Z, Kepuasan kerja</span><em><span style="font-weight: 400;">, Quiet Quitting</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133418 Peran Pola Asuh Otoriter dan Kritik Diri dalam Keputusan Karir Siswa Sekolah Menengah Atas 2026-04-19T06:30:48+00:00 Annisa Dian Hafsari annisadianhafsari0@gmail.com IGAA Noviekayati annisadianhafsari0@gmail.com Amherstia Pasca Rina annisadianhafsari0@gmail.com <p><strong><em>Abstract&nbsp;</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">This empirical research explores the relationship among authoritarian parenting and self-criticism with career decision-making among 10th and 11th grade students at SMA Wachid Hasyim 1 Surabaya. Utilizing a quantitative correlational design, a total of 210 students were recruited through purposive sampling. Data were gathered using validated and reliable instruments, which was pre-tested on 30 respondents. The findings revealed a statistically significant simultaneous correlation among authoritarian parenting and self-criticism with career decision-making (R = 0.966, p &lt; 0.05). Moreover, the partial test indicated that authoritarian parenting was significantly and positively associated with increased difficulty in making career decisions (p &lt; 0.05), indicating that the more authoritarian the parenting style, the more likely students were to face difficulties in making career decisions. Additionally, self-criticism also showed a significant positive relationship with career decision-making (p &lt; 0.05), suggesting that to a certain extent, self-criticism can encourage students to be more reflective and careful when determining their career choices.</span></em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> adolescents, authoritarian parenting, career decision-making, self-criticism.</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak&nbsp;</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Melalui penelitian ini, peneliti berupaya untuk mengeksplorasi korelasi antara pola asuh otoriter serta kecenderungan kritik terhadap diri sendiri dengan proses pengambilan keputusan karir pada peserta didik kelas X dan XI di SMA Wachid Hasyim 1 Surabaya. Studi dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional pada partisipan sebanyak 210 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive random sampling. Adapun instrumen yang digunakan meliputi skala pola asuh otoriter, skala kritik diri, dan skala pengambilan keputusan karir yang telah diuji coba terlebih dahulu pada 30 responden guna menjamin validitas dan reliabilitas instrumen. Hasil pengolahan data mengungkapkan adanya hubungan signifikan secara simultan antara pola asuh otoriter dan kritik diri terhadap kemampuan pengambilan keputusan karier, yang ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi R sebesar 0,966 dengan tingkat signifikansi di bawah 0,05 (p &lt; 0,05). Secara parsial, pola asuh otoriter memiliki hubungan positif signifikan dengan pengambilan keputusan karir (p &lt; 0,05), menggambarkan bahwa pola asuh otoriter yang tinggi dapat memperbesar risiko siswa mengalami kesulitan dalam menentukan arah kariernya. Sementara itu, kemampuan individu dalam mengkritisi diri sendiri secara signifikan berkorelasi positif dengan efektivitas mereka dalam menentukan pilihan karier (p &lt; 0,05), yang menunjukkan bahwa dalam kadar tertentu, kritik diri dapat mendorong siswa untuk lebih reflektif dan hati-hati dalam menentukan pilihan karirnya.</span></em></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Kritik diri, Pengambilan Keputusan Karir, Pola Asuh Otoriter, Remaja.</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133417 Niat Resign di Tengah Burnout dan Karier Tanpa Arah 2026-04-19T06:25:29+00:00 Salwa Nur Azizah salwanurazizah214@gmail.com Diah Sofiah salwanurazizah214@gmail.com Yanto Prasetyo salwanurazizah214@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">This study discusses the psychological conditions of employees related to career stagnation and work fatigue in the context of the intention to leave the job. The purpose of this research os to determine whether career plateau and burnout contribute to triggering turnover intention among employees. This study employeed a quantitative correlational design involing 169 employees of a private bank in Surabaya. The instruments used were the career plateau scale, burnout scale, and turnover intention scale. Data were analysed using Spearman Rho correlation. The findings indicate that career plateau and burnout have a positive relationship with turnover intention. These results highlight the importance of organizational attention to career development and psychological well- being as a preventive effort against employees’ intention to resign.</span></em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> burnout, career plateau, employees, turnover intention&nbsp;</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini membahas kondisi psikologis karyawan yang berkaitan dengan stagnasi karier dan kelelahan kerja dalam konteks niat untuk keluar dari pekerjaan.&nbsp; Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah </span><em><span style="font-weight: 400;">career plateau</span></em><span style="font-weight: 400;"> dan </span><em><span style="font-weight: 400;">burnout</span></em><span style="font-weight: 400;"> berperan dalam memicu </span><em><span style="font-weight: 400;">turnover intention</span></em><span style="font-weight: 400;"> pada karyawan. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan 169 karyawan bank swasta di Surabaya sebagai subjek. Instrumen yang digunakan meliputi skala </span><em><span style="font-weight: 400;">career plateau</span></em><span style="font-weight: 400;">, </span><em><span style="font-weight: 400;">burnout</span></em><span style="font-weight: 400;">, dan </span><em><span style="font-weight: 400;">turnover intention</span></em><span style="font-weight: 400;">. Teknik analisis data menggunakan korelasi </span><em><span style="font-weight: 400;">Spearman Rho</span></em><span style="font-weight: 400;">. Hasil penelitian menunjukkan bahwa </span><em><span style="font-weight: 400;">career plateau</span></em><span style="font-weight: 400;"> dan </span><em><span style="font-weight: 400;">burnout</span></em><span style="font-weight: 400;"> memiliki hubungan positif dengan </span><em><span style="font-weight: 400;">turnover intention</span></em><span style="font-weight: 400;">. Temuan ini menegaskan pentingnya perhatian organisasi terhadap pengembangan karier dan kesejahteraan psikologis sebagai langkah pencegahan terhadap niat keluar dari pekerjaan.</span></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> burnout, career plateau, karyawan, turnover intention</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133416 Ketahanan Psikologis sebagai Fondasi Adaptasi Karier Mahasiswa Pekerja 2026-04-19T06:22:33+00:00 Antika Nadia Nur Cahya Ningrum antikanadia53@gmail.com Suroso antikanadia53@gmail.com Karolin Rista antikanadia53@gmail.com <p><strong><em>Abstract&nbsp;</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Students balancing academic and work responsibilities often encounter complex challenges. The ability to adjust to career shifts is crucial for sustaining performance and personal growth. This research explores how psychological hardiness contributes to improving career adaptability among employed students. Utilizing a quantitative correlational approach, the study involved 386 active working students selected through purposive sampling. The instruments comprised a career adaptability scale covering four dimensions and a psychological hardiness scale with three core dimensions. Data were analyzed using correlation methods via statistical software. The results indicated that students with higher psychological hardiness tend to possess stronger career adaptability. In conclusion, hardiness serves as a vital psychological base that enables working students to manage dual roles, maintain productivity, and navigate career-related challenges effectively.</span></em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> career adaptability, career development, hardiness; psychological resilience, working students.