SUKMA : Jurnal Penelitian Psikologi https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma <div> <p align="justify">SUKMA: Jurnal Penelitian Psikologi (SUKMA Journal) is a peer-reviewed journal, published by the Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. The SUKMA Journal was first published in June 2020. This journal is published twice a year, in June and December. This journal gives readers access to download the journal content in PDF format. <br> SUKMA Journal was created as a means of communication and dissemination for researchers to publish research articles in the field of psychology. SUKMA journals are available in print and online. The language used in this journal is Indonesian.</p> </div> en-US <span style="color: #333333; font-family: 'Open Sans', sans-serif; font-size: 12.6px; font-style: normal; font-variant-ligatures: normal; font-variant-caps: normal; font-weight: 400; letter-spacing: normal; orphans: 2; text-align: left; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px; -webkit-text-stroke-width: 0px; background-color: #ffffff; text-decoration-style: initial; text-decoration-color: initial; display: inline !important; float: none;">Writers who wish to include images, tables, or parts of the text that have been published elsewhere are required to obtain permission from the copyright owner for print and online formats and to include proof that such permission has been given when submitting their paper. Any material received without such evidence will be deemed to be from the author.</span> sukmauntag1745@untag-sby.ac.id (Mamang Efendy) sukmauntag1745@untag-sby.ac.id (Mamang Efendy) Fri, 29 Aug 2025 01:51:00 +0000 OJS 3.2.1.5 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Self efficacy dan penyesuaian diri pada pekerja rantau di Bali https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma/article/view/132396 Self-efficacy is an individual's belief in their ability to manage actions to achieve goals, while adjustment refers to the individual's capacity to adapt personally and socially to a new environment. This study aims to examine the relationship between self-efficacy and adjustment among migrant workers in Bali. The research employed a quantitative approach with a correlational method. The sampling technique used was purposive sampling, involving 115 migrant workers in the Bali area. Data were collected using a self-efficacy scale and an adjustment scale. The data analysis technique used was the Spearman Rho correlation test. The results showed a significant positive relationship between self-efficacy and adjustment among migrant workers in Bali. The higher an individual's self-efficacy, the better their ability to adapt to a new environment. This finding is based on the Spearman Rho correlation coefficient, where rxy = 0.714 with a significance level of p = 0.000 < 0.05, indicating that the higher the self-efficacy, the higher the adjustment, and vice versa. Furthermore, self-efficacy contributed 43% to the variance in adjustment. Self-efficacy adalah keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mengelola tindakan untuk mencapai tujuan, sedangkan penyesuaian diri merupakan kemampuan individu beradaptasi secara pribadi dan sosial di lingkungan baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy dengan penyesuaian diri pada pekerja rantau di Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasi. Teknik penentuan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 115 pekerja rantau di wilayah Bali. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala self-efficacy dan skala penyesuaian diri. Teknik analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rho’. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara self-efficacy dengan penyesuaian diri pada pekerja rantau di Bali. Semakin tinggi self-efficacy yang dimiliki individu, maka semakin baik kemampuan mereka dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Hal ini berdasarkan hasil perhitungan korelasi r Spearman Rho’, dimana rxy = 0,714 dengan signifikansi p = 0,000 < 0,05 artinya semakin tinggi self-efficacy maka semakin tinggi penyesuaian diri dan sebaliknya semakin rendah self-efficacy maka semakin rendah penyesuaian diri. Adapun sumbangan efektif dari self-efficacy mempengaruhi penyesuaian diri sebesar 43%. Haneysyah Oktivita Wibisono, Mamang Efendy, Rahma Kusumandari Copyright (c) 2025 Haneysyah Oktivita Wibisono, Mamang Efendy, Herlan Pratikto https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma/article/view/132396 Fri, 29 Aug 2025 00:00:00 +0000 Efikasi diri dan kecemasan karir mahasiswa tingkat akhir