&nbsp;</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak&nbsp;</em></strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Mahasiswa yang menjalani peran ganda sebagai pelajar dan pekerja menghadapi tantangan yang cukup kompleks. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan dinamika karier menjadi aspek penting dalam menjaga kinerja dan pengembangan diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran ketahanan psikologis yaitu </span><em><span style="font-weight: 400;">hardiness </span></em><span style="font-weight: 400;">dalam meningkatkan kemampuan adaptasi karier pada mahasiswa yang bekerja. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan melibatkan 386 mahasiswa aktif yang bekerja, dipilih melalui teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan mencakup skala adaptabilitas karier yang terdiri dari empat dimensi, serta skala </span><em><span style="font-weight: 400;">hardiness</span></em><span style="font-weight: 400;"> yang mencakup tiga dimensi utama. Data dianalisis menggunakan teknik korelasi dengan bantuan perangkat lunak statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dengan tingkat ketahanan psikologis yang tinggi cenderung memiliki kemampuan adaptasi karier yang lebih baik. Secara keseluruhan, </span><em><span style="font-weight: 400;">hardiness</span></em><span style="font-weight: 400;"> berfungsi sebagai fondasi penting yang membantu mahasiswa bekerja dalam menghadapi peran ganda, tetap produktif, dan mampu menghadapi tantangan karier secara efektif.</span></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> adaptabilitas karier, hardiness, ketahanan psikologis, mahasiswa bekerja, perkembangan karier,</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133415 Kesejahteraan Psikologis Wanita yang Memilih Childfree: Peran Kepuasan Hidup dan Dukungan Sosial 2026-04-19T06:18:38+00:00 Aflah Ikhtiyasa Nagrimukti aflahikhtiyasa@gmail.com Dyan Evita Santi aflahikhtiyasa@gmail.com Aliffia Ananta aflahikhtiyasa@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">This research explores the psychological well being of young adult women who chosen to remain childfree. The childfree choice often leads to social stigma that can affect an individual’s psychological condition. The aim of this study is to explore the role of life satisfaction and social support in the psychological well being of childfree women. This research used a quantitative approach with a correlational design. The participants were 116 early adult women aged 20-40 years who were married anf consciously chose to be childfree. The instruments used were the life satisfaction scale, social support scale, and psychological well being scale. Data were analyzed using multiple linear regression. The results showed that life satisfaction and social support jointly contribute to psychological well being, but only life satisfaction plays a significant role. It is concluded that the psychological well being of childfree women is more strongly influenced by their level of life satisfaction, while social support contributes when aligned with personal values.</span></em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> childfree, early adult women, life satisfaction, psychological well being, social support</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini mengkaji kesejahteraan psikologis pada wanita dewasa awal yang memilih untuk childfree. Pilihan childfree kerap menimbulkan stigma sosial yang memengaruhi kondisi psikologis individu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran kepuasan hidup dan dukungan sosial terhadap kesejahteraan psikologis wanita childfree. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan berjumlah 116 wanita dewasa awal berusia 20-40 tahun yang telah menikah dan memilih childfree secara sadar. Instrumen penelitian meliputi skala kepuasan hidup, skala dukungan sosial, dan skala kesejahteraan psikologis. Analisis data menggunakan regresi linier berganda. Hasil menunjukkan bahwa kepuasan hidup dan dukungan sosial bersama-sama berkontribusi terhadap kesejahteraan psikologis, namun hanya kepuasan hidup yang berperan secara signifikan. Disimpulkan bahwa kesejahteraan psikologis wanita childfree lebih dipengaruhi oleh tingkat kepuasan hidup, sementara dukungan sosial berperan apabila selaras dengan nilai hidup pribadi.</span></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> childfree, dukungan sosial, kepuasan hidup, kesejahteraan psikologis, wanita dewasa awal</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133413 Body Dissatisfaction pada Perempuan Dewasa Awal Ditinjau dari Intensitas Penggunaan Media Sosial dan Peran Objektifikasi Diri 2026-04-19T06:12:57+00:00 Assyifa Padma Ardi Nugroho syifapadmaaa@gmail.com Dyan Evita Santi syifapadmaaa@gmail.com Rahma Kusumandari syifapadmaaa@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Body dissatisfaction is a psychological condition in which individuals feel that their bodies do not conform to ideal appearance standards and tend to hold negative evaluations of their own bodies. This research aims to examine the relationship between social media use intensity and body dissatisfaction, as well as to evaluate the role of self-objectification as a moderating variable. A correlational quantitative approach was employed, involving 357 emerging adult female participants in Surabaya who actively use social media. This research instrument comprised three scales: the social media use intensity scale, the body dissatisfaction, and the self-objectification. The data were analyzed using moderated regression analysis. The results indicated that while both social media use intensity and self-objectification were positively associated with body dissatisfaction. However, self-objectification did not moderate the relationship between the two variables. In other words, both variables independently contribute to the level of body dissatisfaction among emerging adult women.</span></em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> body dissatisfaction, social media use, self-objectification, emerging adulthood</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Body dissatisfaction merupakan kondisi psikologis di mana individu merasa tubuhnya tidak sesuai dengan standar penampilan ideal dan cenderung memberikan penilaian negatif terhadap tubuhnya sendiri. Tujuan dari studi ini untuk mengkaji korelasi antara intensitas penggunaan media sosial dan body dissatisfaction, serta mengevaluasi peran objektifikasi diri sebagai variabel moderator. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif korelasional, dengan melibatkan 357 partisipan wanita dewasa awal di Surabaya yang aktif menggunakan media sosial. Instrumen dalam studi ini mencakup tiga skala, yaitu skala intensitas penggunaan media sosial, body dissatisfaction, dan objektifikasi diri. Data dianalisis menggunakan teknik moderated regression analysis. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa baik intensitas penggunaan media sosial maupun objektifikasi diri memiliki korelasi positif dengan body dissatisfaction. Namun demikian, objektifikasi diri tidak berperan sebagai moderator dalam hubungan tersebut. Dengan kata lain, kedua variabel ini secara independen berkontribusi terhadap tingkat body dissatisfaction pada perempuan dewasa awal.</span></em></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> body dissatisfaction, penggunaan media sosial, objektifikasi diri, dewasa awal</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133412 Optimisme Fresh Graduate dalam Mencari Kerja: Adakah Peranan Dukungan Sosial dan Kepercayaan Diri? 2026-04-19T06:10:56+00:00 Nur Hosna Widya Suharyuni nurhosna67@gmail.com Suroso nurhosna67@gmail.com Karolin Rista nurhosna67@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Fresh graduates are individuals who have completed higher education and are in a transitional phase toward entering the workforce. Challenges such as intense job competition and limited work experience often hinder their ability to secure employment, potentially leading to psychological pressure and a decline in self-confidence and optimism. This study aims to examine the relationship between social support and self-confidence with optimism among bachelor's degree graduates who are currently seeking employment in Surabaya. The research used a quantitative approach with a correlational design. A total of 335 undergraduate alumni participated in this study. The instruments used included a social support scale, a self-confidence scale, and an optimism scale. Data analysis was conducted using a non-parametric correlation test due to the data not meeting assumptions of normality and linearity. The findings revealed a positive and significant relationship between social support and optimism. This indicates that higher levels of social support are associated with greater optimism in facing the job search process. Furthermore, self-confidence also showed a positive and significant relationship with optimism, meaning that higher self-confidence leads to greater optimism during the job-seeking journey. These results are expected to serve as a foundation for developing psychological interventions to enhance optimism among recent graduates.</span></em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Fresh Graduate; Social Support; Self-Confidence; Optimism; Job Search.</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Fresh graduate ialah individu yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi serta sedang ada pada tahap peralihan menuju dunia kerja. Tantangan seperti ketatnya persaingan dan minimnya pengalaman sering kali menjadi penghalang dalam memperoleh pekerjaan, yang dapat menimbulkan tekanan psikologis serta menurunkan rasa percaya diri dan tingkat optimisme. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengkaji hubungan antara dukungan sosial serta kepercayaan diri dengan optimisme pada lulusan sarjana yang tengah mencari pekerjaan di Kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif pada desain korelasional. Sebanyak 335 lulusan sarjana menjadi partisipan dalam penelitian ini. Instrumen yang digunakan mencakup skala dukungan sosial, skala kepercayaan diri, dan skala optimisme. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi non-parametrik karena data tidak memenuhi asumsi normalitas dan linearitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara dukungan sosial dan optimisme. Artinya, semakin besar dukungan sosial yang diterima lulusan baru, semakin tinggi pula optimisme mereka dalam menghadapi proses pencarian kerja. Selain itu, kepercayaan diri juga memiliki hubungan positif serta signifikan pada optimisme, yang berarti bahwa makin tinggi kepercayaan diri yang dimiliki, semakin besar optimisme dalam menjalani proses pencarian pekerjaan. Hasil ini diharapkan menjadi dasar bagi pengembangan intervensi psikologis untuk meningkatkan optimisme lulusan baru</span></em></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Fresh Graduate; Dukungan Sosial; Kepercayaan Diri; Optimisme; Pencarian Kerja.</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133411 Mengenal Hubungan Hardiness dan Burnout pada Atlet Muda Taekwondo 2026-04-19T06:03:17+00:00 Muhammad Nur Firmansyah firmansyahnur73@gmail.com Suhadianto firmansyahnur73@gmail.com Karolin Rista firmansyahnur73@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Burnout in taekwondo athletes encompasses emotional exhaustion, a decline in personal achievement, and devaluation of sports activities. Hardiness is considered one of the contributing factors to the occurrence of burnout. This study aims to examine the relationship between hardiness and burnout among student taekwondo athletes in Surabaya. The research employed a quantitative correlational method involving 285 student athletes selected through purposive sampling. The measurement instruments used were the hardiness scale based on Kobasa’s theory (1979) and the burnout scale based on the Athlete Burnout Questionnaire (ABQ) developed by Raedeke &amp; Smith (2001). Data were analyzed using the Spearman Rho correlation test. The results indicated a significant positive relationship between burnout and hardiness, suggesting that higher levels of hardiness are associated with higher levels of burnout in taekwondo athletes, and vice versa. High levels of burnout among athletes can cause distractions during training and hinder performance. Therefore, further studies are needed to explore hardiness and other variables that may contribute to athlete burnout.</span></em></p> <p><strong><em>Keywords: </em></strong><em><span style="font-weight: 400;">Burnout; Hardiness; Student-athletes; Taekwondo</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Burnout pada atlet taekwondo mencakup kondisi kelelahan emosional, penurunan pencapaian pribadi, serta devaluasi terhadap aktivitas olahraga. Hardiness adalah salah satu penyebab dari adanya burnout yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara hardiness dengan burnout pada siswa atlet taekwondo di Kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan melibatkan 285 siswa atlet sebagai partisipan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan yaitu skala hardiness berdasarkan teori Kobasa (1979) dan skala burnout berdasarkan Athlete Burnout Questionnaire (ABQ) dari Raedeke &amp; Smith (2001). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman Rho. Hasil Penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara burnout dengan hardiness, yang artinya ketika hardiness tinggi, maka burnout pada atlet taekwondo akan tinggi pula dan begitu sebaliknya. Burnout pada atlet tinggi membuat distraksi terhadap latihan dan pencapainnya. Sehingga perlunya dikaji lebih lanjut terkait hardiness dan variabel lain yang menjadi penyebab burnout pada atlet.</span></em></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Atlet Pelajar; Burnout; Hardiness; Taekwondo</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133388 Saat Diri Diterima: Konsep Diri dan Dukungan Sosial sebagai Kunci Kesehatan Mental Remaja Panti 2026-04-15T12:49:07+00:00 Putri Nurul Qomariyah Putriqomariyah24@gmail.com IGAA Noviekayati Putriqomariyah24@gmail.com Aliffia Ananta Putriqomariyah24@gmail.com <p>Abstract</p> <p>Adolescents living in orphanages often face challenges in developing self-acceptance<br />due to a lack of social support and an unstable self-concept. This study aims to examine the relationship between self-concept and social support with self-acceptance among orphanage adolescents in the East Surabaya area. The method used is a correlational quantitative approach with a non-parametric technique using Spearman’s Rho test, as the data did not meet normality and linearity assumptions. The participants consisted of 256 adolescents aged 13–18 years, selected through quota sampling. The results demonstrate a very strong positive correlation between self-concept and self-acceptance (r = 0.905; p &lt; 0.05), as well as between social support and self-acceptance (r = 0.829; p &lt; 0.05). These findings highlight the crucial<br />role of strengthening self-concept and social support in promoting the psychological<br />well-being of orphanage adolescents.</p> <p>Keywords: self-concept, social support, self-acceptance, adolescents, orphanage.</p> <p>Abstrak</p> <p>Remaja yang tinggal di panti asuhan sering mengalami hambatan didalam membentuk penerimaan diri akibat kurangnya dukungan sosial serta juga konsep diri yang tidak stabil. Temuan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri serta juga dukungan sosial dengan penerimaan diri pada remaja panti asuhan di wilayah Surabaya Timur. Metode yang digunakan ialah kuantitatif korelasional dengan teknik non-parametric menggunakan uji Spearman’s Rho karena data tidak memenuhi asumsi normalitas serta juga linearitas. Partisipan berjumlah 256 remaja usia 13–18 tahun yang dipilih dengan teknik quota sampling. Hasil temuan membuktikkan adanya hubungan positif yang sangat kuat antara konsep diri serta juga penerimaan diri (r = 0,905; p &lt; 0,05) serta antara dukungan sosial serta juga penerimaan diri (r = 0,829; p &lt; 0,05). Temuan ini membuktikkan pentingnya penguatan konsep diri serta juga dukungan sosial bagi kesejahteraan psikologis remaja panti.