https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma/article/view/132399 Uncertainty in obtaining decent employment can lead to increased anxiety among university students. This condition is often triggered by intense job market competition, negative perceptions of the professional world, and rising demands for individual qualifications. This study aims to identify the relationship between self-efficacy and career anxiety among undergraduate students in the final stage of their academic studies. A quantitative approach with a correlational research design was employed, involving 129 final-semester students from the undergraduate psychology program at University of 17 Agustus 1945 Surabaya, enrolled in the 2018–2019 cohorts during the study period. The instruments used were the Career Anxiety Scale developed by Tsai et al. (2017) and a self-efficacy scale based on the theoretical framework proposed by Bandura (1997). Data were analyzed using the Pearson Product Moment correlation technique. The results indicated a strong negative correlation between self-efficacy and career anxiety. Higher levels of self-efficacy were associated with lower levels of career-related anxiety. Self-efficacy accounted for 40.45% of the variance in career anxiety, suggesting a substantial influence. Ketidakpastian mendapat pekerjaan yang layak dapat menyebabkan munculnya kecemasan di kalangan mahasiswa, yang dipicu oleh persaingan kerja yang semakin ketat, pandangan negatif terhadap dunia kerja, serta meningkatnya tuntutan terhadap kualifikasi individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara efikasi diri dengan kecemasan karir pada mahasiswa yang berada pada tahap akhir studi sarjana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional pada 129 mahasiswa semester akhir program studi sarjana psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang terdaftar pada angkatan 2018-2019 selama masa periode penelitian Instrumen pengukuran penelitian ini menggunakan career anxiety scale yang dikembangkan Tsai, et al (2017) dan skala efikasi diri merujuk konsep teoritis oleh Bandura (1997). Analisis data dilakukan dengan teknik korelasi product moment. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan efikasi diri berhubungan erat dengan kecemasan karir. Semakin tinggi tingkat efikasi diri maka akan semakin rendah kecemasan karir pada mahasiswa. Efikasi diri memiliki pengaruh dengan kecemasan karir sebesar 40,45% menunjukkan adanya pengaruh yang kuat. Aldo Surya, Diah Sofiah, Hikmah Husniyah Farhanindya Copyright (c) 2025 Aldo Surya, Diah Sofiah, Hikmah Husniyah Farhanindya https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma/article/view/132399 Fri, 29 Aug 2025 00:00:00 +0000 Apakah kontrol diri berkaitan dengan cyberslacking pada siswa sekolah menengah atas? https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma/article/view/132403 This study examines the relationship between self-control and cyberslacking among high school students in Surabaya. Students' low self-control is a challenge in suppressing deviant internet use behavior during the learning process. The purpose of this study was to determine the extent to which self-control is related to deviant behavior (cyberslacking) in students. This study used a quantitative approach with a correlational design. A total of 345 high school students in Surabaya became respondents using a purposive sampling technique. Data collection was carried out using a questionnaire with a scale that had been tested for validity and reliability. The results of the analysis using the Spearman Rho test showed a significant negative relationship between self-control and cyberslacking, with a coefficient value of -309 and a significance of 0.000 (p<0.001). This means that the lower a student's self-control, the higher the tendency for them to engage in cyberslacking. Therefore, strengthening self-control is an important strategy for cyberslacking behavior and increasing students' learning focus in the school environment. Penelitian ini membahas hubungan kontrol diri dengan cyberslacking pada siswa di sekolah menengah atas di surabaya. Rendahnya kemampuan siswa untuk dapat mengendalikan diri menjadi tantangan dalam menekan perilaku menyimpang penggunaan internet dalam proses pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kontrol diri berkaitan dengan perilaku menyimpang (cyberslacking) pada siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 345 siswa SMA yang ada di Surabaya menjadi responden yang digunakan melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuisioner dengan skala yang teruji validitas dan reabilitasnya. Hasil analisis menggunakan uji Spearman Rho menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kontrol diri dengan cyberslacking, dengan nilai koefisian sebesar -309 dan signifikasi 0,000 (p<0,001). Artinya semakin rendah kontrol diri siswa, maka semakin tinggi kecenderungan siswa untuk melakikan cyberslacking. Oleh karena itu, penguatan kontrol diri menjadi strategi yang penting dalam perilaku cyberslacking dan meningkatkan fokus belajar siswa di lingkungan sekolah. Nur Ridho Aisyah, Hetti Sari Ramadhani, Tatik Meiyuntariningsih Copyright (c) 2025 Nur Ridho Aisyah, Hetti Sari Ramadhani, Tatik Meiyuntariningsih https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma/article/view/132403 Fri, 29 Aug 2025 00:00:00 +0000 Perilaku prososial: Bagaimana peran empati pada siswa sekolah menengah kejuruan? https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma/article/view/132404 An ideal educational atmosphere should foster noble values, both for children who attend Islamic boarding schools and Those that don't, prosocial behavior can make a big difference, such as a decrease in the quality of interactions, social skills, increased individuality and lack of social awareness. This study's objective is to clarify the connection between prosocial behavior and empathy. With a sample of 227 students and a population of 650 pupils, This research employs a quantitative methdology. Purposive sampling was the data collection technique used in this study. The researcher's own empathy scale, which has a Cronbachalphavalue of0.870, and a prosocial behavior scale, which was taken from Albab (2023), both have a Cronbachalphavalueof0.929. Spearmanrhoanalysis was employed in the data analysis method. The study's findings suggest that prosocial conduct and empathy are positively correlated. Suasana pendidikan yang ideal hendaknya menumbuhkan nilai-nilai luhur, baik bagi anak yang bersekolah di pondok pesantren maupun yang tidak, perilaku prososial dapat memberikan dampak yang cukup signifikan, seperti menurunnya kualitas interaksi, keterampilan sosial, meningkatnya individualitas dan kurangnya kesadaran sosial. Tujuan penelitianini ialah untuk memperjelas hubungan antaraempati dengan perilakuprososial. Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dengan populasi yang terdiri dari 650 siswa dan sampel sebanyak 227 siswa. Metode pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik pemilihan sampel secara sengaja atau purposive sampling, yang disesuaikan dengan tujuan dan kriteria tertentu.. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala perilaku prososial yang diadopsi dari Albab (2023) dengan nilai alphacronbach sebesar0,929, serta skala empati yang dikembangkan sendiri oleh peneliti dengan nilai alphacronbach sebesar 0,870. Penelitian ini menerapkan analisis korelasiSpearmanrho sebagai metode untuk menganalisis data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara empati dengan perilaku prososial. Lukmanul Hakim, Andik Matulessy, Nindia Pratitis Copyright (c) 2025 Lukmanul Hakim, Andik Matulessy, Nindia Pratitis https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma/article/view/132404 Fri, 29 Aug 2025 00:00:00 +0000 Harga diri dan perilaku konsumtif dalam pembelian produk secara online https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma/article/view/132418 <p>The development of digital technology has facilitated people's shopping activities, especially through e-commerce platforms such as Shopee, Tokopedia, and TikTok Shop. This convenience has triggered an increase in consumer behavior, particularly among students aged 18–21 who are in the phase of searching for identity and the need for social recognition. One psychological factor believed to play a role in consumer behavior is self-esteem. This study aims to determine the relationship between self-esteem and consumer behavior in online product purchases among students in Surabaya City. This study used a quantitative approach with a correlational design. The subjects were students aged 18–21, and data were collected using a self-esteem scale and a consumer behavior scale. Data analysis was carried out using correlation analysis. The results of the study indicate a relationship between self-esteem and consumer tendencies in online shopping. These findings provide an overview of the role of psychological factors in shaping student consumption patterns and serve as a basis for efforts to develop self-management education and healthy consumption among the younger generation.