</p> <p>Kata kunci: konsep diri, dukungan sosial, penerimaan diri, remaja, panti asuhan.</p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133409 Perbedaan Kematangan Karier Mahasiswa Ditinjau dari Jenis Kelamin dan Program Studi 2026-04-19T05:52:16+00:00 Faiz Wahyu Mirza Muhatta f41zwahyu@gmail.com Suhadianto f41zwahyu@gmail.com Herlan Pratikto f41zwahyu@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">In the globalization era, university students are expected not only to excel academically but also to be ready for the job market by developing career maturity. This study aimed to examine differences in career maturity based on gender and academic major. The research used a quantitative, non-experimental comparative design involving 375 active students from the University of 17 August 1945 Surabaya, selected through quota sampling. The instrument used was a career maturity scale developed based on Donald Super’s theory (1990), covering aspects of planning, exploration, decision-making, job knowledge, career preferences, and transition readiness. Data were analyzed using the Mann-Whitney U test due to non-normal distribution. The results showed no significant differences in career maturity based on gender or academic major. This study concludes that internal factors such as self-efficacy and self-control are likely more influential than demographic factors.</span></em></p> <p><strong><em>Keywords: </em></strong><em><span style="font-weight: 400;">academic major; career maturity, gender; student</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak&nbsp;</em></strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Pada era globalisasi, mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademis, tetapi juga harus siap menghadapi dunia kerja melalui pengembangan kematangan karier. Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan tingkat kematangan karier berdasarkan jenis kelamin dan program studi. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif non-eksperimental dengan partisipan sebanyak 375 mahasiswa aktif Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Instrumen pengumpulan data berupa skala kematangan karier yang dikembangkan berdasarkan teori Donald Super (1990), mencakup aspek perencanaan, eksplorasi, pengambilan keputusan, informasi dunia kerja, preferensi, dan kesiapan transisi. Teknik analisis menggunakan uji Mann-Whitney U karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam kematangan karier berdasarkan jenis kelamin maupun program studi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor internal seperti efikasi diri dan kontrol diri kemungkinan lebih berpengaruh terhadap kematangan karier dibanding faktor demografis.</span></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong> <span style="font-weight: 400;">gender; kematangan karier, mahasiswa, program studi</span><em><span style="font-weight: 400;">&nbsp;</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133408 Kecenderungan Perilaku Bullying pada Remaja: Bagaimana Peranan Konsep Diri dan Regulasi Emosi? 2026-04-19T05:46:14+00:00 Novi Anggraeni novianggraeni229@gmail.com Dyan Evita Santi novianggraeni229@gmail.com Rahma Kusumandari novianggraeni229@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">This study aims to examine the relationship between self-concept and emotion regulation with bullying tendencies in adolescents. The research used a quantitative method with a correlational approach. The subjects were junior high school students aged 12–15 years. The sampling technique used was quota sampling. The instruments used were the self-concept scale, emotion regulation scale, and bullying tendency scale, which were developed based on relevant theories. Data analysis was conducted using multiple regression to determine both simultaneous and partial relationships among variables. The results showed a significant relationship between self-concept and emotion regulation with bullying tendencies. The study concluded that adolescents with negative self-concept and maladaptive emotion regulation tend to show higher tendencies toward bullying behavior. This research is expected to contribute to the development of bullying prevention programs by taking into account adolescents' psychological aspects.</span></em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> adolescents; bullying behavior; emotion regulation; self-concept;</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Perilaku bullying merupakan tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang oleh seseorang atau kelompok terhadap individu yang dianggap lebih lemah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan regulasi emosi dengan kecenderungan perilaku bullying pada remaja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan jumlah responden sebanyak 301 siswa, yang dipilih menggunakan teknik kuota sampling. Skala penelitian meliputi skala konsep diri yang diadaptasi dari Goni dkk. (2011) dengan nilai cronbach alpha 0,976, skala regulasi emosi yang merujuk pada Thompson (1994) dengan nilai cronbach alpha 0,975, serta skala perilaku bullying yang merujuk pada Solberg dan Olweus (2003) dengan nilai cronbach alpha 0,978, yang keseluruhannya menunjukkan kualitas psikometri yang baik. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara konsep diri dan regulasi emosi dengan kecenderungan perilaku bullying pada remaja. Temuan ini menunjukkan bahwa remaja dengan konsep diri negatif dan regulasi emosi yang tidak adaptif lebih berpotensi untuk terlibat dalam perilaku bullying. Oleh karena itu, kedua variabel tersebut dapat menjadi prediktor terhadap kecenderungan bullying pada remaja.</span></p> <p><strong><em>Kata kunci: </em></strong><em><span style="font-weight: 400;">konsep diri; perilaku bullying;regulasi emosi; remaja</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133407 Transisi PAUD ke SD: Implikasinya terhadap Motivasi Kerja Guru 2026-04-19T05:41:57+00:00 Zafira Pramesti Ahmad Yani zafirapramestii25@gmail.com Adnani Budi Utami zafirapramestii25@gmail.com Sayidah Aulia'Ul Haque zafirapramestii25@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">This study was motivated by the pleasant transition policy from early childhood education to elementary school, which has generated different perceptions among teachers. This study aimed to determine if there is a relationship between teachers' perceptions of the policy and their work motivation in elementary schools. The study employed a quantitative correlational approach using the Spearman Brown technique with 82 first-grade teachers in Surabaya. Data were collected using manual and digital questionnaires via Google Forms. The results indicate a relationship between perceptions of the transition policy and work motivation. Teachers with a positive perception of the policy tend to be highly motivated at work. Conversely, low work motivation tends to accompany negative perceptions.</span></em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Teachers, Work Motivation, Perception, Elementary Schools</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebijakan transisi menyenangkan dari pendidikan anak usia dini ke sekolah dasar yang menimbulkan berbagai persepsi dikalangan guru. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apakah adanya hubungan antara persepsi guru terhadap kebijakan transisi yang menyenangkan pada motivasi kerja guru sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan menggunakan Teknik Spearman Brown pada partisipan berjumlah 82 guru kelas 1 di Surabaya. Instrumen pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuisioner angket manual serta digital menggunakan google form. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan antara variabel persepsi dengan motivasi kerja pada kebiajkan transisi yang menyenangkan, guru yang memiliki persepsi yang positif pada kebijakan transisi akan cenderung memiliki motivasi kerja yang tinggi. Sebaliknya, jika persepsi yang dihasilkan negating maka motivasi kerja cenderung rendah.</span></em></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Guru, Motivasi Kerja, Persepsi, Sekolah Dasar, Transisi Menyenangkan&nbsp;&nbsp;</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133406 Motivasi Mengajar Tumbuh dari Meaning of Work yang Dirasakan Guru 2026-04-19T05:36:53+00:00 Azalia Putri Salsabila Azaliaaputri14@gmail.com Adnani Budi Utami Azaliaaputri14@gmail.com Sayidah Aulia'Ul Haque Azaliaaputri14@gmail.com <p><strong><em>Abstract&nbsp;</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">This study aims to determine the relationship between the meaning of work and the work motivation of elementary school teachers, particularly during the enjoyable transition period from early childhood education to elementary school. During this phase, teachers are required to create an adaptive, supportive, and enjoyable learning environment for children who have just entered elementary school. Teachers' acceptance of the meaning of their work is an important factor in encouraging their work motivation. This study employs a quantitative approach using correlational techniques. The research subjects are 82 first-grade elementary school teachers involved in the student transition process from preschool to elementary school. The research instruments consist of scales measuring the meaning of work and work motivation. Data were analyzed using Spearman Brown correlation techniques. The results of the study indicate a positive and significant relationship between the meaning of work and teachers' work motivation. The higher the meaning teachers perceive in their work, the higher their work motivation. This finding underscores the importance of strengthening the meaning of work in enhancing teachers' work motivation during this critical transition phase.&nbsp;</span></em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> elementary education; elementary school teachers; meaning of work; work; transition from preschool to elementary school; work motivation</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak&nbsp;</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara meaning of work dengan motivasi kerja guru sekolah dasar khususnya pada masa transisi menyenangkan dari PAUD ke SD. Pada fase ini, guru dituntut untuk menciptakan lingkungan belajar yang adaptif, mendukung, dan menyenangkan bagi anak-anak yang baru saja memasuki jenjang sekolah dasar. Penerimaan guru terhadap makna pekerjaannya menjadi faktor penting dalam mendorong motivasi kerja mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik korelasional. Subjek penelitian adalah 82 guru kelas 1 sekolah dasar yang terlibat dalam proses transisi siswa dari pembelajaran anak usia dini ke sekolah dasar. Instrumen penelitian berupa skala meaning of work dan motivasi kerja. Data dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi Spearman Brown. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara meaning of work dan motivasi kerja guru. Semakin tinggi makna yang dirasakan guru terhadap pekerjaannya, semakin tinggi pula motivasi kerjanya. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan makna kerja dalam meningkatkan motibasi kerja guru selama fase transisi penting ini.</span></em></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> guru sekolah dasar; meaning of work; motivasi kerja; pendidikan dasar; transisi PAUD ke SD </span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133405 Orientasi Masa Depan pada Kesiapan Kerja Mahasiswa Tingkat Akhir 2026-04-19T05:30:57+00:00 Aisyah Isnaini aisyahisnainii@gmail.com Niken Titi Pratitis aisyahisnainii@gmail.com Isrida Yul Arifiana aisyahisnainii@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">This study aims to examine the association between future orientation and work readiness among final year students. Future orientation is defined as an individual's ability to set goals, expectations, and strategies to achieve a desired future. Work readiness, on the other hand, reflects the individual's abilities, skills, and attitudes in meeting the demands of the professional world. This research applies a quantitative approach with a correlational design. The subjects were 311 final year students from various universities. The sampling technique used was incidental sampling. The instruments applied in this study were a future orientation scale and a work readiness scale. Data were analyzed using the Pearson correlation technique with the help of statistical software. The findings revealed a significant positive relationship between future orientation and work readiness. These results indicate that students with a stronger future orientation tend to be more prepared to enter the workforce. Therefore, future orientation can be considered an important aspect in supporting students’ career readiness.</span></em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><span style="font-weight: 400;">:</span><em><span style="font-weight: 400;"> career planning, final year students, future orientation, job transition, work readiness.</span></em></p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan antara orientasi masa depan dengan kesiapan kerja pada mahasiswa tingkat akhir. Orientasi masa depan menggambarkan sejauh mana individu mampu menetapkan tujuan, harapan, dan strategi dalam mencapai masa depan yang diinginkan. Kesiapan kerja mencerminkan kemampuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan individu dalam menghadapi tuntutan dunia kerja secara profesional. Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 311 mahasiswa tingkat akhir dari berbagai perguruan tinggi. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode accidental sampling. Instrumen yang digunakan terdiri dari skala orientasi masa depan dan skala kesiapan kerja. Teknik analisis data menggunakan uji korelasi Pearson dengan bantuan perangkat lunak statistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara orientasi masa depan dan kesiapan kerja. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan orientasi masa depan yang lebih kuat cenderung memiliki kesiapan kerja yang lebih tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah orientasi masa depan merupakan salah satu faktor penting yang dapat meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja, serta dapat menjadi pertimbangan dalam penyusunan program pembinaan karir di perguruan tinggi.</span></p> <p><strong>Kata kunci</strong><span style="font-weight: 400;">: karier, kesiapan kerja, mahasiswa tingkat akhir, orientasi masa depan, transisi kerja.</span></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133397 Hubungan Digital Literacy Skill Dengan Problem Solving Pada Mahasiswa di Surabaya 2026-04-15T14:34:38+00:00 Sabrina Dana Puspita sabrinadana200@gmail.com Niken Titi Pratitis sabrinadana200@gmail.com Rahma Kusumandari sabrinadana200@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">University students in the digital era are required to have digital literacy skills to support their problem-solving abilities in both academic and social contexts. This study aims to examine the relationship between digital literacy skills and problem-solving abilities among students in Surabaya. The study employed a quantitative correlational design. The participants consisted of 118 students from various universities in Surabaya, selected using accidental sampling. The instruments used included a digital literacy scale based on technological, cognitive, and ethical aspects, and a problem-solving scale based on self-confidence, approach style, and personal control. Data analysis was conducted using non-parametric statistical methods. The results revealed a significant positive relationship between digital literacy skills and problem-solving abilities. In conclusion, students with higher digital literacy skills tend to have better abilities in addressing and resolving problems. These findings highlight the importance of digital literacy development as a key skill to support academic success and readiness to face challenges in the digital era.