</p> Shania Ariffah Putri Maskani, IGAA Noviekayati, Amherstia Pasca Rina Copyright (c) 2025 Shania Ariffah Putri Maskani, IGAA Noviekayati, Amherstia Pasca Rina https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma/article/view/132418 Fri, 29 Aug 2025 00:00:00 +0000 Takut gagal masuk perguruan tinggi: Menelisik peran efikasi diri dan harapan orang https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma/article/view/132423 <p>Fear of failure is a drive to avoid failure in the form of fear. This study aims to determine whether there is a relationship between self-efficacy and parental expectations with fear of failure on college entrance exams. The research method used quantitative correlation with a number of respondents of 377 high school students who were taken using convenience sampling technique. The research scale used the performance failure appraisal inventory scale adopted from Conroy (2002) with a Cronbach alpha value of 0.885, the self-efficacy scale adopted from Bandura (1997) with a Cronbach alpha value of 0.991, and the perception of parental expectation inventory scale adopted from Sasikala and Karunianidhi (2011) with a Cronbach alpha value of 0.863 indicating good psychometric quality. The data analysis technique used multiple regression analysis. The results of the study showed a significant relationship between self-efficacy and parental expectations with fear of failure on college entrance exams. Through positive self-efficacy, students are able to reduce the fear of failure which makes students feel confident in their ability to overcome challenges. Then, through negative parental expectations, students can become stressed, which can cause mental stress, thereby increasing the fear of failure.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Ketakutan akan kegagalan merupakan dorongan untuk menghindari terjadinya kegagalan yang berupa rasa takut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara efikasi diri dan harapan orang tua dengan ketakutan akan kegagalan pada ujian masuk perguruan tinggi. Metode penelitian menggunakan kuantitatif korelasional dengan jumlah responden sebanyak 377 siswa sekolah menengah atas yang diambil dengan teknik convenience sampling. Skala penelitian menggunakan skala performance failure apprasial inventory yang mengadopsi dari Conroy (2002) dengan nilai cronbach alpha 0,885, skala efikasi diri yang mengadopsi dari Bandura (1997) dengan nilai cronbach alpha 0,991, dan skala perception of parental expectation inventory yang mengadopsi dari Sasikala dan Karunianidhi (2011) dengan nilai cronbach alpha 0,863 yang menunjukkan kualitas psikometri baik. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara efikasi diri dan harapan orang tua dengan ketakutan akan kegagalan pada ujian masuk perguruan tinggi. Melalui efikasi diri yang positif para siswa mampu mengurangi ketakutan akan kegagalan yang membuat siswa merasa yakin dengan kemampuan dirinya untuk mengatasi tantangan. Kemudian melalui harapan orang tua yang negatif dapat membuat siswa tertekan yang menimbulkan beban pikiran, sehingga mampu meningkatkan ketakutan akan kegagalan.</p> Risnanda Ayu Kinasih Suprianto, Adnani Budi Utami, Sayidah Aulia Ul Haque Copyright (c) 2025 Risnanda Ayu Kinasih Suprianto, Adnani Budi Utami, Sayidah Aulia Ul Haque https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma/article/view/132423 Fri, 29 Aug 2025 00:00:00 +0000 Workplace well-being karyawan: Bagaimana peran work engagement? https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma/article/view/132419 <p>This study aims to examine the relationship between workplace well-being and work engagement among employees. Workplace well-being refers to the physical and mental well-being that employees experience in the workplace. Meanwhile, work engagement is a positive condition in which individuals demonstrate enthusiasm, dedication, and full focus in carrying out their work. This research employed a quantitative method with a correlational design. The sampling technique used was classical random sampling, with a total of 101 employees working at a regional company in Surabaya participating in the study. The research instruments utilized were the workplace well-being scale based on the theory of Hyett &amp; Parker (2011) and the work engagement scale based on the theory of Bakker and Schaufeli (2004). The data obtained were analyzed using the Pearson Product Moment correlation test. The results showed a significant positive relationship between workplace well-being and work engagement among employees at a regional company in Surabaya. This indicates that the higher the workplace well-being, the higher the work engagement, and conversely, the lower the workplace well-being, the lower the work engagement among employees.