</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Digital Literacy, Problem Solving, Students, Surabaya</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Mahasiswa di era digital dituntut memiliki keterampilan literasi digital untuk mendukung kemampuan pemecahan masalah dalam berbagai aspek kehidupan akademik maupun sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keterampilan literasi digital dengan kemampuan pemecahan masalah pada mahasiswa di Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian adalah 118 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan berupa skala literasi digital berdasarkan aspek teknologi, kognitif, dan etika, serta skala pemecahan masalah yang mengacu pada aspek keyakinan diri, gaya pendekatan, dan kontrol pribadi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis non-parametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara keterampilan literasi digital dan kemampuan pemecahan masalah. Kesimpulannya, semakin tinggi tingkat literasi digital mahasiswa, maka semakin baik kemampuan mereka dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah. Temuan ini menunjukkan pentingnya pengembangan literasi digital sebagai salah satu keterampilan utama untuk mendukung keberhasilan akademik dan kesiapan menghadapi tantangan di era digital.</span></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata kunci:</strong><span style="font-weight: 400;"> Literasi Digital, Pemecahan Masalah, Mahasiswa, Surabaya</span></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133396 Work Life Balance dan Kepuasan Kerja: Studi pada Karyawan Industri Manufaktur 2026-04-15T14:28:07+00:00 Nylam Cahya Sridevianti nylamsridevianti@gmail.com Diah Sofiah nylamsridevianti@gmail.com Hikmah Husniyah Farhanindya nylamsridevianti@gmail.com <p><strong><em>Abstract&nbsp;</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Employees face pressure to simultaneously fulfill both professional and personal roles. An imbalance between these two can affect job satisfaction levels. This study aims to analyze the relationship between work-life balance and job satisfaction for employees. The method used was a quantitative correlational method through purposive sampling, involving 150 employees. The instruments used included the Hayman work-life balance scale and the Weiss job satisfaction scale, which have undergone validity and reliability testing. Analysis conducted using Pearson correlation showed a significant positive relationship between work-life balance and job satisfaction (r = 0.348; p = 0.000). This finding suggests that the better the work-life balance perceived by employees, the higher their job satisfaction. Therefore, organizations should pay attention to managing work-life balance to improve employee well-being.</span></em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Work Life Balance, </span></em><span style="font-weight: 400;">Job Satisfaction, Employees, Industrial Psychology</span></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Karyawan menghadapi tekanan untuk melaksanakan peran profesional dan pribadi secara bersamaan. Ketidakseimbangan antara kedua hal tersebut dapat mempengaruhi tingkat kepuasan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara keseimbangan kehidupan kerja dan kepuasan kerja bagi karyawan. Metode yang diterapkan adalah kuantitatif korelasional melalui teknik purposive sampling, melibatkan 150 pegawai. Alat yang digunakan meliputi skala keseimbangan kerja-hidup (Hayman) dan skala kepuasan kerja (Weiss), yang sudah melalui pengujian validitas dan reliabilitas. Analisis yang dilakukan dengan korelasi Pearson menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara keseimbangan kerja dan kepuasan pekerjaan (r = 0,348; p = 0,000). Penemuan ini menunjukkan bahwa semakin baik keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan yang dirasakan oleh karyawan, semakin tinggi juga kepuasan kerja mereka. Sehingga, organisasi harus memperhatikan pengelolaan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan.&nbsp;</span></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Work Life Balance, </span></em><span style="font-weight: 400;">Kepuasan Kerja, Karyawan, Psikologi Industri</span></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133395 Work Life Balance (WLB) dengan Kepuasan Kerja pada Guru 2026-04-15T14:21:35+00:00 Adzani Inez Arisandy adzaniinez244@gmail.com Diah Sofiah adzaniinez244@gmail.com Hikmah Husniyah Farhanindya adzaniinez244@gmail.com <p><strong><em>Abstract&nbsp;</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Teachers play various professional roles that can influence their work-life balance, which in turn affects job satisfaction. This study aims to examine the relationship between work-life balance and job satisfaction among teachers. A quantitative correlational approach was used. The subjects consisted of 47 teachers from SMPN 1 Ngronggot, Nganjuk, selected using the total sampling technique. The instruments used were the Work-Life Balance Scale by Fisher et al. (2009) and the Job Satisfaction Scale by Lester (1987). Data were analyzed using Pearson product-moment correlation. The results showed a significant positive relationship between work-life balance and job satisfaction (r = 0.407; p = 0.005). The higher the work-life balance, the higher the teachers’ job satisfaction. These findings highlight the importance of work-life balance in supporting teacher well-being and work performance.</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> job satisfaction; life balance; organizational psychology; teacher; work life balance</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak&nbsp;</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Guru menjalankan berbagai peran profesional yang dapat memengaruhi work life balance, akhirnya berpengaruh pada kepuasan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara work life balance dengan kepuasan kerja pada guru. Menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Sebanyak 47 guru SMP Negeri 1 Ngronggot, Nganjuk yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang dipakai adalah skala work life balance dari Fisher et al. (2009) dan skala kepuasan kerja dari Lester (1987). Analisis data dengan korelasi pearson product moment. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara work life balance dan kepuasan kerja (r = 0,407; p = 0,005). Semakin tinggi work life balance, semakin tinggi pula kepuasan kerja guru. Temuan ini menunjukkan pentingnya work life balance dalam mendukung kesejahteraan dan performa kerja guru.</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> guru; keseimbangan hidup; kepuasan kerja; psikologi organisasi; work life balance</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133394 Shyness dan Peer Attachment: Faktor Risiko atau Pelindung terhadap Problematic Internet Use pada Remaja? 2026-04-15T14:14:51+00:00 Cynthia Alinda Putri cclinda31@gmail.com Dyan Evita Santi cclinda31@gmail.com Aliffia Ananta cclinda31@gmail.com <p><strong><em>Abstract&nbsp;</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Adolescents are in a developmental stage where relationships with peers become the primary source of emotional support, social identity, and self-regulation. When attachment to peers is not fulfilled, characterized by poor communication, lack of trust, and feeling alienated from peers, it causes adolescents with poor peer attachment to tend to be isolated from their peers. Thus, shyness, or the condition of feeling uncomfortable in interactions and being prone to restlessness, makes adolescents withdraw from their environment. These two conditions encourage adolescents to seek comfort through the online world, which can trigger excessive and maladaptive internet use, commonly known as Problematic Internet Use. This reserach adopts a quantitative approach employing multiple linear regression analysis. The data were collected through a random cluster sampling method, involving a sample of 365 students from 2 (two) State Junior High Schools in Ponorogo, with sample age criteria of 13-15 years using a questionnaire that measures peer attachment, shyness, and problematic internet use. The findings of multiple linear regression analysis indicate that the significance values of peer attachment (X1) and shyness (X2) on problematic internet use (Y) are 0.000 (p &lt; 0.01), which indicates a highly significant relationship between the two independent variables and problematic internet use. This means that together, peer attachment and shyness can be very significant predictors of problematic internet use</span></em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Adolescent; Peer Attachment; Problematic Internet Use; Shyness</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Remaja berada pada tahap perkembangan di mana hubungan dengan teman sebaya menjadi sumber utama dukungan emosional, identitas sosial, dan regulasi diri. Ketika kelekatan dengan teman sebayanya tidak terpenuhi yang ditandai dengan buruknya komunikasi, kurangnya kepercayaan, dan merasa terasing dengan teman sebayanya menyebabkan remaja dengan tingkat kelekatan teman sebaya yang buruk cenderung terasingkan dari teman sebayanya sehingga malu atau disebut </span><em><span style="font-weight: 400;">shyness</span></em><span style="font-weight: 400;"> merupakan kondisi individu merasa tidak nyaman dalam berinteraksi, cenderung gelisah yang membuat remaja menarik diri dari lingkungannya. Kedua kondisi ini mendorong remaja untuk mencari kenyamanan melalui dunia maya yang dapat memicu penggunaan internet secara berlebihan dan maladaptif, biasa diketahui sebagai Problematic Internet Use. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis regresi linear berganda. Data pada penelitian ini dikumpulkan dengan teknik </span><em><span style="font-weight: 400;">random cluster sampling</span></em><span style="font-weight: 400;"> dengan jumlah sampel sebanyak 365 siswa pada 2 (dua) Sekolah Mengengah Pertama Negeri di Ponorogo, dengan kriteria usia sampel 13-15 tahun menggunakan kuisioner yang mengukur </span><em><span style="font-weight: 400;">peer attachment</span></em><span style="font-weight: 400;">, </span><em><span style="font-weight: 400;">shyness</span></em><span style="font-weight: 400;">, dan </span><em><span style="font-weight: 400;">problematic internet use</span></em><span style="font-weight: 400;">. Dari hasil analisis regresi linear berganda diketahui bahwa nilai signifikansi </span><em><span style="font-weight: 400;">peer attachment</span></em><span style="font-weight: 400;"> (X1) dan </span><em><span style="font-weight: 400;">shyness</span></em><span style="font-weight: 400;"> (X2) terhadap </span><em><span style="font-weight: 400;">problematic internet use</span></em><span style="font-weight: 400;"> (Y) sebesar 0,000 (p &lt; 0,01), yang mengindikasikan adanya hubungan sangat signifikan antara kedua variabel bebas tersebut dengan </span><em><span style="font-weight: 400;">problematic internet use</span></em><span style="font-weight: 400;">, artinya secara bersama-sama </span><em><span style="font-weight: 400;">peer attachment</span></em><span style="font-weight: 400;"> dan </span><em><span style="font-weight: 400;">shyness</span></em><span style="font-weight: 400;"> dapat menjadi prediktor yang sangat signifikan untuk </span><em><span style="font-weight: 400;">problematic internet use</span></em><span style="font-weight: 400;">.</span></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Adolescent; Peer Attachment; Problematic Internet Use; Shyness</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133393 Body Image dan Kepercayaan Diri: Studi pada Remaja Putri Pengguna Instagram 2026-04-15T14:04:28+00:00 Diajeng Nisak Rahmawati diajengnisa27@gmail.com Mamang Efendy diajengnisa27@gmail.com Herlan Pratikto diajengnisa27@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Social media, especially Instagram, has a big influence on how teenagers view their bodies, so it has the potential to affect self-confidence. The purpose of this study was to determine the relationship between body image and self-confidence in female adolescents using Instagram social media. The subjects in the study were 105 female adolescents aged 18-21 years who used Instagram. The sampling technique was a purpose sampling with a quantitative research design. Hypothesis testing using the product moment correlation test showed that there was a positive correlation between body image (X) and self-confidence (Y), which means that the hypothesis was accepted. This finding indicate that an improvement in body image is followed by an increase in self-confidence among late adolescent girls who use Instagram, and vice versa.</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Adolescent; Body Image; Self-Confidence</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Media sosial, khususnya instagram memiliki pengaruh besar pada remaja bagaimana memandang tubuh, sehingga berpotensi untuk mempengaruhi kepercayaan diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara body image dengan kepercayaan diri remaja akhir putri pengguna media sosial instagram. Subyek pada penelitian adalah remaja perempuan berusia 18 – 21 tahun yang menggunakan instagram berjumlah 105 orang. Teknik pengambilan sampling penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan desain penelitian kuantitatif. Pengujian hipotesis menggunakan uji korelasi product moment dan menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara body image (X) dengan kepercayaan diri (Y), yang mana berarti hipotesis diterima. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa peningkatan pada body image diikuti dengan peningkatan kepercayaan diri remaja akhir putri pengguna media sosial istagram, begitu juga sebaliknya.</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Body Image; Kepercayaan Diri; Remaja</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133392 Cyber Aggression di Kalangan Generasi Z Pengguna Instagram Ditinjau dari Self-Control dan Online Disinhibition 2026-04-15T13:55:30+00:00 Bella Eka Siste Saputri bellaakss02@gmail.com IGAA Noviekayati bellaakss02@gmail.com Aliffia Ananta bellaakss02@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Generation Z is a demographic highly active on social media platforms, particularly Instagram, where they express themselves and engage with others. However, improper use of these platforms can trigger cyber aggression behaviors. This study aims to explore the relationship between self-control and the online disinhibition effect on cyber aggression among Generation Z Instagram users in Surabaya. Using a quantitative correlational approach, the research involved 150 respondents aged 13 to 28, selected through purposive sampling. Data collection was conducted using psychological scales, and the results were analyzed with multiple linear regression. The findings reveal that self-control and the online disinhibition effect simultaneously have a significant influence on cyber aggression behavior. Individually, self-control negatively correlates with online aggression, meaning higher self-control reduces such behavior, while the online disinhibition effect shows a positive correlation, indicating that reduced online inhibitions increase cyber aggression. These results highlight the crucial need to strengthen self-control and digital awareness as effective strategies to prevent aggressive behaviors in the virtual space.</span></em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Cyber aggression, Generation Z, Instagram, Self-control, Online disinhibition effect</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Generasi Z ialah kelompok usia yang aktif menggunakan media sosial, khususnya Instagram, sebagai sarana berekspresi serta juga berinteraksi. Namun, penggunaan yang tidak bijak dapatlah memicu perilaku cyber aggression. Temuan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-control serta juga online disinhibition effect terhadap perilaku cyber aggression pada pengguna Instagram dari kalangan Generasi Z di Surabaya. Pendekatan kuantitatif korelasional digunakan dengan melibatkan 150 responden berusia 13–28 tahun, dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala psikologis serta juga dianalisis dengan regresi linier berganda. Hasil temuan membuktikkan bahwasanya self-control serta juga online disinhibition effect secara simultan memiliki hubungan signifikan terhadap perilaku cyber aggression. Secara parsial, self-control berhubungan negatif, sedangkan online disinhibition effect berhubungan positif terhadap agresi daring. Temuan ini menekankan pentingnya penguatan kontrol diri serta juga kesadaran digital didalam mencegah agresi di ruang maya.