<br><br><br></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara workplace well-being dengan work engagement pada karyawan. Workplace well-being adalah kesejahteraan baik fisik maupun mental yang didapatkan karyawan di tempat kerja. Sementara itu, work engagement adalah kondisi positif dimana individu memiliki semangat, dedikasi dan fokus penuh dalam melaksanakan pekerjaan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan classical random sampling dengan jumlah partisipan sebanyak 101 laryawan yang bekerja disalah satu perusahaan daerah yang ada di Surabaya. Instrumen penelitian ini menggunakan skala workplace well-being berdasarkan teori Hyett &amp; Parker (2011) serta skala work engagement berdasarkan teori Bakker dan Schaufeli (2004). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara workplace well-bening dengan work engagement pada karyawan disalah satu perusahaan daerah yang ada di Surabaya. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi workplace well-being maka semakin tinggi juga workengagement, demikian sebaliknya jika semakin rendah workplace well-being maka semakin rendah juga work engagement pada karyawan</p> Martha Lina Saragih, Yanto Prasetyo, Hikmah Husniyah Farhanindya Copyright (c) 2025 Martha Lina Saragih, Yanto Prasetyo, Hikmah Husniyah Farhanindya https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma/article/view/132419 Fri, 29 Aug 2025 00:00:00 +0000 Peran pola asuh demokratis dan stimulasi sosial orang tua pada anak dengan speech delay https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma/article/view/132420 <p>This study aims to examine the relationship between democratic parenting and social stimulation among parents of children with speech delay. Democratic parenting is characterized by supportive, open, and communicative behaviours, which are believed to enhanced children’s social stimulation. The study used a quantitative correlational approach with snowball methods involving 73 parents from Surabaya and Jakarta. Research instruments included a democratic parenting scale and a social stimulation scale, developed based on the theories of Baumrind and Vygotsky. The result of the Pearson Product-Moment correlation analysis showed a correlation coefficient of r = 0.630 with a significance level of p &lt; 0.01, indicating a significant positive relationship between the two variables. Therefore, the higher the level of democratic parenting applied, the greater the social stimulation received by children with speech delay.<br><br><br></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh demokratis dengan stimulasi sosial pada orang tua yang memiliki anak dengan speech delay. Pola asuh demokratis mencerminkan gaya pengasuhan yang mendukung, terbuka, dan komunikatif, yang diyakini dapat meningkatkan stimulasi sosial anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan metode snowball kepada 73 orang tua di Surabaya dan Jakarta. Instrumen penelitian ini meliputi skala pola asuh demokratis dan skala stimulasi sosial yang disusun berdasarkan teori Baumrind dan Vygotsky. Hasil analisis menggunakan korelasi Pearson Product Moment yang menunjukkan koefisien korelasi sebesar r = 0.630 dengan signifikansi p &lt; 0.01, yang berarti terdapat hubugan positif yang signifikan antara kedua variabel. Dengan demikian, semakin tinggi penerapan pola asuh demokratis, maka semakin besar pula stimulasi sosial yang diberikan kepada anak dengan speech delay.</p> Dyah Asih Wulandari, IGAA Noviekayati, Amherstia Pasca Rina Copyright (c) 2025 Dyah Asih Wulandari, IGAA Noviekayati, Amherstia Pasca Rina https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma/article/view/132420 Fri, 29 Aug 2025 00:00:00 +0000 Kematangan emosi dan ketahanan keluarga pada pelaku pernikahan dini di wilayah masyarakat pesisir https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma/article/view/132422 <p>Emotional maturity is an individual's ability to regulate and express their emotions proportionally and appropriately, characterized by strong self-control, while family resilience is a family's ability to protect itself from various threats and problems that arise from within the family environment. This study aims to determine the relationship between emotional maturity and family resilience in early marriage perpetrators in Tlocor Hamlet, Sidoarjo. This study uses a quantitative correlational approach. The sampling technique uses purposive sampling with a sample size of 67 female respondents who have married at an early age. Data collection was carried out using a scale of emotional maturity and family resilience. The data analysis technique uses the product moment correlation test. The results of this study indicate that there is a significant positive relationship between emotional maturity and family resilience in early marriage perpetrators. The higher the level of emotional maturity an individual has, the stronger the family resilience.</p> <p>&nbsp;</p> <p>kematangan emosi merupakan kemampuan individu untuk mengatur dan mengekspresikan emosinya secara proporsional dan sesuai dengan ditandai dengan adanya pengendalian diri yang kuat, sedangkan ketahanan keluarga merupakan kemampuan suatu keluarga dalam melindungi dirinya dari berbagai ancaman dan permasalahan yang muncul dari dalam lingkungan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kematangan emosi terhadap ketahanan keluarga pada pelaku pernikahan dini di Dusun Tlocor Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Teknik penentuan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 67 responden perempuan yang telah menikah di usia dini. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala kematangan emosi dan ketahanan keluarga. Teknik analisis data menggunakan uji korelasi product moment. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara kematangan emosi dengan ketahanan keluarga pada pelaku pernikahan dini. Semakin tinggi tingkat kematangan emosi yang dimiliki individu, maka semakin kuat pula ketahanan keluarganya.</p> Navyliadel Sapphire Akilla Putri , Mamang Efendy, Rahma Kusumandari Copyright (c) 2025 Navyliadel Sapphire Akilla Putri , Mamang Efendy, Rahma Kusumandari https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma/article/view/132422 Fri, 29 Aug 2025 00:00:00 +0000 Cyberslacking di kalangan pelajar: Bagaimana peran stres dan boredom? https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma/article/view/132424 <p>The fact that the internet is used for non-academic activities during learning sessions indicates a shift in students’ study behaviour. Cyberslacking, defined as the use of digital technology for personal purposes during learning, is one such behaviour. The purpose of this study is to examine how academic stress and boredom influence cyberslacking among upper secondary school students. A quantitative approach with a correlational design was employed. The sample was determined through purposive sampling, comprising 167 Year 11 students selected based on the school’s considerations. Instruments included a boredom scale, an academic stress scale, and a cyberslacking scale, all grounded in psychological theory and tested for validity. Multiple linear regression was applied to analyse the data. The findings reveal that both academic stress and boredom affect cyberslacking; however, only academic stress exerts a statistically significant impact. This suggests that academic stress is the primary driver prompting students to disengage from learning via the internet. Schools are encouraged to devise strategies to manage stress and adopt more engaging teaching approaches to curb such behaviour.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Fakta bahwa internet digunakan untuk aktivitas non-akademik selama proses pembelajaran memperlihatkan bahwa perilaku belajar siswa berubah. Cyberslacking, yang berarti memakai teknologi digital untuk keperluan pribadi saat belajar, ialah salah satu bentuk perilaku tersebut. Tujuan penelitiannya guna menganalisa bagaimana stres akademik dan kebosanan memengaruhi perilaku cyberslacking siswa di Sekolah Menengah Atas. Studi ini memakai metodologi kuantitatif dengan desain korelasional. Penentuan sampelnya memakai purposive sampling, subjek penelitian terdiri dari 167 siswa kelas XI yang dipilih berdasar kepada pertimbangan sekolah. Alat yang digunakan termasuk skala kebosanan, skala stres akademik, dan skala cyberslacking, yang didasarkan pada teori psikologi dan telah diuji validitasnya. Regresi linier berganda digunakan guna menganalisa datanya. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa stres akademik dan kebosanan berdampak pada cyberslacking. Namun, hanya tekanan akademik yang terbukti memiliki dampak yang signifikan. Hasilnya memperlihatkan bahwa stres akademik ialah faktor utama yang mendorong siswa untuk menghindari internet. Sekolah harus membuat strategi untuk mengendalikan stres dan memakai pendekatan pembelajaran yang lebih menarik untuk menghentikan perilaku ini.</p> Cintya Ma’alis Safira, Andik Matulessy, Suhadianto Suhadianto Copyright (c) 2025 Cintya Ma’alis Safira, Andik Matulessy, Suhadianto Suhadianto https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sukma/article/view/132424 Fri, 29 Aug 2025 00:00:00 +0000