</span></em></p> <p><strong><em>Kata kunci</em></strong><em><span style="font-weight: 400;">: Cyber aggression, Generasi Z, Instagram, Self-control, Online disinhibition effect</span></em></p> <p>&nbsp;</p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133391 Quarter Life Crisis pada Mahasiswa Rantau: Bagaimana Peranan Harapan Orang Tua dan Kematangan Karier? 2026-04-15T13:48:34+00:00 Sophie Putri Florentine Laura sophieputri90632@gmail.com Devi Puspitasari sophieputri90632@gmail.com Eko April Ariyanto sophieputri90632@gmail.com <p><strong><em>Abstract&nbsp;</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Quarter life crisis is a phenomenon that occurs in early adulthood, characterized by feelings of worry, doubt, anxiety, frustration, and stress regarding various choices and decisions in the future. This study aims to determine the relationship between parental expectations and career maturity with quarter-life crisis in out-of-town students, especially those from outside Java. This study used a quantitative approach with 158 student aged 20-28 years and a purposive sampling technique. The analysis found that parental expectations have a positive relationship with quarter life crisis, meaning that the higher the parental expectations, the higher the quarter life crisis. Career maturity has a negative relationship with quarter-life crisis, meaning that individuals with a high level of career maturity will reduce the occurrence of quarter-life crisis. The findings of this study are expected to enable out-of-town students to manage negative emotions that can impact quarter life crisis.</span></em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Parental Expectations, Career Maturity, Quarter Life Crisis, overseas student, Out-Of-Town Student</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak&nbsp;</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">Quarter life crisis adalah fenomena yang berlangsung di dewasa awal dijumpai dengan perasaan khawatir, bingung, cemas, frustasi dan stress mengenai berbagai pilihan dan keputusan di masa depan. Penelitian ini bermaksud mencari tahu hubungan antara harapan orang tua dan kematangan karier dengan quarter life crisis pada mahasiswa rantau khususnya berasal dari luar pulau jawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jumlah responden 158 subjek berusia 20-28 tahun dan p</span></em><span style="font-weight: 400;">engambilan sampel </span><em><span style="font-weight: 400;">dengan teknik purposive sampling. Hasil analisis menemukan harapan orang tua memiliki hubungn positif dengan quarter life crisis, artinya semakin tinggi harapan orang tua, semakin meningkat pula quarter life crisis. Kematangan karier mempunyai hubungan negatif terhadap quarter life crisis, artinya individu dengan tingkat kematangan karier yang baik akan menurunkan terjadinya quarter life crisis. Temuan penelitian ini diharapkan mahasiswa rantau mampu dalam mengelolah emosi negatif yang dapat berdampak pada quarter life crisis</span></em></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> Harapan Orang Tua, Kematangan Karier, Quarter Life Crisis, Mahasiswa Rantau.</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133390 Peran Self regulation dan Social support terhadap Adiksi Media Sosial pada Pelajar SMK 2026-04-15T13:40:22+00:00 Muhamad Luki Efendi lukiefendi81@gmail.com Amanda Pasca Rini lukiefendi81@gmail.com Eko April Ariyanto lukiefendi81@gmail.com <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em><span style="font-weight: 400;">This study examines the relationship between self-regulation and social support with social media addiction among vocational high school students. Indonesia ranks high in both the number of social media users and the average duration of daily usage, which potentially increases the risk of addiction, particularly among adolescents. A correlational quantitative approach was used to determine the extent to which these two variables are associated with tendencies toward social media addiction. The findings of this study are expected to serve as a foundation for developing intervention strategies aimed at preventing and addressing social media addiction in educational settings..</span></em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> self regulation, social support, social media addiction, vocational school students</span></em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong><em>Abstrak</em></strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini mengkaji hubungan antara self regulation dan social support dengan adiksi media sosial pada pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Indonesia menempati peringkat tinggi dalam jumlah pengguna dan durasi penggunaan media sosial, yang berpotensi meningkatkan risiko adiksi, khususnya di kalangan remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional untuk melihat sejauh mana kedua variabel tersebut berkaitan dengan kecenderungan adiksi media sosial. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan strategi intervensi untuk pencegahan dan penanganan adiksi media sosial di lingkungan pendidikan.</span></p> <p><strong><em>Kata kunci:</em></strong><em><span style="font-weight: 400;"> self regulation, social support, </span></em><span style="font-weight: 400;">adiksi media sosial, pelajar SMK</span><em><span style="font-weight: 400;">.</span></em></p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/133389 Forgiveness sebagai Kunci Psychological Well-Being Pasca Hubungan Tanpa Status 2026-04-15T13:17:07+00:00 Muhammad Haykal Abdullah mhaykalabdullah99@gmail.com Devi Puspitasari mhaykalabdullah99@gmail.com Tatik Meiyuntariningsih mhaykalabdullah99@gmail.com <p>Abstract <br />This research was driven by the significance of forgiveness in enhancing psychological well-being among university students who have experienced non-committed romantic relationships in Surabaya. The study aimed to examine the relationship between forgiveness and psychological well-being among active students aged 18–25. A quantitative method with a correlational approach was employed, using purposive and incidental sampling techniques involving 348 students. Data analysis through the product moment correlation test yielded a correlation coefficient of 0.883 with a significan value of 0.000 (p &lt; 0.01), indicating a strong and highly significant positive relationship between forgiveness and psychological well-being. These findings support the hypothesis that higher levels of forgiveness are associated with greater psychological well-being among students following non-status romantic experiences. The resultseare consistent with previous studies that have linked forgiveness to improved psychological well-being.</p> <p>Keywords: forgiveness, psychological well-being, students, non-committed relationship, correlation.</p> <p>Abstrak <br />Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya forgiveness di dalam meningkatkan psychologicaliwell-being mahasiswa yang pernah menjalin hubungan tanpa status di Kota Surabaya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara forgiveness serta juga psychological well-being pada mahasiswa aktif usia 18-25 tahun. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan korelasional serta juga teknik purposive serta incidental sampling terhadap 348 mahasiswa. Analisis data menggunakan uji korelasi product moment membuktikan nilai korelasi 0,883 dengan signifikansi 0,000 (&lt;0,01), yang mengindikasikan hubungan positif serta juga sangat signifikan antara forgiveness serta juga psychological well-being. Hasil penelitian mendukung hipotesis bahwasanya semakin tinggi tingkat forgiveness, semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan psikologis mahasiswa setelah menjalin hubungan tanpa status. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menghubungkan forgiveness dengan kesejahteraan psikologis.</p> <p>Kata kunci: forgiveness, psychological well-being, mahasiswa, hubungan tanpa status, korelasi.</p> 2026-04-19T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia